Salin Artikel

Dosen FK Unair Beberkan Penyebab Long Covid-19 dan Upaya Pencegahannya

KOMPAS.com - Terpapar virus corona akan membawa efek berbeda bagi masing-masing orang. Bisa tanpa gejala atau biasa disebut Orang Tanpa Gejala (OTG) atau bisa juga mengalami gejala ringan, sedang hingga berat.

Bahkan pada beberapa kasus virus Covid-19, pasien masih merasakan gejala meski sudah dinyatakan negatif.

Jika gejala ini terus terjadi lebih dari 3 bulan, pasien bisa saja mengalami long Covid-19.

Dokter spesialis paru Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Alfian Nur Rosyid menjelaskan, long Covid-19 merupakan gejala sisa dari virus Covid-19.

"Long Covid-19 itu berarti pasien sudah sembuh dari Covid-19, namun masih memiliki tanda atau gejala sisa virus tersebut," kata Alfian Nur Rosyid seperti dikutip dari laman Universitas Airlangga, Senin (20/9/2021).

Keluhan pada pasien long covid-19

Menurut dia, long Covid-19 dapat terjadi di pernapasan. Misalnya keluhan pada pernapasan seperti masih batuk, masih berdahak dan juga sesak.

Selain masalah pernapasan, dokter sekaligus dosen Fakultas Kedokteran (FK) Unair ini menerangkan, pasien long Covid-19 dapat mengalami keluhan pada organ lain.

Contohnya badan terasa capek, lemas, rasa sakit kepala, diare dan lain-lain. Namun demikian, intensitasnya bisa jauh lebih berkurang dibandingkan ketika pasien masih terjangkit virus corona.

Alfian menyampaikan, long Covid-19 dapat terjadi sebanyak 1/3 sampai 2/3 kasus. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding gejala sisa pada wabah SARS dan MERS.

"Di beberapa jurnal dan literatur disebutkan bahwa penyebab long Covdi-19 berhubungan dengan faktor usia. Pada pasien penyintas Covid-19 yang usianya tua, misalnya 80 tahun. Dia masih bisa bergejala (long Covid-19)," tandas Alfian.

Peminum alkohol rentan terkena long covid-19

Alfian menambahkan, long Covid-19 berhubungan dengan derajat berat ringannya pasien ketika dirawat karena Covid-19. Terutama apabila pasien memiliki komorbid termasuk terjadinya pneumonia pada paru.

"Risiko lain yakni pada pasien yang sempat dirawat di ICU dan mengalami badai sitokin. Kondisi tersebut dapat merusak paru dan sel lainnya," tutur Alfian

Alfian mengatakan, bahwa sel-sel pasien dapat rusak meskipun hasil swab sudah negatif. Sel yang sudah rusak tidak bisa kembali sempurna dan menyisakan gejala pada penyintas Covid-19.

Alfian menyebut, risiko long Covid-19 dapat terjadi pada pasien dengan riwayat peminum alkohol.

"Karena ya sebelum Covid-19 dia mengonsumsi alkohol yang merusak sel tubuh. Fungsi liver, paru, dan organ-organ lain dapat terganggu," terang Alfian.

Upaya mencegah long covid-19

Alfian menegaskan, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah long Covid-19, antara lain:

Alfian juga memberikan beberapa saran bagi pasien Covid-19 setelah pulang dari rumah sakit.

"Sebisa mungkin melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan, melakukan rehabilitasi fisik, berjemur di pagi hari. Konsumsi multivitamin dan suplemen, terus berpikir positif, serta berdoa," pungkas Alfian.

https://edukasi.kompas.com/read/2021/09/20/152600271/dosen-fk-unair-beberkan-penyebab-long-covid-19-dan-upaya-pencegahannya

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.