Salin Artikel

Guru, Lakukan Manajemen "MAU" agar Belajar dari Rumah Efektif

KOMPAS.com - Survei cepat yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendapati, saat ini masih terdapat 20 persen guru dan 40 persen siswa yang mengalami kendala dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim pun mengajak semua pihak termasuk orang tua, guru, dan murid untuk keluar dari zona nyaman dan beradaptasi dengan perubahan.

"Untuk pertama kalinya kita melihat dari dua sisi, orang tua untuk pertama kalinya sadar betapa sulitnya mendidik anak. Di sisi lainnya, guru juga menyadari untuk pertama kalinya, bahwa tanpa adanya peran orang tua yang baik, maka pendidikan anak ini tidak akan sukses," terang Mendikbud seperti dilansir dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, beberapa waktu lalu.

Untuk menjembatani kondisi tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Tanoto Foundation menyelenggarakan webinar Guru Berbagi.

Tema yang diusung pada webinar hari ini, Selasa (12/5/2020), ialah Manajemen Pembelajaran Daring untuk Sekolah Pedesaan, di mana sebagian murid tak memiliki akses teknologi .

Spesialis Pelatihan Guru Program PINTAR Tanoto Foundation Golda Eva Grace Simatupang yang hadir sebagai salah satu pembicara mengatakan, selama pandemi Covid-19, proses belajar tetap bisa dilakukan.

Untuk itu, lanjur dia, guru harus memiliki dua metode, yakni pembelajaran secara daring (online) maupun luring (offline).

"Jangan sampai anak yang tidak memiliki akses teknologi tidak belajar. Ada dua skenario, yakni daring dan luring," katanya dalam webinar Guru Berbagi, Selasa (12/5/2020).

Guru, lakukan manajemen pembelajaran MAU

Golda melanjutkan, agar kegiatan belajar tetap bisa berlangsung dari rumah, baik itu daring atau luring, guru bisa melakukan manajemen pembelajaran "MAU".

"Tugas utama guru PJJ mengelola kelas semoga terjadi peristiwa belajar walau kelasnya dilakukan jarak jauh," katanya.

MAU, lanjut dia, merupakan singkatan dari Mengondisikan, Aktifkan dan Umpan Balik.

1. Mengondisikan

Mengondisikan ialah mengajak anak siap untuk belajar dengan metode yang digunakan oleh guru, baik daring maupun luring.

Untuk daring, guru perlu menjelaskan pada anak terkait memahami cara penggunaan aplikasi, menjelaskan aturan belajar, memberi penjelasan tentang kegiatan belajar setiap hari, bahkan membuat video tutorial untuk menjelaskannya.

Sedangkan pada proses luring, guru bisa memberikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang jelas dan dapat dipahami anak. Tetapkan pula berapa lama waktu pengerjaan dan ketentuan mengumpulkan LK tersebut.

2. Aktifkan

Lalu yang kedua adalah Aktifkan, yakni bagaimana guru membangun proses pembelajaran yang aktif sehingga membuat anak semangat.

Golda tak menyarankan guru hanya memberi tugas berupa membuat rangkuman untuk siswa yang belajar melalui TVRI misalnya. Walau menjadi cara termudah bagi guru, namun itu membuat proses belajar siswa menjadi tidak bermakna.

Golda memberi contoh, untuk pembelajaran luring, anak bisa diberi penugasan sebagai reporter untuk mewawancara orang di rumah terkait pengeluaran belanja setiap hari. Lalu, dari data yang dimiliki anak, pandu anak mengubah hasil wawancara menjadi tabel dan diagram batang.

Panduan tersebut bisa diberikan secara rinci dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak melalui LKPD.

"Jangan berikan materi dengan bahasa langit yang anak sulit pahami, melainkan anak diajak beraktivitas untuk memahaminya," saran Golda.

Untuk daring, anak bisa diminta untuk memperlihatkan hasil kerjanya dan menjelaskannya secara daring sehingga terjadi interaksi antara murid dan guru di ruang live.

3. Umpan balik

Terakhir ialah Umpan Balik. Baik daring maupun luring, guru perlu memberikan umpan balik.

"Umpan balik adalah proses yang sangat penting. Bagaimana anak bisa tahu sudah baik belum apa yang dia kerjakan bila tak ada tanggapan guru," papar Golda.

Golda menjelaskan, umpan balik dapat meningkatkan kompetensi anak melalui perbaikan hasil belajar. Tanpa umpan balik dari guru, perbaikan belajar tak akan ada.

Untuk metode daring, guru bisa mengevaluasi secara langsung hasil kerja siswa. Sedangkan pada metode luring, guru bisa memberikan lembar refleksi yang harus diisi oleh anak, berupa apa materi yang menurutnya sulit dan kesulitan dan belajar yang ia hadapi.

Lalu, guru memberikan tanggapan dari hasil refleksi yang diberikan oleh anak. Sehingga, komunikasi guru dan murid tetap berlangsung.

https://edukasi.kompas.com/read/2020/05/12/151754171/guru-lakukan-manajemen-mau-agar-belajar-dari-rumah-efektif

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.