Salin Artikel

Ibunda Jokowi Sujiatmi Notomiharjo dan Warisan Nilai Mendidik Keluarga

KOMPAS.com - Di tengah perjuangan menghadapi krisis bangsa karena pandemi virus corona, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali berduka. Sang ibunda, Sujiatmi Notomiharjo, harus berpulang ke sisi-Nya pada pada Rabu (25/3/2020).

Sujiatmi meninggal dunia dalam usia 77 tahun. Ia merupakan anak bungsu dan perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara pasangan Wirorejo dan Sani. Ia merupakan seorang ibu yang sukses melahirkan seorang pemimpin bangsa dengan nilai kerja keras, kesederhanaan hingga kejujuran.

Merangkum dari lama Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), inilah nilai-nilai yang diterapkan Sujiatmi dalam mendidik anak-anaknya.

Kejujuran dan kesederhanan

Kala ditanya apa resepnya dalam mendidik anak-anak, Sujiatmi mengatakan kejujuran dan ojo milik (tidak tergiur memiliki) menjadi nilai utama yang ditekankan kepada semua anaknya, termasuk kepada Jokowi sang anak sulung.

"Yang penting, mendidik anak itu harus jujur di segala bidang. Ojo milik punya orang lain yang bukan hakmu. Dari kecil, anak-anak saya didik yang bukan hakmu jangan kamu ambil. Jangan seneng punya orang lain,” kata Sujiatmi dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Hingga Jokowi terpilih menjadi Wali Kota Solo dan menjabat sebagai Presiden RI, Sujiatmi selalu berpesan untuk selalu amanah.

"Sepuluh tahun kok naik pangkat tiga kali. Kamu harus bersyukur jangan menggak-menggok (beoak-belok), lurus saja. Jangan aneh-aneh diberi amanah sama rakyat, sama Allah. Dijalankan dengan baik," kata Sujiatmi kala itu.

Selama mendidik anak-anak, Sujiatmi juga tak gampang menjanjikan sesuatu. Tidak ada janji hadiah kenaikan kelas, juga tidak ada iming-iming sesuatu agar anak-anaknya berhenti menangis.

Disiplin dan bersyukur

Disiplin juga menjadi salah satu nilai yang diajarkan Sujiatmi kepada anak-anaknya. Rukun dan saling membantu adalah kunci Sujiatmi menyatukan keempat anaknya dalam satu ikatan persaudaraan yang kuat.

Anak yang berkecukupan, kata Sujiatmi, harus membantu saudaranya.

Ia mengajarkannya dengan cara mengajak anak-anak banyak bersyukur agar mereka mengenal kata cukup.

“Harta itu titipan. Jangan dianggap kalau kita punya harta itu punya kita sendiri. Harta itu titipan Gusti Allah. Saya itu nggak patiyo (tidak terlalu) mikir harta. Anak-anak saya biar nanti cari sendiri, sudah dikasih rezeki sendiri. Orang hidup itu kalau sudah cukup ya sudah. Jangan serakah-serakah, cukup saja,” katanya.

Kepatuhan dan bekerja keras

Menurut Sujiatmi, sikap melawan yang dilakukan anak terhadap orangtua, biasanya muncul karena kedua orangtuanya tidak kompak. Saat anak dimarahi ayahnya, ibunya membela, atau sebaliknya ayah membela anak atas keputusan ibu.

Karena itulah dalam mendidik kepatuhan, Sujiatmi dan sang suami memilih selalu konsisten. Apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan. Namun, satu hal yang dijaga, ia tak menggunakan kekerasan fisik dalam mendidik.

Konsistensi juga ditunjukkan Sujiatmi dan sang suami dalam hal kerja keras. Mereka menunjukkan betapa sulitnya dalam berusaha, namun selama berusaha diusahakan tak pernah mengeluh di depan anak-anak.

Ketika anak-anak menghadapi masalah pun, Sujiatmi juga berusaha tidak menyalahkan anak-anak ketika mereka menghadapi persoalan.

“Saya ndak pernah nutuh (menyalahkan). Orang yang sedang menghadapi persoalan itu sudah susah. Kalau kita nutuh, itu bikin ia makin susah,” kata Sujiatmi.

Anak harus berpendidikan tinggi

Dalam kesehariannya mendidik dan mengurus anak, Sujiatmi juga merupakan seorang ibu pekerja keras yang membantu suaminya dalam berdagang kayu.

“Saya hanya membantu suami. Suami mencari glondong (kayu), saya di perusahaan. Kakak saya, usaha kayunya jauh lebih besar. Bagi saya yang penting cukup untuk sekolah anak-anak, tidak harus kaya raya,” tutur Sujiatmi.

Sujiatmi kecil memang lahir dari keluarga pedagang kayu di Dusun Gumukrejo, Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Sujiatmi adalah perempuan satu-satunya, dari tiga bersaudara yang dilahirkan pada 15 Februari 1943.

Jarak rumahnya dengan SD Kismoyo, tempat ia bersekolah cukup jauh yakni mencapai 5 kilometer. Terkadang, Sujiatmi pergi ke sekolah berjalan kaki, tetapi kadang juga menggunakan sepeda.

Seperti diungkapkan Sujiatmi dalam buku Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi (2014), karya Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti, Sujiatmi tidak ingat apakah ia bersekolah dengan bersepatu dan berseragam.

Yang ia ingat, rambut hitamnya selalu dikepang dua oleh ibunya. Pelajaran berhitung adalah yang paling ia sukai. Ia selalu merindukan kehadiran sang guru.

Ia berusaha menjadi yang pertama mengacungkan jarinya untuk mengerjakan soal-soal hitungan di depan kelas. Kemampuan berhitung itulah yang menjadi kelebihan Sujiatmi dalam membantu suaminya membangun usaha kayu.

Namun, ketika usaha keluarganya berkembang, ayahnya membawa seluruh keluarga ke Solo. Sejak itu pula, Sujiatmi menekuni usaha kayu dan putus sekolah.

Walau tak lulus sekolah, Sujiatmi memiliki keinginan kuat untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga pendidikan tinggi.

“Saya sudah ndak lulus, jadi anak saya semua harus lulus perguruan tinggi. Meskipun mereka nantinya jadi pedagang atau apa pun, tetap harus lulus dulu, karena orangtuanya dua-duanya ndak lulus,” kata Sujiatmi.

https://edukasi.kompas.com/read/2020/03/26/151022371/ibunda-jokowi-sujiatmi-notomiharjo-dan-warisan-nilai-mendidik-keluarga

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.