Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Tim UP Kembangkan Baterai Mobil Listrik Berbasis Sodium dan Aluminium

KOMPAS.com - Pemerintah terus mendorong penggunaan kendaraan listrik di tengah masyarakat Indonesia.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat, hingga November 2021 jumlah kendaraan listrik di Indonesia mencapai 14.400 unit.

Dalam Grand Strategi Energi Nasional menargetkan, pada tahun 2030 mendatang jumlah mobil listrik di Indonesia akan mencapai angka 2 juta unit, dan motor listrik sekitar 13 juta unit.

Salah satu komponen penting dalam perakitan kendaraan listrik adalah baterai lithium-ion. Hal ini juga telah disebutkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Sodium dan aluminium jadi bahan baterai pengganti lithium

Baterai jenis ini diklaim unggul dari sisi usia pakai dan proses pengisian daya yang lebih cepat. Namun baterai lithium-ion memakan biaya besar. 

Tim peneliti Program Studi Teknik Mesin Universitas Pertamina (UP) Sylvia Ayu Pradanawati menawarkan solusi pemanfaatan sodium dan aluminium sebagai bahan baku utama pembuatan baterai pengganti lithium.

Menurut dia, selama satu tahun terakhir, tim melakukan pengembangan baterai dengan cara menggantikan elektrolit cair menjadi polimer elektrolit berbahan baku sodium dan aluminium.

Selain untuk mendapatkan aternatif bahan baku baterai, elektrolit yang dibuat tim juga terbukti lebih tahan pada suhu tinggi, dibandingkan dengan lithium.

"Yang jelas, harganya juga lebih ekonomis," kata Sylvia seperti dikutip dari laman Universitas Pertamina, Senin (7/3/2022).

Sodium dan aluminium banyak tersedia

Menurut Sylvia dan tim, jumlah sodium dan aluminium di alam jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan nikel yang merupakan bahan baku lithium.

Sehingga, ketersediaannya akan lebih berkelanjutan. Hal ini membuat inovasi dari tim Universitas Pertamina ideal untuk tujuan jangka panjang.

"Harganyapun lebih ekonomis. Bala Pachayappa, CEO Sodion Energy, menyebutkan baterai sodium-ion lebih murah 30 hingga 40 persen dibanding baterai lithium-ion," ungkapnya.

Proses pembuatan elektrolit baterai ini, lanjut Sylvia, cukup sederhana. Garam sodium dan aluminium dilarutkan dengan sebuah zat pelarut (solvent) untuk kemudian dicampurkan dengan polimer.

Polimer yang digunakan oleh tim merupakan polimer alami dari alam. Selain itu sifatnya tidak beracun dan memiliki gugus pasangan elektron bebas yang dapat dijadikan elektrolit polimer dengan nilai konduktivitas ion cukup baik.

"Polimer ini juga merupakan salah satu bahan alam yang kurang optimal dimanfaatkan," terang Sylvia.

Kurangi biaya pembuatan baterai

Untuk melengkapi polimer tersebut, tim peneliti juga menambahkan fly ash atau abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran limbah dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

"Fly ash ini berfungsi sebagai filler yang dapat meningkatkan konduktivitas polimer," imbuhnya.

Pemanfaatan limbah dan garam yang murah ini, diharapkan dapat mengurangi biaya pembuatan baterai serta memperluas aplikasi baterai.

Dia menambahkan, untuk penerapannya nanti, selain berpotensi digunakan pada kendaraan listrik, baterai ion sodium dan aluminium ini juga dapat digunakan untuk perangkat elektronik portabel.

Dalam penelitian ini, Universitas Pertamina juga menggandeng Universiti Teknologi Petronas (UTP) milik perusahaan minyak dan gas bumi Malaysia, Petronas.

Kedua kampus memiliki kesamaan tujuan untuk membangun industry-oriented university. Konsep ini bertujuan menjawab kebutuhan industri dengan mengembangkan SDM unggul yang fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan dunia industri. Khususnya industri energi yang menjadi kekhususan kedua kampus.

https://edukasi.kompas.com/read/2022/03/07/123951271/tim-up-kembangkan-baterai-mobil-listrik-berbasis-sodium-dan-aluminium

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke