Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Perlukah Bedakan Mainan Anak Laki-laki dengan Perempuan? Ini Kata Psikolog

KOMPAS.com - Keberadaan mainan bagi anak-anak tidak hanya sekadar untuk bersenang-senang saja.

Tetapi jika orangtua bisa memberikan mainan yang tepat sesuai usia anak, bisa mengasah berbagai kemampuan dalam diri anak.

Mulai dari aspek kognitif, fisik hingga sosio-emosional anak. Saat ini ada banyak sekali jenis mainan yang bisa dipakai anak-anak.

Mulai dari mobil-mobilan, mainan robot, boneka hingga mainan masak-masakan. Semua tentu menyenangkan bila dimainkan anak-anak.

Anak memainkan mainan lintas gender

Namun apakah orangtua perlu membedakan mainan untuk anak laki-laki dengan anak perempuan?

Banyak anggapan di masyarakat jika anak laki-laki memainkan mainan anak perempuan seperti boneka atau masak-masakan akan memengaruhi kepribadiannya.

Psikolog Klinik Anak dan Remaja Cecilia Sinaga memberikan pendapatnya mengenai hal ini.

Cecilia mengungkapkan, sebenarnya tidak masalah ketika anak laki-laki memainkan mainan anak perempuan. Atau anak perempuan memainkan mainan anak laki-laki.

Menurut Cecilia, dengan memainkan mainan lintas gender, anak justru punya pengalaman berbeda.

Dia memberi contoh, ketika anak laki-laki memainkan mainan masak-masakan, mereka menjadi tahu hal apa saja yang dilakukan di dapur.

Atau ketika anak perempuan memainkan mainan bengkel-bengkelan, dia jadi tahu apa saja yang terdapat di garasi.

"Anak-anak bermain mainan laki-laki dan perempuan gapapa. Mereka justru bisa mengeksplor sesuatu yang feminim dan maskulin. Jadi tahu tugas bapak dan ibu seperti apa," terang Cecilia dalam Talkshow yang diadakan Toys Kingdom, Kamis (16/6/2022).

Memberi pengalaman bagi anak

Bahkan dengan memainkan mainan lintas gender, ketika dewasa nanti, anak justru bisa tumbuh menjadi seseorang yang mandiri karena bisa melakukan tugas lintas gender.

Cecilia menambahkan, ketika dewasa, anak laki-laki tidak akan sungkan untuk terjun ke dapur. Begitu juga anak perempuan juga bisa melakukan sesuatu yang biasa dikerjakan anak laki-laki.

"Ini merupakan pengalaman yang dimiliki anak untuk masa depan. Soal isu nanti anak laki-lakinya jadi kemayu, jangan takut," tegas Cecilia.

Dia juga menekankan, bahwa orangtua harus bijaksana dalam memberikan mainan bagi anaknya. Khususnya memberikan anak yang sesuai dengan usianya.

Jika anak diberi mainan tidak sesuai dengan umur, anak main sesuka hati namun tidak ada tujuannya setelah memainkan mainan tersebut.

"Tidak ada goalsnya kalau anak diberi mainan tidak sesuai umur. Misalnya anak usia 1 tahun diberi mainan yang berukuran kecil nanti berisiko termakan," imbuh Cecilia.

Orangtua bisa mengetahui tumbuh kembang anak sesuai usia dengan melakukan observasi. Sehingga bisa membelikan mainan untuk mendukung tumbuh kembang tersebut.

"Jika kurang yakin dengan hasil oberservasi sendiri, bisa mencari di Google, milestone anak nanti bisa check list di usianya. Mendatangi psikolog juga bisa," papar Cecilia.

https://edukasi.kompas.com/read/2022/06/20/053700871/perlukah-bedakan-mainan-anak-laki-laki-dengan-perempuan-ini-kata-psikolog

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke