Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Merdeka Belajar di PAUD adalah Merdeka Bermain

KOMPAS.com - Selama ini, banyak pendapat anak usia dini mulai dikenalkan baca, tulis, hitung (calistung). Padahal, usia pendidikan anak usia dini (PAUD) itu adalah usia bermain.

Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Iwan Syahril pada kerja sama Direktorat GTK PAUD dengan Astra sebagai rangkaian memperingati Hari Guru Nasional.

Menurut Iwan, menerjemahkan konsep Merdeka Belajar dalam PAUD itu adalah Merdeka Bermain. Sebab, dunia anak itu adalah dunia bermain.

"Dalam konteks pendidikan anak usia dini, Merdeka Belajar itu adalah Merdeka Bermain. Karena bermain adalah belajar," ujar Iwan Syahril seperti dikutip dari laman Ditjen GTK Kemendikbud, Kamis (29/10/2020).

"Nah ini merupakan sebuah tema yang penting untuk anak usia dini yang harus terus kita kuatkan. Karena kita ingin melawan miskonsepsi-miskonsepsi untuk anak usia dini," imbuhnya.

Belajar filosofi Ki Hajar Dewantara

Dikatakan Iwan, salah satu miskonsepsi itu diantaranya miskonsepsi terkait calistung untuk anak usia dini.

"Miskonsepsi yang sering kita lihat adalah bahwa pendidikan untuk anak usia dini ini terlihat hanya untuk membaca, menulis, berhitung, calistung," katanya.

Padahal ini berbeda sebenarnya dengan ilmu pendidikan anak usia dini yang harus lebih menguatkan aspek lebih integratif dan yang lebih melakukan bermain.

Lebih lanjut, Iwan Syahril menjelaskan mengenai filosofi Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Tentu dapat menjadi referensi mengenai penerapan Merdeka Belajar untuk anak usia dini.

Dari filosofi Ki Hajar Dewantara itu dapat dilihat bahwa berpusat kepada anak. Selain itu, bagaimana anak menjadi hal yang terpenting dalam proses pendidikan.

"Ki Hajar menggunakan kata-kata taman. Taman Siswa, Taman Guru, karena beliau melihat proses pendidikan itu bukan hanya PAUD, tapi secara umum itu adalah sebuah tempat yang menyenangkan," tambahnya.

Sinergi dengan orang tua

Dikatakan, kata-kata taman terinspirasi dari pendiri taman kanak-kanak, Friedrich Froebel. Bahwa bermain adalah belajar, itu adalah hal yang esensial. Jadi tidak kaku dan lebih holistik.

Tak hanya itu saja, miskonsepsi lainnya, menurut Iwan Syahril bahwa pendidikan adalah tanggung jawab sekolah saja.

"Lalu juga miskonsepsi bahwa tanggung jawab untuk pendidikan sekolah termasuk dalam anak usia dini, biasanya diserahkan sepenuhnya kepada sekolah," katanya.

"Padahal yang ideal sebenarnya ada sinergi antara orang tua dan komunitas dalam berkolaborasi dalam pendampingan anak,” jelas Iwan Syahril.

https://edukasi.kompas.com/read/2020/10/30/081836871/merdeka-belajar-di-paud-adalah-merdeka-bermain

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com