Kompas.com - 14/10/2013, 09:30 WIB
Selama lima tahun terakhir, pendidikan jenjang menengah terus mengalami peningkatan, yaitu dari 52,20 persen pada 2005/2006 menjadi 70,53 persen pada 2010/2011. Namun demikian, disparitas APK jenjang menengah antar wilayah masih relatif tinggi, pertumbuhan angka partisipasi kasar (APK) setiap tahunnya relatif kecil. M Latief/KOMPAS.comSelama lima tahun terakhir, pendidikan jenjang menengah terus mengalami peningkatan, yaitu dari 52,20 persen pada 2005/2006 menjadi 70,53 persen pada 2010/2011. Namun demikian, disparitas APK jenjang menengah antar wilayah masih relatif tinggi, pertumbuhan angka partisipasi kasar (APK) setiap tahunnya relatif kecil.
EditorLatief
Oleh Hamid Muhammad

KOMPAS.com - Penelitian menunjukkan bahwa populasi penduduk usia produktif di rentang 2010-2035 lebih tinggi ketimbang populasi penduduk usia nonproduktif. Hal ini tentu menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia, mengingat penduduk usia produktif dinilai mampu lebih banyak berkarya dan mengangkat nama Indonesia lebih baik di kancah internasional. Karena itulah, Kemdikbud berupaya mengoptimalkan bonus demografi ini, salah satunya melalui pelaksanaan program akselerasi yang strategis, yaitu Pendidikan Menengah Universal atau PMU. 

Pada dasarnya, PMU merupakan pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga negara Republik Indonesia untuk mengikuti pendidikan menengah yang bermutu, yaitu pendidikan menengah mencakup SMA, MA dan SMK. Mengingat, usia lulus SMP/sederajat masih belum layak bekerja, sehingga bila tidak sekolah akan memiliki dampak sosial lebih kompleks.

Sebenarnya, PMU itu rintisan wajib belajar 12 tahun sebagai lanjutan wajib belajar (wajar) 9 tahun yang angka partisipasinya sudah mencapai 98 persen. Apabila generasi muda produktif hanya mengenyam pendidikan hingga lulus SMP, maka secara hukum mereka belum dapat bekerja karena Undang-undang Ketenagakerjaan menegaskan usia bekerja dimulai 18 tahun.

Anak pada usia sangat muda, skil dan kematangan jiwanya belum mencukupi untuk bekerja. Oleh karena itu, konsekuensi logisnya harus dilanjutkan dengan mendorong mereka untuk setidaknya lulus SMA/SMK/MA.

PMU rintisan telah dimulai sejak tahun ajaran baru 2012/2013 dan pelaksaan secara penuh pada tahun ajaran 2013/2014. Pembangunan ruang kelas baru (RKB) pun dilaksanakan untuk memberi kesempatan seluas-luasnya bagi lulusan SMP/ sederajat melanjutkan ke jenjang berikutnya. PMU difasilitasi oleh Pemerintah untuk menampung semua penduduk usia sekolah, dibiayai secara bersama oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat, dengan sanksi relatif longgar bagi yang tidak mengikuti.

Selama lima tahun terakhir, pendidikan jenjang menengah terus mengalami peningkatan, yaitu dari 52,20 persen pada 2005/2006 menjadi 70,53 persen pada 2010/2011. Namun demikian, disparitas APK jenjang menengah antar wilayah masih relatif tinggi, pertumbuhan angka partisipasi kasar (APK) setiap tahunnya relatif kecil. Dibandingkan dengan APK negara-negara Asia lainnya, APK Indonesia masih relatif tertinggal.

Oleh sebab itu, penyelenggaraan PMU menjadi sangat penting untuk melakukan percepatan peningkatan akses dan mutu, penurunan disparitas antar wilayah, serta sekaligus penguatan daya saing bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Dengan diselenggarakan PMU, diharapkan pada 2020 APK pendidikan menengah (dikmen) dapat meningkat, sekurang-kurangnya  mencapai 97 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Istilah PMU

Penggunaan istilah PMU dipilih Kemdikbud dengan berbagai alasan. Istilah Wajib Belajar atau Wajar harus berlandaskan dasar hukum yang kuat. Sementara dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional hanya disebutkan Wajar 9 Tahun, sedangkan untuk Wajar 12 Tahun tidak dikenal.

Istilah pendidikan universal pertama kali diperkenalkan UNESCO. Untuk menyebut Wajar 9 tahun, UNESCO tidak menggunakan istilah "compulsory basic education", melainkan "universal basic education".

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.