Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Fresh Graduate, Simak 7 Faktor Penyebab Gagal Psikotes

KOMPAS.com - Bagi para lulusan baru (fresh graduate), pasti masih semangat dalam mencari pekerjaan. Tentu hal ini demi mengejar cita-cita.

Tetapi ketika lulus kuliah, seseorang belum tentu memiliki bekal untuk melamar pekerjaan. Selain tes wawancara, adapula psikotes yang harus dijalani.

Bahkan tak jarang fresh graduate pernah mengalami gagal dalam tes psikotes. Psikotes terkadang menjadi momok tersendiri bagi pelamar kerja.

Pada kenyataannya, banyak orang yang kesulitan dalam hal ini sehingga mereka gagal dalam tes psikotes.

Sebab, saat ini sebagian besar perusahaan menerapkan tes psikotes untuk mengukur sejauh mana kemampuan calon karyawannya. Untuk itu, diperlukan persiapan yang matang agar calon karyawan sukses dalam mengikuti psikotes.

Melansir laman UPN "Veteran" Yogyakarta (UPN Jogja), Desha Setiardi selaku praktisi Corporate HR dan pengembangan SDM yang juga alumni UPN Jogja memberikan penjelasannya dalam webinar di UPN Jogja.

Desha yang selama ini berkecimpung menangani rekrutmen dan seleksi karyawan di bidang jasa, ritel, pendidikan, dan manufaktur memaparkan materi.

Adapun materinya tentang pentingnya pembelajaran psikotes dalam kehidupan terutama ketika hendak terjun di dunia kerja, strategi dan tips menghadapi psikotes.

Pada kesempatan itu, Desha menjelaskan 7 faktor kesalahan atau penyebab gagal psikotes yang sering terjadi:

1. Peserta psikotes datang terlambat

Datang terlambat membuat Anda panik dan terburu-buru. Tes psikotes terikat waktu, jika datang terlambat kemungkingan Anda tidak dapat menyelesaikan soal tepat waktu.

2. Peserta psikotes kurang konsentrasi

Jika kurang konsentrasi dan fokus bisa dikarenakan stamina dan kesehatan yang tidak terjaga. Psikotes bukan hanya soal psikologi namun juga kesiapan jasmani.

"Siapkan kesehatan Anda, istirahat yang cukup supaya tidak mengantuk saat mengerjakan soal. Jangan lupa makanlah terlebih dahulu agar tidak kelaparan saat melakukan tes," terangnya.

3. Peserta psikotes panik dan gelisah

Jika panik karena tidak membawa alat tulis, maka persiapkan alat tulis dan juga kertas untuk corat-coret. Jika tes dilakukan secara daring maka pastikan jaringan internet stabil.

4. Peserta psikotes terburu-buru dan gelisah

Hal ini bisa terjadi ketika soal yang diberikan belum selesai dikerjakan. Biasanya soal-soal yang disajikan jumlahnya banyak. Terkadang peserta jadi kehilangan konsentrasi. Kerjakan soal yang menurut Anda mudah.

5. Peserta tidak percaya diri

Percaya diri memberikan efek positif bagi Anda. Dengan kepercayaan diri maka Anda dapat memunculkan rasa optimis.

6. Peserta tidak memberikan jawaban yang jujur saat mengerjakan

"Anda tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain. Jujurlah pada diri Anda sendiri, karena mungkin potensi yang selama ini terpendam justru terlhat saat mengerjakan semua soal psikotes," jelas Desha.

7. Tidak mempelajari pertanyaan atau pengetahuan akan soal–soal yang akan muncul

Rajinlah berlatih soal. Saat ini berbagai judul latihan soal bertebaran di toko buku, pilihlah salah satunya. Atau Anda bisa mengunduh aplikasi tes psikotes melalui telepon seluler.

https://edukasi.kompas.com/read/2021/04/20/083430071/fresh-graduate-simak-7-faktor-penyebab-gagal-psikotes

Terkini Lainnya

Seleksi Mandiri UPI 2026 Pakai Nilai UTBK SNBT Dibuka, Cek Ketentuannya
Seleksi Mandiri UPI 2026 Pakai Nilai UTBK SNBT Dibuka, Cek Ketentuannya
Edu
Diterima 9 Kampus Top Dunia, Siswa SMAK 7 Penabur Ini Bocorkan Trik Lolos Beasiswa Internasional
Diterima 9 Kampus Top Dunia, Siswa SMAK 7 Penabur Ini Bocorkan Trik Lolos Beasiswa Internasional
Edu
Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch II Dibuka, Jangkau 30 Ribu Peserta
Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch II Dibuka, Jangkau 30 Ribu Peserta
Edu
Berbagi Langkah Menuju Kampus Dunia, Mischka Aoki Luncurkan Buku 'The University Blueprint'
Berbagi Langkah Menuju Kampus Dunia, Mischka Aoki Luncurkan Buku "The University Blueprint"
Edu
Cek Link Download SPTJM buat Prapendaftaran SPMB DKI Jakarta 2026
Cek Link Download SPTJM buat Prapendaftaran SPMB DKI Jakarta 2026
Edu
Wujudkan Pendidikan Holistik, SD Labschool Cibubur Borong Piala di Ajang Sains hingga Tahfiz
Wujudkan Pendidikan Holistik, SD Labschool Cibubur Borong Piala di Ajang Sains hingga Tahfiz
Edu
Rektor Dorong Mahasiswa Vokasi UI Kuasai Bahasa Inggris
Rektor Dorong Mahasiswa Vokasi UI Kuasai Bahasa Inggris
Edu
Belum Putuskan soal Dapur MBG, UNJ Masih Pelajari Kasus Keracunan hingga Titik SPPG
Belum Putuskan soal Dapur MBG, UNJ Masih Pelajari Kasus Keracunan hingga Titik SPPG
Edu
Cara Prapendaftaran dan Pengajuan Akun SPMB DKI Jakarta 2026
Cara Prapendaftaran dan Pengajuan Akun SPMB DKI Jakarta 2026
Edu
Bantargebang Produksi Gas Metana Terbesar ke-2 di Dunia, Pakar UGM Sarankan Pemanfaatan untuk Biogas
Bantargebang Produksi Gas Metana Terbesar ke-2 di Dunia, Pakar UGM Sarankan Pemanfaatan untuk Biogas
Edu
Seberapa Ketat Persaingan Masuk Vokasi UI? Cek Prodi yang Tersedia
Seberapa Ketat Persaingan Masuk Vokasi UI? Cek Prodi yang Tersedia
Edukasi
Nama Prodi Teknik Jadi Rekayasa: Fakta, Respons Kampus dan Peningkatan Kualitas
Nama Prodi Teknik Jadi Rekayasa: Fakta, Respons Kampus dan Peningkatan Kualitas
Edu
Jadwal Lengkap SPMB DKI Jakarta 2026 Jenjang SD, SMP, SMA-SMK
Jadwal Lengkap SPMB DKI Jakarta 2026 Jenjang SD, SMP, SMA-SMK
Edukasi
Nilai Matematika TKA 2026 Rendah, Perlu Ada Pembenahan Pembelajaran
Nilai Matematika TKA 2026 Rendah, Perlu Ada Pembenahan Pembelajaran
Edukasi
Di Tengah Era Digital, Sekolah Strada Tetap Andalkan Pramuka untuk Pendidikan Karakter
Di Tengah Era Digital, Sekolah Strada Tetap Andalkan Pramuka untuk Pendidikan Karakter
Edu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com