Salin Artikel

Psikolog UGM: Cara Bangun "Support System" untuk Kesehatan Mental

KOMPAS.com - Psikolog Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Ida N. Faizah menjelaskan bahwa support system adalah orang yang dapat membuat kita merasa nyaman dan aman.

Orang-orang tersebut bisa teman-teman, keluarga, dan dosen. Selain itu, support system juga bisa seseorang dari komunitas yang mempunyai minat yang sama, mempunyai empati kepada kita dan kita juga bisa merasakannya.

Ida mengatakan, support system dapat meningkatkan hormon-hormon yang membuat kita bahagia. Salah satunya adalah hormon serotonin dan dopamin. Itulah mengapa, support system membantu kita memiliki mental yang sehat, terutama di tengah pandemi.

Kondisi pandemi seperti sekarang membuat kita mempunyai keterbatasan dalam hal gerak, sosial dan berbagai hal lain. Kondisi ini mengharuskan kita untuk lebih tangguh dalam beradaptasi.

“Support system sendiri adalah hubungan timbal balik yang bersifat saling membantu, simbiosis mutualisme, dan take and give. Take and give karena kita sebagai manusia tidak hanya memberi, tapi kita juga butuh untuk dipahami,” paparnya seperti dirangkum dari laman UGM.

Manfaat memiliki support system

Ida menyebutkan bahwa support system mempunyai banyak manfaat. Pertama, support system dapat membuat kita lebih termotivasi, dengan cara membuat kita lebih tahu tujuan dan fokus kita dimana yang akhirnya memacu kita untuk terus belajar dan berkembang.

Kedua, support system membuat kita merasa nyaman. Pasalnya, kita cenderung mencari hubungan sosial yang aman dan juga nyaman, dengan support system ini kita pula, ketika mendapatkan kenyaman kita akan mampu menghadapi situasi yang sulit.

Ketika kita merasa sulit, biasanya pikiran kita menjadi cemas dan banyak sekali pikiran negatif yang muncul. Bercerita kepada orang lain yang kita anggap support system akan membuat kita mendapatkan wawasan.

Terakhir, Ida menjelaskan bahwa support system dapat meningkatkan hormon-hormon yang membuat kita bahagia. Salah satunya adalah hormon serotonin dan dopamin.

“Ketika hormon-hormon kita bekerja, ini bisa meningkatkan kinerja otak kita. Bahkan kita lebih bisa beradaptasi, lebih bisa berperilaku adaptif. Jadi itu ya pentingnya bagi kita untuk tetap terhubung dengan orang sekitar, untuk tetap mencari kira-kira siapa yang membuat kita aman dan nyaman,” ujarnya.

Cara membangun support system

Support system, lanjut Ida, tidak hanya melulu orang yang bisa kita gapai secara fisik, tapi juga online. Salah satu contohnya adalah saat ini biro-biro konsultasi dari psikologi banyak yang menawarkan terapi kelompok.

"Biasanya dari terapi kelompok itu kita bisa dapat komunitas yang sesuai dengan problematika kita. Nah, biasanya di dalam terapi tersebut kegiatannya kita saling support. Tujuan dalam kelompok tersebut adalah menumbuhkan support system, akhirnya kita tidak merasa sendirian,” jelas Ida.

Menurut Ida, untuk mendapatkan support system kita harus mau membuka diri atau reach out to family or friends. Hal ini bisa berupa menyapa teman dan menanyakan kabar dengan memanfaatkan teknologi.

“Berusahalah untuk menjangkau orang-orang yang membuat kita aman dan nyaman. Memberi kabar setiap hari kepada keluarga atau teman dan membuat jadwal telepon dengan orang tua. Selain itu, kita juga bisa mencari komunitas yang memiliki persamaan dengan kita,” terang Ida.

Terakhir, Ida menyampaikan bahwa kita harus memahami jika membutuhkan support system adalah hal yang normal dan alami.

“Ketika kita membutuhkan support system, bukan berarti kita merupakan individu yang lemah, tapi itu memang merupakan kebutuhan kita. Karena kita merupakan individu yang bio sosio psiko spiritual jadi kita membutuhkannya. Jadi itu hal yang normal dan alami,” jelasnya.

https://edukasi.kompas.com/read/2021/09/22/193000471/psikolog-ugm--cara-bangun-support-system-untuk-kesehatan-mental

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.