PENDIDIKAN

Pemerintah Diminta Kaji Sekolah RSBI

Kompas.com - 19/09/2011, 15:35 WIB
EditorInggried Dwi Wedhaswary

DENPASAR, KOMPAS.com - Ketua Dewan Pendidikan Kota Denpasar Dr Ir Putu Rumawan Salain MSI IAI mengatakan, pemerintah seharusnya mengkaji kembali pemberian label rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) khususnya pada sekolah-sekolah di Denpasar. Menurutnya, program RSBI tidak memiliki blue print atau perencanaan yang jelas.

"Label RSBI justru akan mengkotak-kotakkan siswa dan semakin meminggirkan siswa yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah," kata Rumawan Salain, di Denpasar, Senin (19/9/2011).

Ia mencontohkan yang terjadi di Denpasar terkait sekolah RSBI. "Pada periode sebelumnya disebutkan bahwa untuk masing-masing jenjang pendidikan hanya ada satu sekolah yang dikategorikan RSBI. Namun, realitanya baik di tingkat SMP, SMA, dan SMK, lebih dari satu sekolah yang menyandang label itu," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, sekolah yang berlabelkan RSBI justru mempunyai kewenangan untuk memungut biaya tambahan karena tidak tersentuh dengan aturan yang tidak membolehkan mereka memungut biaya.

"Alasan mereka untuk meningkatkan kualitas pendidikan di RSBI, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit," ujarnya.

Bantuan operasional sekolah (BOS) dan surat keputusan Gubernur Bali yang pada intinya diharapkan dapat memberikan pendidikan bebas biaya pada siswa, justru menjadi tidak berlaku pada RSBI.

"Sekolah-sekolah dengan label RSBI tetap membebankan sejumlah biaya pada siswanya," ujar Rumawan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia menambahkan, RSBI terkesan mengkotak-kotakkan siswa karena dengan biaya yang tinggi di sekolah tersebut, berarti hanya siswa-siswi yang pintar dan mayoritas berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan yang berkualitas.

"Padahal mayoritas siswa berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Mereka pun seharusnya berhak menerima pendidikan yang berkualitas," katanya.

Rumawan mengakui, tantangan dunia internasional memang menghendaki setiap orang memiliki pengetahuan internasional dan dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. "Hanya saja, kan tidak di RSBI saja diajarkan bahasa Inggris. Selama ini juga tidak ada sekolah yang tidak mewajibkan kurikulum pelajaran bahasa Inggris," ujar dia.

Rumawan berpendapat, sebaiknya sekolah tidak perlu diberi label RSBI karena semua orang juga menuju pada arah pendidikan tersebut. Maksud dan tujuan RSBI memang benar demi pendidikan yang semakin baik, tetapi dalam perjalanannya mengalami kekeliruan.

"Oleh karena itu, label RSBI harus dikaji kembali dan saya pandang tidak perlu pemberian label itu. Cukup sekolah yang ada sekarang memberikan citra terbaik kepada masyarakat. Otomatis siswa-siswi yang pintar akan memilih sekolah tersebut," kata Rumawan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.