Menjadi Buruh Cuci Pun Dilakoni

Kompas.com - 05/03/2012, 01:50 WIB
Editor

Sebuah kantong plastik besar diangkat Remsina br Manalu (46) dari ruang perpustakaan sekolah, lalu diletakkan di jok depan sepeda motornya. Di kantong itu terdapat belasan potong kain, seperti baju, sarung, pasmina, dan jaket, yang terbungkus rapi dalam plastik.

”Beginilah saya, mengharap belas kasihan dari guru-guru PNS (pegawai negeri sipil) supaya beli dagangan saya,” tutur guru bantu pengganti di SD 101996 Baturata, Desa Sialang, Kecamatan Bangun Purba, Deli Serdang, Sumatera Utara, Sabtu (3/3).

Dengan honor Rp 150.000 per bulan, Remsina yang sudah menjadi guru honorer selama 21 tahun harus pandai-pandai mencari tambahan demi menghidupi empat anaknya. ”Honor Rp 150.000 per bulan itu tidak cukup. Untuk naik angkutan umum ke sekolah saja Rp 20.000 sehari,” kata Remsina yang menjadi guru honorer sejak 1990.

Maka, selain berjualan baju, sepulang mengajar ia menjadi tukang cuci pada dua keluarga di dekat rumahnya dengan upah Rp 400.000 per bulan. ”Sebenarnya malu juga saya ngomong bekerja sebagai buruh cuci, tetapi beginilah situasi kami,” tutur lulusan Pendidikan Guru Sekolah Menengah Tingkat Pertama di Padang Sidimpuan, 1988, itu.

Jika membawa dagangan, ia ke sekolah meminjam sepeda motor anaknya. Ongkos bensinnya Rp 10.000 per hari. ”Nanti kalau ada orang memanggil di tengah jalan, saya berhenti dan mengeluarkan dagangan,” tutur wali kelas IV itu.

Beruntung suaminya punya sedikit ladang sehingga untuk makan sehari-hari bisa terpenuhi. Penghasilan Remsina dipakai untuk membiayai sekolah anaknya. ”Anak yang paling besar sudah lulus sekolah bidan,” tutur guru tiga mata pelajaran kelas IV, yakni Seni Budaya, Bahasa Indonesia, dan IPS, itu.

Lain halnya dengan Masriani (40). Guru bantu pengganti yang menjadi guru kelas III sekaligus wali kelas III di SD 101996 Baturata itu setiap bulan mendapat honor Rp 350.000. Selepas mengajar dan menyelesaikan tugas rumah tangga, ibu tiga anak itu mengajar di madrasah diniah sore hari dan mendapat honor Rp 200.000 per bulan. Lulusan Pendidikan Guru Agama Sidikalang yang kemudian meneruskan studi strata satu di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan Teladan, Medan, itu juga cukup beruntung mempunyai suami guru PNS sehingga kebutuhan keluarga didukung dari gaji suami.

Honor kedua guru itu diambil dari sisa dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang sudah digunakan untuk keperluan sekolah. Karena di SD 101996 ada empat guru honorer, tiga di antaranya guru bantu pengganti, sisa dana BOS dibagi empat. Remsina mendapat Rp 150.000 karena jam mengajarnya lebih sedikit daripada Masriani. Dia juga dibantu satu guru honorer untuk mengajar di kelas IV.

Baik Remsina maupun Masriani setiap hari datang ke sekolah. ”Bagaimana ya… sejak kecil kami bercita-cita jadi guru, sekolahnya juga sekolah guru,” tutur Remsina yang disetujui Masriani ketika ditanya mengapa tetap setia menjadi guru meski gajinya tak layak.

Mereka bertahan karena harapan bahwa suatu saat akan diangkat menjadi guru tetap meski sudah 21 tahun menunggu harapan itu tak kunjung datang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.