Model Iklan Anak-anak dan Nilai-nilai Pesimisme

Kompas.com - 16/07/2013, 13:33 WIB
Anak Indonesia dalam sehari menonton televisi sebanyak rata-rata delapan jam. Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa pada umumnya setiap orang yang berusia 20 tahun telah menonton televisi selama 20.000 jam. shutterstock.comAnak Indonesia dalam sehari menonton televisi sebanyak rata-rata delapan jam. Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa pada umumnya setiap orang yang berusia 20 tahun telah menonton televisi selama 20.000 jam.
EditorLatief
Oleh Dr. Ulani Yunus

KOMPAS.com - Sejalan dengan bertumbuhnya jumlah stasiun televisi swasta di Indonesia, maka dunia periklanan televisi pun memiliki kesempatan untuk berkembang. Di antara yang ikut bertumbuh adalah frekuensi penayangan iklan produk ataupun jasa di televisi karena iklan merupakan bagian dari tayangan program televisi secara keseluruhan.

Sepuluh tahun terakhir ini, televisi telah menjadi media paling banyak dilihat orang sehingga menjadi media favorit bagi para pemilik brand perusahaan untuk mengiklankan produk atau perusahaannya. Populernya televisi menjadi media beriklan karena televisi merupakan  saluran  bagi suatu unit informasi yang akan tersimpan di benak khalayak dan mampu memengaruhi kejadian di sekitar lingkungannya sehingga semakin menyebar luas di benak masyarakat.

Menurut analogi teori meme atau memetics yang pertama ditulis Richard Dawkins, tayangan televisi  dianggap powerful dalam mempengaruhi khalayak. Hal itu karena televisi tidak sekedar menyampaikan informasi atau pesan, namun masuk ke dalam sistem konversi utama (yaitu benak, pikiran, atau otak) manusia, yang kemudian direproduksi menjadi sistem nilai, persepsi, preferensi, etika, maupun budaya pada khalayak tersebut (Dawkins: 1976: 56).

Pertarungan informasi iklan di media massa memang sangat ketat. Pada 2003, ada sebanyak 2.500 pesan iklan dalam sehari di semua jenis media (Roman, Maas, Nisenholtz, 2003: 103), walaupun hasil penelitian dalam buku tersebut menunjukkan bahwa banyak pemirsa yang tidak mampu mengingat iklan setelah mereka melihatnya.

Di Indonesia, menurut Tanti Dwihapsari dari Biro Iklan Dwi Sapta, pada 2009; ada 12.300 spot iklan di 11 stasiun televisi Indonesia setiap harinya. Iklan tersebut terdiri dari beragam produk dengan berbagai versi model penayangan.

Perjalanan iklan di Indonesia seiring dengan perkembangan serta perubahan yang terjadi dalam masyarakat, tercermin pada gaya, isi, dan fungsi iklan yang  mengalami perubahan. Tampak dalam hasil penelitian, iklanpun bergeser dalam gaya atau tipologi dan isinya. Iklan  sekarang lebih menekankan pada penciptaan simbol produk dan citra nilai maknanya bagi konsumen daripada sekedar menawarkan fungsi produk kepada calon konsumen.

Kasiyan mengutip pernyataan Steward Brendfield yang mengatakan bahwa iklan tidak hanya menyajikan sebuah fungsi (use value) tetapi juga menekankan janji atas nilai (Kasiyan, 2008: 153).

Nilai pesimisme

Hasil observasi yang telah dilaksanakan sejak 2009 sampai sekarang (termasuk dalam disertasi Ulani Yunus) menunjukkan bahwa iklan televisi di Indonesia melibatkan banyak anak-anak sebagai model iklan yang dengan terang-terangan "menjajakan" produk-produk komersial. Mulai mie instan sampai pada produk yang pantas untuk orang dewasa, semua melibatkan anak-anak. Bahkan, belakangan ini sebuah provider telepon seluler menggunakan model iklan, seluruhnya oleh anak-anak.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X