Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Menilai Kelayakan Calon Pasangan Hidup lewat "Fit and Proper Test"

KOMPAS.com - “Cari pasangan hidup ya nggak boleh asal. Penginnya nggak ada penyesalan dan satu untuk selamanya, kan? Disusun dong Fit and Proper Test-nya. Kriterianya harus jelas dan terukur.”

Celetukan Papi waktu berkumpul di rumah Eyang terus berputar di kepala Anggun. Apalagi dia punya target menikah sebelum usia 28. Sementara usianya kini sudah 26 tahun lebih 6 bulan.

Dibantu kakak sepupunya yang juga jomblo gagal move on, Anggun bertekad menyusun Fit and Proper Test dalam Mencari Pasangan Hidup Ideal.

Istilah fit and proper test lazimnya digunakan untuk menilai kelayakan seseorang saat melamar posisi tertentu di perusahaan atau lembaga.

Tema itulah yang Soraya Nasution sajikan melalui novel ketiganya yang terbit di Elex Media Komputindo, November 2020 lalu.

Soraya mencoba mempraktikkan fit and proper test melalui sosok Anggun, seorang staf personalia yang merupakan tokoh utama dalam novelnya, dalam mencari pasangan yang ideal.

Bermula saat Anggun sering menerima undangan pernikahan dari teman-teman sebayanya, sementara dirinya masih sendirian setiap kali menghadiri resepsi di usianya yang sudah 26.

Dibantu sepupunya, Ryan, Anggun mulai menyusun fit and proper test untuk kriteria pasangannya dengan sejumlah penilaian:

1. Integration (...persen): Mempunyai tujuan hidup, menunjukkan keseriusan dalam hubungan, memiliki rencana jangka panjang bukan hanya dalam hubungan tetapi juga hal lain.

2. Scope (...persen): Memahami batasan dalam suatu hubungan seperti level of skinship dan level of intervention.

3. Schedule (...persen): Mengecek berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk PDKT, pacaran, sampai akhirnya ke level yang lebih serius. Kalau terlalu lama hanya untuk PDKT berarti he’s such a turn-off.

4. Cost (...persen): Cara doi mengatur keuangannya. Apakah dia economical, boros, atau malah pelit?

5. Quality (...persen): physical appearance bisa disesuaikan dengan selera masing-masing. Kualitas diri doi bisa dicek dari background Pendidikan, lingkungan pekerjaan, background keluarga.

6. Resource (...persen): Punya pengetahuan umum dan common sense yang baik, tidak suka mengeluhkan sesuatu yang nggak dia miliki, lebih baik lagi kalau dia punya hobi yang positif.

7. Communication (...persen): Cari tahu cara dia berkomunikasi dengan orang lain seperti cara dia berinteraksi dengan orang yang baru dia kenal, pelayan restoran, tukang parkir, orang yang mungkin lebih hebat dari dia.

8. Risk (...persen): Bagaimana cara dia mengatasi suatu masalah? Apakah bakal mencari solusi atau lari dari masalah tersebut.

9. Procurement (...persen): Bisa dicek dari cara dia memutuskan untuk membeli sesuatu, apakah berdasarkan kebutuhan atau cuma mementingkan gengsi.

10. Stakeholder (...persen): Cara dia memperlakukan pacarnya, keluarganya, keluarga pacarnya, teman-temannya, dan teman-teman pacarnya. Intinya untuk mengecek bagaimana dia bersikap pada orang-orang yang berkepentingan dengannya.

11. Chemistry (...persen): It’s crystal clear.

Meski begitu, ada satu penilaian yang sifatnya sangat subjektif dan hanya bisa dirasakan oleh si individu itu sendiri.

Untuk mengetahui detail penilaian Anggun ketika memutuskan bahwa sosok laki-laki itu sudah tepat untuknya atau belum, yuk selami lebih dalam lagi kisah Anggun dalam novel Fit and Proper Test.

Kamu bisa membeli novelnya di Gramedia.com: https://www.gramedia.com/products/city-lite-fit-and-proper-test

https://edukasi.kompas.com/read/2021/02/09/120416671/menilai-kelayakan-calon-pasangan-hidup-lewat-fit-and-proper-test

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke