Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Awet Muda dengan Buah dan Sayur

Kompas.com - 10/09/2009, 11:03 WIB
Editor

KOMPAS.com - Minum jus buah setiap hari? Mengapa tidak? Enak dan segar! Kalau sayur? Ih, langu.... Masyarakat kita memang lebih mementingkan ”rasa” daripada ”manfaat” makan. Padahal kalau tahu manfaat buah dan sayur, mungkin persepsi dan pola makan kita akan berubah.

Selama ini buah dan sayur dikenal sebagai sumber vitamin dan mineral sehingga disarankan untuk selalu ada dalam menu pangan sehari-hari.

Dalam anjuran makan ”empat sehat lima sempurna”, ada buah dan sayur, selain makanan pokok dan lauk-pauk. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya sudah mengetahui pentingnya buah dan sayur, tetapi kenyataannya, menu makan sehari-hari orang Indonesia lebih didominasi oleh karbohidrat dan sangat sedikit buah dan sayur.

Dalam berbagai penelitian yang dilakukan di negara-negara maju akhir-akhir ini, buah dan sayur banyak dikaitkan dengan kemampuannya untuk melindungi tubuh dari berbagai penyakit degeneratif.

Hal ini karena, selain sebagai sumber vitamin dan mineral, buah dan sayur juga merupakan sumber serat pangan serta kaya akan antioksidan, khususnya dari golongan flavonoid.

Flavonoid—menurut Robinson dalam bukunya Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi—adalah suatu senyawa yang kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C (cincin benzena tersubstitusi) yang dihubungkan oleh 3 karbon. Flavonoid ini banyak terdapat dalam tanaman, dan lebih dari 4.000 jenis sudah teridentifikasi. Dalam tanaman itu sendiri, flavonoid mempunyai aneka fungsi, seperti untuk menarik serangga yang membantu penyerbukan, membantu fotosintesis, antimikrobia, dan antivirus.

Beberapa contoh dari flavonoid yang sudah diketahui bermanfaat untuk manusia adalah isoflavon yang terdapat dalam kedelai, katekin yang terdapat dalam teh, dan antosianin yang terdapat dalam buah duwet dan anggur merah.

Absorbsi Flavonoid

Secara in vitro (dalam tabung reaksi), aktivitas antioksidan yang kuat dari berbagai flavonoid sudah terbukti, tetapi secara in vivo (dalam tubuh makhluk hidup) baru sedikit data.

Keberadaan flavonoid dalam makanan sebelumnya dianggap tidak bermanfaat karena kebanyakan flavonoid dalam tanaman, kecuali katekin, terikat dengan gula sebagai glikosida.

Glikosida ini dianggap tidak bisa diserap karena molekulnya besar. Namun, kemudian banyak bukti menunjukkan bahwa flavonoid glikosida mudah diserap oleh manusia dan tikus percobaan tanpa perlu dihidrolisis terlebih dahulu.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+