Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Turunkan Emisi Karbon, 15.000 Pohon Ditanam di Hutan Kampus IPB

KOMPAS.com - Institut Pertanian Bogor (IPB) dan United Tractors (UT) berkolaborasi dalam  program biodiversity guna menekan emisi karbon (carbon set-off) dengan menanam sebanyak 15.000 bibit pohon di atas lahan seluas 20 hektar yang terletk di Taman Hutan Kampus IPB.

"Harapan kami 15.000 pohon dengan luasan 20 hektar ini bisa menyerap estimasi sekitar 2000 beban emisi. Mungkin tidak banyak, tapi itu yang harus diupayakan, ditambah lagi dengan nanti kami akan melakukan sequestration carbon ditempat yang lainnya," ujar Head of Corporate Sustainability and Governance United Tractors, Sara K. loebis, di Bogor, Kamis (15/12/2022).

Lebih lanjut, Sara mengatakan penanaman pohon tersebut merupakan bagian dari rangkaian momentum HUT UT ke-50 pada 13 Oktober 2022. UT sendiri sudah menanam 35.000 pohon di lokasi lainnya dan sisanya 15.000 di Taman Hutan Kampus IPB.

“Sebagai bagian dari rangkaian momentum HUT UT ke-50, kami mencanangkan 10 Aspirasi Keberlanjutan United Tractors di tahun 2030 sebagai peta jalan perusahaan dalam menerapkan bisnis yang berkelanjutan dan implementasi ESG. Aspirasi ini seluruhnya dapat diakses oleh publik secara terbuka melalui website perusahaan,” ujar Sara K. Loebis.

Selain itu, kerja sama tersebut juga menjadi salah satu milestone bagi UT untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.

“UT dan IPB dengan keunggulan masing-masing berkomitmen untuk saling bertukar pengetahuan dan teknologi untuk bersama mendukung target pemerintah dalam mencapai net zero emission tahun 2060,” ujar Sara.

Dari sebanyak 15.000 pohon tersebut, terdapat tujuh jenis pohon yang ditanam yakni pohon Meranti, Nangka Madu, Jambu Mutiara, Matoa, Rambutan Binjai, Kemang, dan Jambu Biji Merah.

Ke tujuh jenis tanaman tersebut dipilih karena memiliki kemampuan untuk penyerapan karbon yang tinggi dan menghasilkan buah yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Kedepannya, aksi penanaman pohon tersebut menjadi laboratorium lapang bagi fakultas kehutanan IPB.

"Penanaman pohon yang dilakukan hari ini bukan hanya menghasilkan oksigen, tetapi menjadi laboratorium lapang bagi mahasiswa khususnya fakultas kehutanan, sehingga harus benar-benar dipelihara, dipantau, dan diukur juga karbonnya," ujar Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, Naresworo Nugroho.

Selain itu, bertujuan untuk menerapkan kegiatan Tri Dharma yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Juga membantu pemerintah dalam membantu pemerintah dalam hal program Folu Net Sink yakni rancangan sistematis yang dibangun dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca pada sektor kehutanan dan lahan.

“Saya rasa banyak sekali hal-hal yang bisa kita dapatkan dengan menanam pohon, tidak hanya sebagai penghasil oksigen, tetapi juga meneruskan program pemerintah. Kalau dalam lingkungan hidup dan kehutanan ada disebut program folu net sink, target mitigasi perubahan iklim mengurangi polusi, menyerap CO2, dan menambah cadangan karbon,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III IPB, Dodik Ridho Nurrochmat mengatakan penanaman pohon tersebut juga membangun kepercayaan (lesson learned) yang memberikan nilai yang lebih tinggi kepada hutan agar masyarakat menikmati hasilnya.

Seperti diketahui akhir-akhir ini hutan semakin terancam, padahal jika dikelola dengan baik dapat menghasilkan manfaat yang besar.

“Menanam yang baik yang terkait dengan buah-buahan dan pohon yang berbuah memberikan manfaat kepada masyarakat dan biodiversity akan lebih baik,” ujar Dodik.

Oleh karena itu, dukungan dari UT dalam penanaman pohon ini sangat dibutuhkan oleh IPB, terutama dalam membantu program pemerintah dalam mencapai target Folu Net Sink 2030.

“Saya pikir dukungan dr UT ini sangat diperlukan. Ada target Folu Net Sink 2030 yang perlu dicapai oleh pemerintah dengan dukungan seluruh pihak termasuk sektor swasta. Nantinya, IPB akan mendaftarkan UT ke Sistem Registrasi Nasional (SRN) sehingga UT dapat mengklaim jumlah emisi karbon yang berhasil ditekan dalam program ini,” beber Dodik.

Dodik juga menambahkan, dalam kerja sama ini IPB akan berperan untuk merawat pohon hingga menghitung baseline dan jumlah penurunan emisi karbon yang didapatkan.

“Dari penghitungan dasar saat ini, 15.000 pohon dari UT ditargetkan akan menekan beban emisi karbon antara 1.200 hingga 2.400 ton karbon dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun dengan luas lahan sebesar 20 hektar,” urai Dodik.

Oleh karena itu, kerjasama ini bukan hanya seremoni, tetapi bentuk komitmen dari kedua institusi untuk secara bersama-sama berbuat demi kepentingan manusia dan dunia.

“Melalui kolaborasi ini, UT bertujuan agar seluruh upaya kontribusi sosial dan lingkungan perusahaan bermanfaat secara efektif dan memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan dan masyarakat, urai Sara.

Oleh karena itu, kolaborasi dan integrasi dunia pendidikan dan dunia industri memegang peranan penting untuk menjawab tantangan lingkungan dan sosial di masa depan,” ujar Sara ketika menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara UT dan IPB.

https://edukasi.kompas.com/read/2022/12/16/135833271/turunkan-emisi-karbon-15000-pohon-ditanam-di-hutan-kampus-ipb

Terkini Lainnya

UNY Terapkan Kuliah Online bagi Mahasiswa Tingkat Atas, Dosen-Tendik WFH tiap Jumat
UNY Terapkan Kuliah Online bagi Mahasiswa Tingkat Atas, Dosen-Tendik WFH tiap Jumat
Edu
PPDS Unsrat 2026 Dibuka Tanggal 15 April, Ini Syarat, Jadwal dan Kuota Per Prodi
PPDS Unsrat 2026 Dibuka Tanggal 15 April, Ini Syarat, Jadwal dan Kuota Per Prodi
Edukasi
Kisah Rayhan, Anak Buruh Tani Lolos ITB Jalur SNBP 2026
Kisah Rayhan, Anak Buruh Tani Lolos ITB Jalur SNBP 2026
Edu
Kisah Raisa, Ortu Cerai dan Tak Bisa Biayai Sekolah, Kini Jadi Murid Sekolah Rakyat
Kisah Raisa, Ortu Cerai dan Tak Bisa Biayai Sekolah, Kini Jadi Murid Sekolah Rakyat
Edu
BRIN Bikin Sourdough Beras Merah Segreng Handayani dari Gunungkidul
BRIN Bikin Sourdough Beras Merah Segreng Handayani dari Gunungkidul
Edu
IPB Siap Gelar UTBK 2026, Cegah Kecurangan Sesuai Prosedur Nasional
IPB Siap Gelar UTBK 2026, Cegah Kecurangan Sesuai Prosedur Nasional
Edu
ITB Buka Prodi S2 Kecerdasan Sistem, Baru Dibuka 2026
ITB Buka Prodi S2 Kecerdasan Sistem, Baru Dibuka 2026
Edu
8 PTKIN yang Masuk 100 Kampus Terbaik Indonesia, Nomor 1 di Bandung
8 PTKIN yang Masuk 100 Kampus Terbaik Indonesia, Nomor 1 di Bandung
Edu
Djarum Beasiswa Plus 2026 bagi Mahasiswa D4/S1, Syarat IPK Minim 3,00
Djarum Beasiswa Plus 2026 bagi Mahasiswa D4/S1, Syarat IPK Minim 3,00
Edu
Undip Beri 1.850 Porsi 'MBG' Per Hari bagi Mahasiswa yang Membutuhkan, Anggaran Rp 6 Miliar Per Tahun
Undip Beri 1.850 Porsi "MBG" Per Hari bagi Mahasiswa yang Membutuhkan, Anggaran Rp 6 Miliar Per Tahun
Edu
Cerita Putri Siswi MAN 2 Kebumen yang Diterima di 3 Kampus China
Cerita Putri Siswi MAN 2 Kebumen yang Diterima di 3 Kampus China
Edukasi
Kapan Jalur PPKB UI 2026 Dibuka? Bisa Masuk Tanpa Tes Lagi
Kapan Jalur PPKB UI 2026 Dibuka? Bisa Masuk Tanpa Tes Lagi
Edu
SMA Kolese Gonzaga Adakan G-Reflex, Dorong Siswa Lebih Memaknai Proses Belajar
SMA Kolese Gonzaga Adakan G-Reflex, Dorong Siswa Lebih Memaknai Proses Belajar
Edu
Pengalaman Wamen Stella di Harvard: Jadi Tukang Bersih Toilet dan Berteman dengan Natalie Portman
Pengalaman Wamen Stella di Harvard: Jadi Tukang Bersih Toilet dan Berteman dengan Natalie Portman
Edu
Kedubes AS Pastikan Proses Visa Pelajar untuk Indonesia Makin Terbuka
Kedubes AS Pastikan Proses Visa Pelajar untuk Indonesia Makin Terbuka
Edu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com