Nuh: Sikapi Kasus Gadel dengan Proporsional

Kompas.com - 14/06/2011, 14:45 WIB
EditorInggried

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh meminta masyarakat menyikapi kasus amuk massa terhadap pelapor kecurangan ujian nasional SDN Gadel II Surabaya secara proporsional. Nuh mengatakan, perlu dipertimbangkan kondisi psikologis kedua belah pihak secara lebih mendalam. Selain itu, kasus ini sebaiknya diserahkan ke peraturan pendidikan yang solutif.

"Dudukkan dulu perkaranya. Masyarakat yang mengintimidasi pelapor memang salah, tetapi tidak semuanya salah," kata Nuh, Senin (13/6/2011) malam di Jakarta.

Nuh melanjutkan, tindak pengusiran dan intimidasi yang dilakukan warga terhadap pelapor itu bukan hanya akibat perlawanan terhadap kejujuran. Menurutnya, ada sebagian warga yang emosi sesaat karena anaknya ikut terbawa citra buruk sebagai tukang menyontek akibat laporan ini.

"Bisa jadi benar ada yang curang. Tapi, karena kejadian (pelaporan) ini, yang benar jadi terbawa juga. Psikologis ini perlu dipahami juga. Itu karena persoalan ini sudah enggak jernih, sudah out of context," ujar Nuh.

Kedua belah pihak, menurut Nuh, sama-sama mengaku benar dalam kasus tersebut. "Kita menganut paham rekonsiliasi. Kalau terus dibenturkan (antara pelapor yang selalu dianggap benar dan warga yang dipandang selalu salah), lama-lama bisa terjadi benturan sosial," ungkapnya.

"Lazimnya, harus dilakukan UN ulang di sekolah itu. Namun, pada jenjang SD, otonomi pendidikan terletak sepenuhnya pada daerah," lanjut Nuh.

Peristiwa ini bermula dari kasus menyontek massal saat Ujian Nasional 2011 yang terjadi di SDN Gadel 2, Tandes, Surabaya,Jawa Timur. Kecurangan ini diduga dilakukan secara sistematis.

Kasus itu terungkap setelah orangtua siswa SD Gadel, Ny S, melapor ke Dinas Pendidikan Kota Surabaya terkait anaknya, AL, yang dipaksa gurunya untuk memasok sontekan untuk siswa di tiga kelas pada SD tersebut.

Bahkan, tiga bulan sebelum pelaksanaan UN, AL sudah didoktrin gurunya agar patuh memberi sontekan dengan alasan membantu teman dan membalas budi guru.

Hal tersebut dilakukan karena dari hasil try out diketahui bahwa 25 persen dari 60 siswa kelas VI di sekolah itu kemungkinan tidak lulus.

Dalam laporan tersebut, Ny S menyesalkan tindakan sekolah yang mengajari anaknya untuk tidak jujur, padahal dia sudah bersusah payah mengajari anaknya untuk jujur dan sudah bekerja keras untuk menyekolahkan anaknya.

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X