Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Orangtua, Ini 4 Tips Pilih Pesantren untuk Anak

KOMPAS.com - Akhir-akhir ini pendidikan model pesantren atau boarding school semakin diminati masyarakat. Hal tersebut tidak lepas dari kualitas lembaga pendidikan pesantren yang terus membaik dari zaman ke zaman.

Selain itu, mindset masyarakat terhadap dunia pesantren juga telah berubah.

Menjelang tahun ajaran baru, pastinya orangtua sudah gelisah tentang bagaimana memilih pesantren yang tepat untuk anaknya.

Wajar saja, terlebih pada orangtua yang belum mengenal dunia pesantren dengan baik.

Kegelisahan tersebut diperparah dengan berita negatif seputar pesantren, seperti terkait kebiasaan penyakit kulit, kekerasan di dunia pesantren, ajaran terorisme, atau hal lainnya.

Atas dasar hal itu, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UM Surabaya, Gandhung Fajar Panjalu angkat suara.

Dia mengatakan, nilai positif yang didapatkan ketika anak masuk pesantren sangatlah banyak.

"Kedisiplinan untuk beribadah dan belajar tepat pada waktunya menjadi salah satu poin utama. Selain itu, kemandirian dan kemampuan untuk bersosialisasi dengan kawan juga menjadi nilai yang ditanamkan," ucap dia dalam keterangannya dikutip dari laman UM Surabaya, Rabu (8/2/2023).

Dalam memilih pesantren untuk anak, Fajar membagikan sejumlah tips untuk orangtua.

Pertama, diskusikan dengan anak. Bagaimanapun juga berdiskusi dengan anak terkait rencana pendidikan menjadi hal yang penting.

Selain untuk mengukur kemampuan anak, juga untuk memastikan bahwa anak memiliki kemauan untuk menempuh pembelajaran di pesantren.

Apabila anak merasa tidak nyaman dengan pesantren tempat ia belajar maka akan berpengaruh terhadap proses dan hasil belajarnya kelak.

Kedua, pilih pesantren dengan keunggulan yang diharapkan. Beberapa pesantren memiliki keunggulan yang berbeda.

Misalnya pesantren dengan penguatan pada ilmu nahwu sharaf, tahfidz, kemampuan bahasa asing, bahkan beberapa pesantren modern memiliki keunggulan bidang sains dan entrepreneur.

Ada pula pesantren yang memiliki keunggulan dari aspek finansial, seperti pemberian beasiswa bagi santri yang memenuhi syarat tertentu.

Aspek keunggulan ini dapat dicari infonya melalui website, informasi alumni, maupun pemerhati pesantren.

Ketiga, lakukan survei ke pesantren yang diminati. Sebelum memilih pesantren sebagai tempat belajar anak, terlebih dahulu kunjungi lembaga tersebut untuk melihat secara langsung fasilitas dan proses pembelajaran yang dimiliki.

Pastikan pesantren tersebut memiliki fasilitas pembelajaran yang layak, kamar tidur, dan ruang mandi yang memadai dengan jumlah santri.

"Utamakan yang memiliki kamar mandi dengan air mengalir alias tidak tertampung terlalu lama, sehingga meminimalisir potensi penyakit kulit yang biasanya dialami para santri," ujar Fajar lagi.

Keempat, pilih pesantren dengan pelayanan lengkap. Pelayanan yang dimaksud mulai dari pelayanan pendidikan, kesehatan, hingga pengembangan minat-bakat.

Pada pelayanan bidang pendidikan, pilih pesantren yang telah mengintegrasikan kurikulum pendidikan formal dan pendidikan non-formal.

Fajar menegaskan, pemilihan ini tidak dapat diabaikan mengingat ijazah formal menjadi dokumen prasyarat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Pelayanan kesehatan berkaitan dengan jaminan bahwa nantinya anak akan mendapatkan pelayanan terbaik jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti sakit.

"Sementara pelayanan pengembangan minat-bakat berkaitan dengan penyaluran hobi yang positif di luar perkuliahan, seperti ekstrakurikuler olahraga, kebahasaan, dan sebagainya," tukas dia.

https://edukasi.kompas.com/read/2023/02/08/111848171/orangtua-ini-4-tips-pilih-pesantren-untuk-anak

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com