Kurang Satu Bulan, Soal UN Sudah Rampung 70 Persen

Kompas.com - 14/03/2014, 09:27 WIB
Ilustrasi: Peserta ujian nasional di Sekolah Menengah Atas Santun Untan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat mengerjakan soal Bahasa Inggris, Selasa (16/4/2013).  KOMPAS/A HANDOKOIlustrasi: Peserta ujian nasional di Sekolah Menengah Atas Santun Untan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat mengerjakan soal Bahasa Inggris, Selasa (16/4/2013).
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com — Ujian Nasional (UN) akan berlangsung tak kurang dari satu bulan ke depan. Plt Kepala Puspendik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) Nizam mengatakan, sampai hari ini telah ada percetakan yang menyelesaikan 70 persen naskah UN.

"Monitoring saya terakhir sampai tadi pagi. Untuk UN SMA rata-rata sudah di atas 70 persen. Beberapa malah sudah ada yang siap dikirim. Tapi, sesuai jadwalnya, jangan sampai ada yang terlalu awal dikirim," kata Nizam di kantor Kemendikbud, Kamis (13/3/2014) siang.

Hal itu, menurut Nizam, merupakan antisipasi yang dilakukan untuk mencegah terlambatnya naskah UN. Masa pencetakan naskah tahun ini pun berbeda dibandingkan tahun lalu. Nizam menuturkan, tahun lalu naskah UN baru dikirim pada pertengahan Maret.

"Kali ini lebih awal, yakni akhir Februari telah diserahkan ke percetakan," ujarnya.

Adapun bila sampai waktu yang ditentukan terjadi keterlambatan, lanjut Nizam, akan berlaku sanksi bagi pihak percetakan. Nizam mengatakan, akan ada sanksi berat hingga ringan.

Namun, Kemendikbud akan menyelidiki lebih lanjut hal itu. Jika keterlambatan terjadi akibat faktor kesengajaan, kecurangan, atau malah membocorkan soal ujian, hal itu tergolong tindak kriminal.

"Bisa saja percetakan tersebut dipidanakan ke polisi," ujarnya.

Namun, lanjut dia, jika keterlambatan terkait hal-hal teknis yang tergolong kesalahan ringan, maka percetakan bisa diberi peringatan.

"Atau, bisa juga misalnya, pembayaran dikurangi karena percetakan tidak berhasil mencetak soal secara tepat pada waktunya," jelas Nizam.

Selain sanksi untuk pihak percetakan, sanksi tersebut juga berlaku bagi pihak-pihak yang terkait dengan kelancaran UN, misanya pengawas ujian, guru, pihak sekolah, dan siswa. Bila terbukti di antara mereka melakukan kecurangan dalam menjalankan UN, pemerintah pusat sebagai pengawas UN tak segan mengambil tindakan.

Nizam mengatakan, ada baiknya dalam mengerjakan soal nanti, anak-anak percaya diri dengan kemampuan mereka. Siswa tidak perlu bergantung untuk mendapatkan jawaban dari rekannya.

"Anak-anak enggak perlu berpikir untuk mencontek. Berpikir saja, mereka itu belajar untuk kepentingan mereka sendiri. Percaya diri dan berdoa sehingga mereka bekerja itu dengan mantap," katanya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X