Salin Artikel

Mahasiswa Studi Ilmu Lingkungan Didorong Kuliah Lintas Negara

KOMPAS.com - Perubahan iklim, pemanasan global, kenaikan air laut dan isu lingkungan lainnya tengah menjadi fokus negara-negara di seluruh dunia.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Washington D.C., Popy Rufaidah mengatakan bahwa sumber daya manusia di bidang lingkungan semakin dibutuhkan.

“Untuk itu, pemerintah terus mendorong adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang lingkungan melalui beasiswa LPDP,” jelas Popy seperti dilansir dari laman Kemendikbud Ristek, Kamis (10/12/2021).

Direktur Fasilitas Riset dan rehabilitasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Wisnu Sardjono Soenarso mengatakan pihaknya terus mendukung kerja sama dengan universitas di luar negeri baik bidang pendidikan maupun kerja sama riset.

“Salah satu upaya tersebut adalah melalui Pendanaan Riset Inovatif Produktif (Rispro) untuk kerja sama riset internasional. Setidaknya ada tiga yang sudah terlaksana, yakni dengan University of Melbourne, sejumlah perguruan tinggi di Inggris, dan mitra riset dari Massachusetts Institute of Technology Amerika Serikat, yang telah bekerja sama dengan IPB, UI, dan ITB,” terang Wisnu.

Merespons hal tersebut, Popy menyampaikan pihaknya juga konsisten mendukung Merdeka Belajar-Kampus Merdeka Kemendikbud Ristek, salah satunya dengan menggelar Rangkaian Webinar Bincang Karya (Bianka) ke-20 yang bertema lingkungan hidup.

Kerja sama dengan universitas luar negeri

Dalam kesempatan tersebut, Paul H. Barber dari Departement of Ecology and Evolutionary Biology, University of California, Los Angeles (UCLA) memberi gambaran tentang program studi yang kampusnya tawarkan khususnya di bidang studi ilmu lingkungan, salah satu program yang menarik banyak minat mahasiswa internasional.

Lebih jauh, dirinya juga menjelaskan berbagai fasilitas yang dikhususkan bagi mahasiswa internasional, salah satunya Deshew Center for International Students and Scholars yang memberikan pendampingan terkait dengan hal-hal akademik, logistik, kesehatan, dan lain sebagainya.

“Saya pikir salah satu tantangan terbesar bagi mahasiswa Indonesia di departemen saya, khususnya Ekologi dan Biologi Evolusi, adalah mahasiswa perlu mengembangkan semacam kontak dengan fakultas terlebih dahulu, sangat penting bagi calon mahasiswa untuk membangun hubungan dengan calon pembimbing,” tutur Paul.

Sementara itu, arah Marie Jordaan yang merupakan Assistant Professor of Development, Climate, and Sustainability dari School of Advanced International Studies, Johns Hopkins University mengatakan jika Johns Hopkins University sangat kompetitif dalam penerimaan mahasiswa internasional.

“Johns Hopkins University sangat mendukung diterapkannya integrasi antara teori dan praktik sehingga setiap sesi perkuliahan dapat mencapai tujuan pembelajaran,” terang Sarah.

Dirinya juga memperkenalkan program Development, Climate, and Sustainability (DCS) di kampusnya yang fokus pada isu-isu tentang pertumbuhan, penurunan kemiskinan, energi, lingkungan, dan perubahan iklim.

Ia juga mengungkapkan jika terdapat banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam riset-riset dan publikasi. Terkait dengan kerja sama riset, keduanya kompak mengatakan jika kesempatan itu terbuka lebar.

“Saya akan senang untuk berbicara lebih banyak dengan siapa saja yang tertarik untuk membangun koneksi yang lebih luas, kami juga memiliki pusat energi baru yang dijalankan oleh Fakultas Teknik. Jadi kami memiliki banyak hibah dan inisiatif-inisiatif baru di sana jika Anda tertarik pada bidang energi dan lingkungan, dalam hal keanekaragaman hayati,” tutur Sarah.

Popy, secara spesifik berharap jika universitas di Indonesia dapat menjalin kerja sama dengan kedua universitas tersebut.

“Saya tertarik pada pembelajaran hibrida yang Johns Hopkins University tawarkan di program pengembangan hubungan internasional mengingat perubahan iklim merupakan salah satu isu penting dan sedang banyak dibicarakan saat ini baik di kancah global,” tutur Popy.

Riset mahasiswa Indonesia di luar negeri terkait isu lingkungan

Onny N. Maryana, salah satu Penerima Beasiswa LPDP berkesempatan memaparkan risetnya mengenai Environmental DNA (eDNA), salah satu topik yang sedang banyak dibicarakan saat ini.

Untuk melakukan riset ini, tuturnya, ia menggunakan DNA metabarcoding. Konsep dasar dari pendekatan ini adalah peneliti mengumpulkan semua sampel yang berasal dari lingkungan yang terdiri dari beragam organisme.

“Kita ekstrak material genetiknya, kita amplifikasi, lalu kita sequence untuk mendapatkan basa nitrogen, lalu kita visualisasikan hingga kita bisa mendapatkan gambaran keanekaragaman hayatinya,” tambah Onny.

Onny, kandidat doktor dari UCL, memaparkan bahwa eDNA dapat digunakan untuk mengetahui keanekaragaman hayati di laut hanya dengan mengumpulkan 1 liter air. Bahkan, metode ini bisa dipakai untuk melihat ekosistem purba.

“Alasan saya mengambil topik ini adalah karena Indonesia terkenal dengan keanekaragaman hayati lautnya, sedangkan metode yang ada sekarang sangat terbatas,” tambah Onny. Maka, dirinya merasa perlu ada satu metode yang lebih relevan untuk dapat menggali kekayaan yang melimpah ini.

Onny yang pernah menempuh pendidikan magister di University of California ini mengatakan jika ia sudah lebih dulu menjalin jejaring dengan pembimbingnya.

“Sangat penting sekali untuk membangun komunikasi yang baik dengan calon pembimbing di universitas yang akan dituju,” tegasnya.

Di sisi lain, Mohammad Habib Abiyan D., kandidat doktor yang saat ini tengah menyelesaikan studinya di General International Relations, Johns Hopkins University, mempresentasikan risetnya terkait dengan isu lingkungan, yakni kenaikan permukaan air laut.

Menurut Habib, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap fenomena kenaikan permukaan air laut.

“Pertama, secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang. Kedua, dari segi sosial ekonomi, 60% penduduk Indonesia berada di wilayah pesisir. Ketiga, dari segi politik keamanan, Indonesia sangat rentan karena 12 dari 14 pangkalan angkatan laut diproyeksikan akan terdampak. Terakhir, dari segi ekosistem, keanekaragaman koral kita harus dilingkungi karena menjadi salah satu yang rentan,” jelas Habib.

Habib banyak berkecimpung di isu perubahan iklim sebagai peneliti kebencanaan di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia ini, menyimpulkan jika isu naiknya permukaan air laut ini dapat memperparah risiko tsunami.

Ia juga mengatakan jika hal ini membutuhkan komitmen politik tidak hanya di tingkat pusat tapi juga daerah dan pembagian tugas yang jelas. Terakhir, agenda ini perlu dibawa dari sekedar dialog menjadi kerja sama praktis antar negara.

Menanggapi pemilihan universitas, Habib mengungkapkan beberapa alasan.

“Sebagai peneliti, Johns Hopkins menawarkan apa yang saya butuhkan. Mereka menekankan pentingnya kebijakan. Mereka juga memberikan kesempatan untuk belajar lebih lanjut dengan praktisi, salah satunya Prof. Jordaan,” terang Habib.

Selain itu, universitas tersebut juga menawarkan peningkatan keterampilan kuantitatif yang ia butuhkan.

“Selain pentingnya menjalin komunikasi dengan profesor di universitas target, membangun koneksi dengan figur penting yang ada di Indonesia juga dibutuhkan,” pungkas Habib yang menceritakan bagaimana ia memperoleh rekomendasi dari mantan Duta Besar RI untuk PBB, Hasyim Djalal.

https://edukasi.kompas.com/read/2021/12/10/153735171/mahasiswa-studi-ilmu-lingkungan-didorong-kuliah-lintas-negara

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.