Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Klub Literasi Sekolah, Upaya Memperkuat Literasi lewat Kampus Merdeka

KOMPAS.com - Persoalan penguatan literasi menjadi tantangan dunia pendidikan di Indonesia mengingat indikator PISA 2018 terkait hal ini masih menempatkan Indonesia di kelompok bawah pemeringkatan.

Menyadari hal ini, South East Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) melalui South East Asian Asian Quality Improvement for Teacher in Language (SEAQIL) menginisiasi program Klub Literasi Sekolah (KLS) guna mendongkrak kompetensi literasi siswa.

Dalam program KLS ini, SEAQIL juga menggandeng pendidikan tinggi sebagai wadah implementasi Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka yang telah dicanangkan Kemendikbud.

“Pembentukan KLS merupakan respons SEAQIL terhadap kebijakan Kemendikbud, yakni Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, dan penetapan Asesmen Nasional dengan literasi sebagai salah satu komponen penilaian," ujar Direktur SEAQIL, Luh Anik Mayani.

Hal ini disampaikan Luh Anik saat membuka sosialisasi KLS ke perguruan tinggi dan komunitas literasi secara daring pada Jumat, 23 Januari 2021.

Dalam kesempatan yang sama disampaikan pula rencana kerja sama (MOU dan MOA) SEAQIL dengan lima perguruan tinggi, yakni Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Universitas Al-Azhar Indonesia. 

Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka

Deputi Direktur Administrasi, Misbah Fikrianto, mempertegas pernyataan Luh Anik bahwa KLS mendukung realisasi kebijakan Kampus Merdeka, khususnya dalam hal hak belajar tiga semester di luar program studi yang tertuang dalam Permendikbud No. 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

"Mahasiswa diberikan hak untuk mengambil kegiatan selama 3 semester diluar program studinya, termasuk didalamnya Magang Mahasiswa, pengembangan softskill, dan lainnya," jelas Misbah.

Luh Anik menambahkan, untuk Kampus Merdeka, KLS akan membuka peluang program magang bagi mahasiswa jurusan bahasa dan jurusan lain yang relevan dengan aktivitas KLS.

Luh Anik menyampaikan, pihaknya merekrut mahasiswa untuk kemudian dilatih menjadi pendamping/instruktur KLS.

Luh Anik kemudian menyampaikan harapannya bahwa SEAQIL memerlukan dukungan dari perguruan tinggi, sehingga SEAQIL dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa yang tertarik mengambil program magang ini, yakni KLS.

“SEAQIL juga membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi lain yang memiliki jurusan bahasa atau jurusan lain yang relevan dengan aktivitas KLS,” imbuh Luh Anik.

Sebelumnya, SEAQIL melalui siaran Radio Suara Edukasi kerja sama dengan Pusdatin Kemendikbud telah melakukan sosialisasi terkait program KLS ini. “Dari sosialisasi ini terealisasi ada 150 sekolah dari 12 provinsi di Indonesia yang tertarik mengikuti KLS,” ungkapnya.

Misbah, dalam paparannya, menegaskan sebelum menjadi pendamping, SEAQIL akan memberikan pembinaan berupa ToT (Training of Trainers) atau workshop kepada mahasiswa.

“KLS dirancang dengan hasil target nyata, yaitu siswa KLS akan membaca satu buku atau menghasilkan karya sastra pertunjukan seni dan atau karya jurnalistik seperti reportase atau poster," jelas Misbah. 

Ia menambahkan output ini akan dirangkum menjadi suatu tema dalam satu siklus pelaksanaan klub yang berdurasi selama tiga bulan sesuai waktu magang yang diperlukan mahasiswa.

Langkah kolaborasi KLS 

Dalam sesi diskusi, Prof. Didi Sukyadi, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan menyampaikan respons positif terkait program KLS yang digagas SEAQIL.

Menurut Prof. Didi, KLS adalah program yang sangat ditunggu-tunggu guna menjawab tantangan rendahnya hasil Programme for International Student Assessment (PISA) litertasi membaca siswa Indonesia.

“Semoga dengan terselenggaranya KLS ini, kita dapat menyelesaikan sedikit persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dari sisi literasi,” imbuh Didi.

Didi menyampaikan program KLS merupakan program kolaboratif sangat bagus, relevan dan menguntungkan semua pihak.

Pertama, bagi mahasiswa mendapatkan skill melalui pelatihan dari sisi literasi; kedua, mahasiswa mendapatkan kredit yang membantu menyelesaikan studi mereka.

Ketiga bagi perguruan tinggi, KLS akan memenuhi salah satu KPI/IKU di samping pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat yang merupakan bagian Tri Dharma perguruan tinggi dan keempat, sekolah/siswa mendapatkan bantuan baik dari sisi ilmu maupun tenaga dari mahasiswa.

Ke depan, SEAQIL akan menyusun panduan pelaksanaan program KLS guna mengakomodasi kebutuhan Perguruan Tinggi agar program selaras dengan program studi termasuk mekanisme dan indikator-indikator untuk konversi satuan Kkredit semester (SKS) mahasiswa.

“Melalui kesempatan yang baik ini, komitmen Bapak/Ibu sangat kami harapkan sehingga satu langkah konkret yang salah satunya dengan mengembangkan Klub Literasi Sekolah dan untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia dapat kita capai bersama, yakni mewujudkan Indonesia Emas 2045," pungkas Ni Luh.

https://edukasi.kompas.com/read/2021/01/25/095119071/klub-literasi-sekolah-upaya-memperkuat-literasi-lewat-kampus-merdeka

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke