Kompas.com - 23/09/2013, 07:11 WIB
Bambang Dasuki. KOMPASBambang Dasuki.
EditorTri Wahono


Oleh Indira Permanasari

Empat puluh enam tahun lalu, kegelapan menjadi teman Bambang Basuki (63) saat penglihatannya terenggut tiba-tiba. Namun, Bambang tidak menyerah dan bekerja menciptakan "terang" bagi tunanetra lainnya.

Di balik dinding bangunan di pojok Jalan Gunung Balong, Jakarta Selatan, itu para tunanetra yang haus ilmu menjadi raja. Di kantor Yayasan Mitra Netra itulah tersedia ribuan judul buku dalam huruf braille sehingga dengan rabaan jari, mereka dapat membacanya.

Setiap tahun, sekitar 150 judul buku digandakan menjadi 5.000 volume buku braille. Pekerja di yayasan itu—baik yang bermata awas maupun tunanetra—mengembangkan teknologi buku braille dengan komputer. Peranti lunak didesain untuk mengubah file teks berbahasa Indonesia dan Inggris menjadi file braille. Mereka pun menyempurnakan sistem braille Indonesia bidang bahasa, matematika, fisika, dan kimia. Selain itu, juga dibangun perpustakaan braille online dan digitalisasi buku bicara.

Para tenaga staf Mitra Netra pun dengan setia menyelenggarakan layanan dukungan dan pendidikan, mulai dari layanan rehabilitasi, bimbingan belajar, pendampingan baca, hingga tutorial untuk mata pelajaran tertentu, serta pelatihan komputer bagi mahasiswa guna membantu peserta didik tunanetra.

Berdirinya Mitra Netra yang telah dirasakan jasanya oleh para tunanetra di negeri ini tak lepas dari perjuangan Bambang, Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra sekaligus salah satu pendiri lembaga itu.

Kegelapan yang tiba-tiba

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kegelapan datang tiba-tiba ketika Bambang duduk di kelas II SMA. Penyakit glaukoma merenggut penglihatannya. Meredupnya pandangan itu sempat disembunyikan Bambang dari teman-teman dan guru di sekolah. Ujian akhir SMA dilewatinya dengan menebak jawaban untuk soal yang tak terlihat jelas. ”Saya bisa lulus ujian akhir SMA jurusan ilmu alam itu sebuah keajaiban dan keberuntungan,” ujarnya.

Bambang begitu terkejut. Ia memberontak dan menyangkal kebutaannya. Betapa tidak? Sebelumnya, Bambang yang pandai dan jago menggambar bercita-cita menjadi arsitek. Namun, setelah penglihatannya hilang, ia merasa kehidupannya hancur. "Untuk membaca Al Quran saja saya tidak bisa lagi. Saya sudah berpendapat tidak ada lagi masa depan. Sudah operasi mata tujuh kali, tetapi kondisi tidak membaik," ujarnya.

Pada masa itu, belum banyak beredar informasi tentang kehidupan tunanetra lainnya. "Saya cuma berpikir, sambil menunggu ajal menjemput, setidaknya harus ada hiburan dan tambah ibadah," ucapnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.