Dicari: Pemimpin Berjiwa Sehat

Kompas.com - 22/10/2009, 08:10 WIB
EditorAnna

Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menyebutkan, prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia meliputi gangguan kecemasan dan depresi secara nasional adalah 11,6 persen dari populasi orang dewasa—usia di atas 15 tahun. Dengan populasi orang dewasa sekitar 150 juta, sekitar 1.740.000 orang Indonesia mengalami gangguan mental emosional.

Sejauh mana seseorang dapat dikatakan mengalami masalah dan gangguan kesehatan jiwa? Hervita mengatakan bahwa sebagian besar orang pernah mengalami problem kesehatan jiwa. ”Orang itu mempunyai masalah, tetapi tidak mengganggu fungsinya. Contohnya, seseorang masih mampu berangkat bekerja, tetapi tidak bersemangat,” ujarnya.

Gangguan kesehatan jiwa berspektrum luas. Sekretaris Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Danardi Sosrosumihardjo mengungkapkan, setidaknya ada 284 diagnosis gangguan jiwa, mulai dari gangguan ringan hingga berat. Definisi gangguan jiwa sendiri adalah apabila ditemukan penurunan fungsi sebagai manusia dan ada keluhan. ”Terkait penurunan fungsi, individu tidak mengeluh, tetapi orang lain melihat perubahan perilakunya,” ujar Danardi.

Bentuk keluhan terdiri dari keluhan fisik (somatis), seperti tidak bisa berpikir, tidak bisa tidur, sakit kepala, dan jantung berdebar. Ada juga yang mengeluhkan perasaan, seperti benci, cemas, kesal, marah, dan takut.

Penetapan gangguan sedang hingga berat biasanya dengan memeriksa kemungkinan cedera di otak. ”Belum tentu ada kerusakan makro otak, tetapi gangguan mikro di neurotransmiter dan hormon, misalnya, dapat menjadi kronis. Gangguan jiwa berat mengganggu perilaku sehari-hari, baik untuk dirinya sendiri maupun secara sosial.

Menurut Danardi, ada tiga penyebab gangguan jiwa. Pertama, faktor genetik yang bersifat herediter (keturunan) ataupun congenital (terjadi gangguan saat dalam kandungan). Kedua, faktor kepribadian yang berhubungan dengan kematangan pembentukan karakter. Ketiga, berkaitan dengan stressor (ancaman) internal ataupun eksternal. Penyebab tersebut bisa berdiri sendiri atau kombinasi.

Pembangunan

Dr Albert Maramis, SpKJ dari Departemen Psikiatri UI, dalam seminar Hari Kesehatan Jiwa di Departemen Kesehatan, berpendapat, kemiskinan relatif dan stressor psikososial meningkatkan risiko masalah kesehatan jiwa. Stressor psikososial terkait kekerasan, pengangguran, pengucilan sosial, ketidakamanan, rendahnya pendidikan, dan ketimpangan masyarakat.

Pembangunan masyarakat dan ekonomi berguna untuk memulihkan dan meningkatkan kesehatan jiwa. Program pembangunan yang bertujuan mengurangi kemiskinan, kemandirian ekonomi, pemberdayaan perempuan, meningkatkan pendidikan, serta memberdayakan masyarakat dapat menjadi pencegahan gangguan jiwa dan mempromosikan kesehatan jiwa. Itu hanya bisa dicapai di bawah pemimpin yang berjiwa sehat tadi.

Indira Permanasari

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.