Melayu-Tionghoa Bersaudara Tanpa Sekat

Kompas.com - 25/11/2011, 03:27 WIB
Editor

Tidak ada kota di Indonesia yang penulisan nama jalannya menggunakan tiga bahasa selain Sungailiat, ibu kota Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di sana, setiap papan nama jalan ditulis menggunakan bahasa Indonesia, yang letaknya paling atas, lalu bahasa Arab dan bahasa Mandarin.

Kebijakan yang diterapkan sejak tahun 2006 tersebut sengaja dilakukan pemerintah setempat guna menunjukkan dan memberi pesan kepada masyarakat luas bahwa daerah itu dihuni warga berbagai suku dan agama, yang semuanya memiliki posisi setara.

”Harmonisasi antarwarga Melayu dan Tionghoa di Bangka begitu kental dan mesra. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak nenek moyang kami sehingga kami wajib merawatnya” kata Bupati Bangka Yusroni Yazid di Sungailiat, Senin (24/10).

Harus diakui, antara Bangka dan masyarakat Tionghoa sudah seperti dua sisi mata uang. Di pulau ini, kelompok masyarakat Tionghoa telah menyatu dengan tanah setempat selama ratusan tahun.

Budayawan Bangka, Akhmad Elvian, menjelaskan, masyarakat Tionghoa mulai hadir di Pulau Bangka selama periode 1757-1776 atas kehendak Sultan Ahmad Najamuddin Adikusumo, putra Sultan Mahmud Badaruddin II, yang saat itu memimpin Kerajaan Sriwijaya. Tujuan utama mendatangkan mereka adalah untuk meningkatkan produksi dan kualitas pengolahan timah sebab warga Tionghoa dinilai lebih terampil dan sudah menguasai teknologi penambangan timah.

Gelombang berikutnya didatangkan lagi para petani, tukang jahit, dan tukang kayu. Kehadiran beragam profesi itu dimaksudkan agar terjalin hubungan yang lebih luas antara warga asal China dan masyarakat setempat.

Para warga asal China yang datang ke Bangka saat itu umumnya laki-laki dan tidak membawa keluarga. Seiring dengan perjalanan waktu, mereka pun akhirnya memilih bertahan di Bangka dengan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan Melayu di sana.

”Jadi, masyarakat Tionghoa di Bangka saat ini merupakan keturunan pribumi dan Melayu. Hubungan persaudaraan dan keharmonisan erat yang terjalin antara masyarakat Tionghoa dan Melayu di Bangka selama ini karena mereka umumnya memiliki garis keturunan yang sama,” ujar Akhmad.

Dengan adanya asimilasi yang kuat melalui perkawinan itu akhirnya berkembang penyebutan di kalangan masyarakat Bangka, yakni fan ngin, to ngin jit jong, yang berarti ’pribumi, Melayu, dan Tionghoa semuanya sama dan setara’. ”Karena itu, hubungan kekeluargaan antarwarga Melayu, Tionghoa, dan pribumi di Bangka tidak lahir secara kebetulan demi menjaga stabilitas wilayah, tetapi karena merasa sebagai satu keluarga besar,” ungkapnya.

Seorang pegawai kolonial Belanda, Boggart, menurut Akhmad, pada tahun 1803 pernah berkunjung ke Bangka. Berdasarkan pengamatannya, Boggart mendeskripsikan ada empat kelompok etnis yang hidup di Bangka. Mereka adalah orang melayu dari Johor Siantan (Malaysia), orang Tionghoa, orang laut, dan orang darat atau orang gunung.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.