Mengutip Aristoteles, Wapres Buka Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan

Kompas.com - 06/03/2014, 11:51 WIB
Wakil Presiden RI Boediono memberikan sambutannya pada pembukaan Rembuk Nasional (Rembuknas) Pendidikan dan Kebudayaan 2014 di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (6/3/2014). Wapres Boediono didampingi Mendikbud Mohammad Nuh resmi membuka kegiatan tahunan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini.  Dok KemendikbudWakil Presiden RI Boediono memberikan sambutannya pada pembukaan Rembuk Nasional (Rembuknas) Pendidikan dan Kebudayaan 2014 di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (6/3/2014). Wapres Boediono didampingi Mendikbud Mohammad Nuh resmi membuka kegiatan tahunan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Rembuk Nasional (Rembuknas) Pendidikan dan Kebudayaan 2014 resmi digelar Kamis (6/3/2014). Kegiatan tahunan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini dibuka oleh Wakil Presiden RI Boediono didampingi oleh Mendikbud Mohammad Nuh.

Wapres Boediono dalam sambutannya menekankan tentang pentingnya mempersiapkan generasi penerus yang lebih baik. Ia pun mengutip suatu pepatah Aristoteles.

"Pada suatu ungkapan sejarah menunjukkan bahwa suatu bangsa atau suatu negara nasibnya ditentukan oleh berhasil tidaknya bangsa itu mendidik generasi mudanya," ujar Boediono.

Wapres juga memberi pesan kepada kepala dinas pendidikan dari seluruh Kabupaten/Kota yang hadir dalam Rembuknas tersebut. Ia berpesan agar para kepala dinas memelajari dan mengatasi masalah-masalah di lapangan terkait pendidikan.

"Kita menginginkan peluang dari anak-anak. Di mana pun mereka tinggal, mereka harus mendapatkan kesempatan pendidikan," tukasnya.

Rembuknas dilakukan selama dua hari, Kamis dan Jumat (6-7/3/2014), di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta. Mendikbud Mohammad Nuh mengatakan, kegiatan ini akan membahas tentang evaluasi kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama 2010-2014 yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) serta pemantapan kurikulum 2013 yang akan diterapkan secara menyeluruh di sekolah-sekolah di Indonesia.

"Tujuannya memetakan segala upaya yang sangat teknis bagaimana menerapkan kurikulum dengan baik. Jangan sampai kepala dinas tidak tahu jumlah murid dan guru yang akan dilatih," kata Nuh.

Mendikbud juga menekankan tentang tiga prinsip dasar dalam membangun dunia pendidikan yang ia yakini, yaitu sekolah sedini mungkin, setinggi mungkin dan menjangkau seluas mungkin.

"Kebijakan kami untuk menjangkau pendidikan tersebut termasuk di dalamnya memberi kebijakan BSO, BSM dan beasiswa bagi mahasisa perguruan tinggi," katanya.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X