"Indonesia untuk Semua", dari Malin Kundang yang Durhaka....

Kompas.com - 28/06/2013, 23:23 WIB
Pementasan kolosal Malin Kundang menutup rangkaian acara Indonesia Week 2013: Indonesia for Everyone di Millenium Hall,
Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jumat (28/6/2013) malam tadi. M Latief/KOMPAS.comPementasan kolosal Malin Kundang menutup rangkaian acara Indonesia Week 2013: Indonesia for Everyone di Millenium Hall, Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jumat (28/6/2013) malam tadi.
Penulis Latief
|
EditorLatief
BEPPU, KOMPAS.com - Malin Kundang memang anak kurang ajar. Dia pemuda durhaka,
karena ingkar janji pada ibunya. Malu menelan ludah kembali, lantaran
sang ibu renta dan miskin di hari tuanya yang sepi.

Pesan itu berupaya disampaikan selama 3 jam pementasan kolosal "Malin Kundang",
yang menutup rangkaian acara Indonesia Week 2013: Indonesia for Everyone di Millenium Hall,
Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jumat (28/6/2013) malam tadi. Penonton yang terdiri
dari mahasiswa/mahasiswi internasional dan alumni APU, serta penduduk lokal Beppu terperangah dibuatnya.

Pentas dibuka oleh sohibul hikayat bergaya kocak membawakan cerita ini. Kemudian, adegan drama diawali dengan munculnya Tari Saman. Sontak, gedung pertunjukkan berkapasitas 700 orang itu berubah riuh dalam sorak dan tepuk tangan.   

M Latief/KOMPAS.com Pementasan Tari Saman dalam drama kolosal Malin Kundang yang menutup rangkaian acara Indonesia Week 2013: Indonesia for Everyone di Millenium Hall, Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jumat (28/6/2013) malam tadi.
Ternyata, penampilan Tari Saman yang paling ditunggu-tunggu malam ini. Seperti tahun lalu,
di acara dan tempat yang sama, tari tradisional Aceh ini adalah sajian paling dinantikan
diantara penampilan lain di Indonesia Week. Uniknya, selain dari Indonesia, para penarinya
terdiri dari mahasiswa-mahasiswi asing asal Jepang, Korea, serta Lithuania.

Selanjutnya, kisah Malin Kundang pun dimulai dengan adegan perpisahan antara Malin Kundang dan ibunya yang tak kuasa melepas niatan Malin Kundang untuk merantau. Mulai tari Rentak Besapih asal Jambi hingga Ronggeng Manis dari Betawi mengiringi adegan demi adegan.

Durhaka pada cerita
Benang merah kisah Malin Kundang pada pementasan ini memang tidak berubah. Malin Kundang yang miskin, pergi merantau, lalu menjadi durhaka karena enggan mengakui ibunya. Hanya saja, penggarapan ceritanya dikemas dengan segala macam kesenian tradisional dan musik modern asal Indonesia. Tak ada lagi kisah Si Malin Kundang yang 100 persen berbau Minangkabau sebagai latar cerita ini lahir.

"Karena tujuan inti dari pementasan ini memang bukan cuma pada esensi kisah Malin Kundang sebagai anak durhaka, tetapi lebih kepada bagaimana pesan tentang Indonesia tersampaikan ke semua orang yang menonton, khususnya para mahasiswa internasional kampus ini," Monica Elvina Saputra, Ketua Panitia Indonesia Week 2013 kepada Kompas.com, seusai pertunjukkan.

Dengan tetap menjadikan Tari Saman sebagai "ikon" Indonesia Week 2013, pilihan jenis tari
dan musik dibuat mengikuti alur cerita ini meskipun terkesan "lari" dari ciri Minangkabau-nya, seperti pemakaian Tari Rentak Besapih asal Jambi, Ronggeng Manis dari Betawi, atau Tari Kecak dari Bali.

M Latief/KOMPAS.com Suguhan Tari Kecak dalam drama kolosal Malin Kundang yang menutup rangkaian acara Indonesia Week 2013: Indonesia for Everyone di Millenium Hall, Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jumat (28/6/2013) malam tadi.
Suguhan Tari Kecak, misalnya. Tarian ini masuk dan menguasai panggung selama kurang lebih 10 menit sebagai tarian latar datangnya kutukan ibunda Malin Kundang. Alhasil, mereka yang tahu betul cerita asli Malin Kundang pasti bingung melihat ini.   

Nyatanya, malah sebaliknya. Gerak serempak Tari Kecak ini justru bikin penonton berdecak, salah satunya adalah Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Muhammad Lutfi, serta para anggota Indonesia Yukou Kyokai atau Komunitas Pencinta Indonesia di Oita.

Belum lagi kehadiran Tari Ronggeng Manis dari Betawi. Buat apa tarian ini hadir dalam cerita
Malin Kundang, dan apa hubungannya? Rasanya, drama malam ini yang justeru "durhaka" pada
cerita aslinya!

Lagi-lagi malah sebaliknya, penonton kembali berdecak. Tepuk tangan dan sorak tak henti disematkan kepada para penari yang beberapa diantaranya adalah mahasiswi Jepang dan Korea.

Halaman:
Baca tentang
    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X