Di Pedalaman, Kreativitas Guru Kalahkan Ketergantungan Fasilitas

Kompas.com - 09/10/2009, 10:03 WIB
Editorlatief

NUNUKAN, KOMPAS.com — Perjuangan guru-guru di wilayah pedalaman bukan lagi soal gaji yang tak cukup atau transportasi ke lokasi mengajar yang jauhnya bukan main. Kemauan dan kreativitaslah yang mereka butuhkan untuk mmbuat siswanya bersemangat dan mudah menyerap pelajaran.

"Bagaimana kami punya cara atau strategi yang bisa membuat siswa senang dan semangat belajar, buat saya itu lebih dari cukup, soal lain-lainnya bisa belakangan," ujar Suwarni, Kepala Sekolah SMAN 1 Lumbis, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Senin (5/10), dalam kunjungan Kompas.com mengikuti kegiatan monitoring hasil "Lokakarya Angkatan V Tahap II-Program Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru dan Kepala Sekolah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)" yang digelar oleh Tanoto Foundation di pedalaman Kabupaten Malinau dan Nunukan, Kalimantan Timur.

Suwarni melanjutkan, mengajar dengan menggunakan alat praktik sederhana, misalnya besi potong dan magnet. Dengan cara itulah, dia sebagai guru fisika mengenalkan langsung mata pelajaran gaya tarik-menarik atau tolak-menolak. Bahkan, Suwarni pun mengaku tak segan menggunakan lagu disertai gerakan tangan, badan, dan kaki untuk membuat siswa bersemangat belajar.

"Memang dituntut untuk kreatif, kita tak bisa lagi cuma mendikte, duduk di depan kelas sementara anak-anak menulis atau menjawab soal. Siswa di sini perlu pembuktian nyata, perlu sesuatu yang rill untuk membuat mereka tertarik mengenai pelajaran yang akan diserapnya," ujar Suwarni, yang mengaku terbiasa melakukan hal-hal semacam itu berkat melakoni kegiatan Pramuka.

Guru ajarkan domino?

Di perkotaan, khususnya kota-kota besar, umumnya para guru tidak terlalu pusing dengan fasilitas untuk mendukung kegiatannya mengajar. Ada kalkulator, komputer, bahkan yang kini semakin hebat dan canggih, yaitu internet. Namun di kawasan pedalaman, "fasilitas" mengajar itu juga dapat diartikan dengan kreativitas guru memanfaatkan apa pun agar siswanya bisa mengerti materi pelajaran yang diberikannya.

Penuturan Djomon Bapila, Kepala Sekolah SD 008 Kalampising, Kabupaten Nunukan, misalnya. Djomon mengaku, dirinya mewajibkan para siswa kelas I untuk membawa batang-batang lidi ke sekolah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Lalu saya minta mereka mengikatnya dengan jumlah untuk masing-masing ikat sebanyak 10 lidi. Itulah alat hitung mereka," ujar Djomon.

"Sederhana memang, tetapi hanya itu yang termurah, tercepat, dan termudah untuk diserap oleh siswa. Dengan lidi-lidi ini mereka menjadi aktif belajar dan tak sadar bisa menghitung dengan tangkas," tambahnya.

Lain Djomon, lain pula Sugimun. Guru Matematika SMPN I Lumbis, Kabupaten Nunukan, ini punya cara jitu untuk membuat siswanya tertarik dan mudah mengerti pelajaran Matematikanya. Salah satunya, Sugimun mengajak para siswa bermain gaple atau yang lebih akrab disebut domino.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.