Salin Artikel

Kerja Sama Ditjen Vokasi, GSM: Anak-Anak Kita Jangan Jadi Buruh di Negeri Sendiri

KOMPAS.com - SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) diharapkan mampu melakukan transformasi pendidikan sehingga mampu melahirkan lulusan yang berguna untuk dirinya, bangsa dan masyarat.

Hal ini mengemuka Workshop Penguatan Eksosistem SMK, hasil kerja sama antara Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud dan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) pada 30 September hingga 2 Oktober 2020 di Kaliurang, Yogyakarta.

Acara yang diikuti Kepala Balai Besar/Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV/BPPMPV) dan Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ini bertujuan mendukung penciptaaan ekosistem pendidikan positif guna menyiapkan peserta didik SMK yang berkarakter dan sesuai kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI).

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) merupakan gerakan sosial bersama guru untuk menciptakan budaya belajar yang kritis, kreatif, mandiri dan menyenangkan di sekolah.

Gerakan ini mempromosikan dan membangun kesadaran guru-guru, kepala sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar ilmu pengetahuan dan bekal ketrampilan hidup agar anak-anak menjadi pembelajar yang sukses.

Belajar keberhasilan pendidikan Haryana, India

Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM mengingatkan pendidikan harus menjadi tempat siswa bisa mengeluarkan talenta terbaik dari diri mereka, baik bakat, passion, penalaran dan kompetensi yang dibutuhkan untuk hidup ke depan.

"Saya tidak rela anak-anak kita sekadar menjadi buruh di negerinya sendiri," tegas Rizal.

Untuk itu ia mendorong pendidikan yang mampu membuat siswa bisa menjadi diri sendiri, dan menemukan guru yang membantu mengarahkan siswa serta didukung suasana lingkungan belajar positif.

Rizal mengungkapkan guru, murid, orang tua, pengawas, bahkan birokrasi menjadi elemen penting yang perlu bergerak dan terlibat. "Jadi pelaku gerakan perubahan ini adalah setiap elemen yang tergabung," ujarnya.

Ia menandaskan, "tanggungjawab apakah perubahan akan terjadi atau tidak, tergantung pada keseriusan kita semua yang ada di ruangan ini, para kepala Balai Besar, Widyaswara, Kepala sekolah SMK, dan terutama pak Dirjen dan jajarannya sebagai pemegang otoritas dan regulator kebijakan."

Dalam pemaparannya, Rizal mengungkapkan Indonesia dapat belajar dari keberhasilan Haryana, salah satu negara bagian di India.

"Kita tahu bahwa saat ini sekitar 40 persen tenaga ahli TI di dunia di suplai oleh India. Itulah kekuatan pendidikan," ujarnya.

Rizal menjelaskan, proses pendidikan  yang terjadi di Haryana adalah proses bertukar praktik antar birokrasi dan guru. "Birokrasi tidak lagi menuntut kepatuhan administrasi, melainkan terlibat dalam praktik pembelajaran sehari-hari," kata Rizal.

Selain itu, terjadi perubahan mindset dan perilaku guru untuk selalu merevisi dan mengevaluasi proses pengajarannya secara organik akibat dorongan internal dan eksternal yang kuat. 

"Ada dampak perubahan murid yang lebih senang belajar dan benar-benar mendapatkan manfaat dari sekolah," ungkap Rizal.

Peran sebagai motor dan agen perubahan

Dalam kesempatan sama, Dirjen Vokasi Wikan Sakarinto menekankan peran penting BBPPMPV/BPPMPV dan kepala sekolah SMK sebagai motor penggerak dan agen perubahan pendidikan vokasi. 

“Kepala BBPPMPV/BPPMPV harus memiliki visi dan mindset sebagai agen perubahan agar dapat menjadi motor penggerak di lembaganya dalam menciptakan agen perubahan di lembaganya maupun di lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah menengah kejuruan,” tegas Wikan.

Untuk menjalankan peran sebagai agen perubahan tersebut maka diperlukan perubahan mindset yang revolusioner selayaknya seorang CEO perusahaan besar yang terbuka dengan perubahan.

Wikan menekankan hal ini menjadi penting karena laju perkembangan industri sangatlah cepat dan diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang selalu adaptif dengan perkembangannya.

“Agar nantinya proses link and match antara satuan pendidikan vokasi dengan dunia industri dapat berjalan sustain dan selaras maka peran para pemimpin baik kepala balai maupun kepala SMK yang memiliki visi dan mindset selayaknya seorang CEO menjadi sangat penting,” kata Wikan.

“Kepala sekolah juga harus memiliki karakter yang kuat sebagai pembangun yang mencakup fungsi sebagai motivator, inovator, organizing dan controlling dalam pelaksanaan pembelajaran di SMK,” ujar Wikan.

Lebih lanjut Wikan mengapresiasi kolaborasi antara Ditjen Vokasi dengan GSM dalam menyelenggarakan Workshop Penguatan Eksosistem SMK Melalui ‘Gerakan Sekolah Menyenangkan’ bagi pengelola balai dan SMK.

“Sinergitas antara pemerintah dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk penggiat pendidikan di GSM merupakan keniscayaan yang harus dilakukan untuk mendorong perubahan ekosistem pendidikan yang mendukung terwujudnya link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dunia industri”, ujar Wikan.

https://edukasi.kompas.com/read/2020/09/30/222129171/kerja-sama-ditjen-vokasi-gsm-anak-anak-kita-jangan-jadi-buruh-di-negeri

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.