Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Buta Matematika Bebani Indonesia Rp 994,28 Triliun per Tahun

KOMPAS.com - Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) menilai Indonesia terbebani sebesar Rp994,28 triliun per tahun akibat dari masalah buta matematika dan membaca di Indonesia.

Beban ini diberikan dalam berbagai bentuk, mulai subsidi dan biaya di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Sebaliknya, jika masalah buta matematika dan membaca dapat diintervensi sejak dini di tingkat sekolah dasar maka negara bisa menghemat biaya sebesar Rp662,85 triliun per tahun.

Penegasan ini disampaikan Presidium Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka Ahmad Rizali) usai Pelatihan Online ToT Gernas Tastaka Tahap I dalam Program “Maluku Terbebas Buta Matematika” Sabtu (13/6).

Program pelatihan online ini akan dilaksanakan sebanyak enam tahap hingga 13 Juli 2020.

“Jumlah siswa sekolah dasar dan madrasah sekitar 29 juta. Jika 50 persen siswa mengalami buta matematika dan membaca (illiterate), maka ongkos yang harus ditanggung negara selama hidupnya adalah Rp994,25 triliun setiap tahunnya. Beban negara ini akan jauh berkurang jika pemerintah serius memberantas kebutaan matematika dan membaca ini sejak dini dan terus-menerus, “ ujar Ahmad Rizali dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Beban ini dihitung berdasarkan variabel-variabel yang diadopsi dari riset dilakukan KPMG Foundation. KMPG Foundation menghitung beban negara yang mesti dikeluarkan setiap kegagalan dalam literasi seperti matematika dan membaca.

"KPMG bikin studi di Inggris kondisi yang sama sg murid di Indonesia. Akhirnya ada beban negara dlm euro, kupakai (sebagai) rujukan, kurupiahkan," kata Ahmad saat dikonfirmasi Kompas.com.

Dalam studi KMPG Foundation, beban Inggris untuk memperbaiki kegagalan akibat literasi sebesar 5.000 Euro dan 43.000 Euro per orang hingga usia 37, dan antara 5.000 euro dan
64.000 euro seumur hidup. Selama tahun, Inggris harus menanggung beban dengan total 198 juta euro hingga 2,5 miliar euro per tahun.

"Dihitung dari berapa banyak murid (di Inggris dan Indonesia) yang kondisinya sama. Di Indonesia, total murid SD/MI itu 29 juta dan yang kondisinya sama paling sedikit 55 persen, dikalikan aja dengan unitcost Euro di Inggris," tambahnya.

Menurutnya dalam berbagai uji kompetensi, siswa Indonesia masuk dalam rapor merah total. Uji kompetensi yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (2019) menunjukkan sebanyak hampir 80 persen siswa kelas 2 SMP (15 tahun) masuk kategori buta matematika dan membaca.

Hasil uji kompetensi Kemendikbud ini selaras dengan hasil uji PISA pada tahun 2010 yang menunjukkan angka 78 persen siswa Indonesia di bawah angka 2 alias functionally illiterate. Laporan World Bank pada 2019 juga menunjukkan warna serupa.

Menurutnya, kondisi pendidikan dasar dan menengah di Indonesia sudah sampai pada tahap kronis dan sangat mengkhawatirkan. Rizal menyebutkan negara harus segera melakukan tindakan darurat.

“Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan. Kondisi ini sudah terjadi 20 tahun lebih. Negara harus turun tangan, semua elemen negara. Tidak bisa pemerintah saja. Pemerintah belum memiliki sense kedaruratan nasional terhadap buta matematika dan membaca ini,” tegasnya.

Diperparah Covid-19


Kondisi ini semakin diperparah ketika pandemi Covid-19 terjadi. Substansi pendidikan dasar makin buruk. Teknologi informasi hanya alat semata tetapi substansi pendidikannya tidak terselesaikan dengan baik.

“Jika hal ini dibiarkan, maka situasinya akan semakin sulit ketika pascapandemi. Seolah-olah teknologi informasi sudah menggantikan segalanya dan menjadi solusi kekinian. Padahal sejatinya tidak,” ujar Ahmad.

Ia berharap semua pihak mulai memberikan perhatian serius pada pendidikan dasar secara nasional. Parlemen yang membidangi pendidikan juga diharapkan serius mengkaji kondisi pendidikan dasar secara nasional, baik di pasa pandemi dan pascapandemi.

Prediksi Indonesia sebagai negara besar dan maju pada 2050 dengan PDB USD 7,3 triliun dianggap tidak ada artinya. Sebab jika kondisi kebutaan ini tetap tidak diselesaikan, maka negara akan terbebani biaya sosial dan ekonomi sebesar USD 2, 13 triliun atau hampir 29 persen.

Tidak hanya itu, negara maju dengan PDB sebesar itu hanya bisa dicapai oleh negara dengan penduduk yang memiliki kompetensi lebih baik dan pekerjaan dengan pendapatan yang baik.

Gernas Tastaka berikan pelatihan matematika untuk guru

Gernas Tastaka menyelenggarakan program Maluku Terbebas Buta Matematika. Bentuk pelaksanaan program yaitu pelatihan yang dilaksanakan 6 Tahap.

Pada Tahap 1, ToT (Training of Trainer) dilaksanakan secara online menggunakan aplikasi Zoom dan diikuti sekitar 40 peserta.

Dua narasumber yaitu Dhita Puti Sarasvati dan Siti Andriyani. Program ini dilaksanakan atas kerjasama organisasi swadaya masyadakat Heka Leka yang berdomisili di Maluku.

Gernas Tastaka adalah sebuah gerakan yang diinisiasi oleh aktivis pendidikan dan dijalankan oleh elemen masyarakat secara multilevel dengan tujuan memberantas buta matematika di jenjang pendidikan dasar dengan mengedepankan konsep yang lebih bernalar, sederhana dan mendasar.

Gernas Tastaka melakukan mengubah mindset, dan meningkatkan kompetensi pembelajaran matematika dengan metode konkret, gambar dan abstrak kepada guru.

Guru alumni pelatihan inilah yang mengubah pembelajaran di kelas-kelas sekolah dasar dan mencerdaskan siswa-siswinya.

https://edukasi.kompas.com/read/2020/06/15/140708471/buta-matematika-bebani-indonesia-rp-99428-triliun-per-tahun

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke