Masa Depan Perguruan Tinggi Islam

Kompas.com - 28/04/2011, 10:10 WIB
EditorLatief

Oleh M Amin Abdullah

KOMPAS.com — Perguruan tinggi memiliki peran penting membangun kembali mentalitas, moralitas, dan karakter sebuah bangsa. Sesudah reformasi 1998, bangsa Indonesia menghadapi berbagai krisis.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi krisis, tetapi hingga kini belum tampak jelas hasil yang telah diupayakan negara dan masyarakat. Kekerasan sosial yang menggunakan sentimen keagamaan dalam berbagai bentuk bukannya berkurang, tetapi ada kecenderungan semakin menjadi-jadi.

Ketika tulisan ini disusun, media cetak dan elektronik di Tanah Air ramai-ramai mengangkat bom bunuh diri di tengah bangunan Masjid Adz-Dzikro, Markas Polresta Cirebon. Hal itu diikuti berita tertangkapnya 19 tersangka pelaku bom buku dan perencanaan bom Serpong yang akan menyasar Perusahaan Gas Negara dan Gereja Christ Cathedral, Serpong.

Apa yang keliru dalam hidup beragama?

Yang mengejutkan banyak pihak, ternyata sebagian dari pelaku bom buku dan perencana bom Serpong merupakan lulusan perguruan tinggi, bahkan di antaranya alumnus perguruan tinggi agama Islam. Belum jelas apakah memang benar demikian karena masih dalam penyelidikan dan pihak kampus masih meragukan apakah betul pelaku merupakan alumnus perguruan tinggi agama Islam. Wajarlah jika muncul pertanyaan, apa yang keliru dalam berbangsa, bernegara, juga dalam beragama di Tanah Air?

Wawancara Metro TV dengan orangtua pelaku pada Minggu, 17 April lalu, dapat kita jadikan sebagai rujukan mengapa kasus bom terjadi lagi. Pelaku jelas-jelas menunjukkan pemahaman keagamaan Islam para pelaku yang sangat sempit, bercorak eksklusif, dan keras.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pelaku menganut paham keagamaan yang menekankan ketidaksetujuannya hidup berdampingan dengan kelompok penganut aliran agama (Islam) yang berbeda. Perilaku keberagamaannya dibarengi dengan kemarahan dan kebencian, yang akhirnya menjadikan wajah keberagamaan di Tanah Air muram dan menyedihkan. Bagaimana upaya para pemimpin perguruan tinggi agama Islam, baik UIN, IAIN, maupun STAIN, menghadapi tantangan dan tuntutan mendesak ini?

Umat Islam sekarang ini adalah warga dunia. Zaman keemasan yang biasa disebut-sebut al-asr al-dzhahaby pada era dulu sudah lama lewat. Umat Islam, begitu juga umat lain di dunia—Hindu, Buddha, Kristen, Konghucu—tidak punya pilihan lain. Mereka tidak dapat menyendiri, keluar dari pergaulan dunia kontemporer. Mereka tidak dapat loncat keluar dari pergaulan dan tatanan politik, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan, dan ilmu pengetahuan antarbangsa di dunia.

Tuhan telah menjadikan umat manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, berbeda antara satu dan yang lain, agar manusia dengan sesamanya dapat saling mengenal dan memahami. Bahasa komunikasi antarbangsa sebagai warga dunia perlu diupayakan agar bisa saling memahami. Jika tidak, mentalitas menyendiri akan selalu membayang-bayangi kehidupan mereka.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.