Dunia Makin Rumit, Orangtua di AS Fokus pada Pendidikan Karakter

Kompas.com - 12/04/2014, 13:26 WIB
shutterstock.com Saat ini orangtua di AS justru ingin guru-guru di sekolah mendidik anak-anaknya dengan kemampuan bergaul, bertanggung jawab, toleransi, mampu memecahkan masalah, serta belajar kreatif.
KOMPAS.com -- Bicara tentang pendidikan, boleh jadi, Indonesia perlu berkaca pada perubahan perspektif dan metode pendidikan di negara lain, salah satunya Amerika Serikat. Satu hal yang bisa dicontoh dari sekolah-sekolah di AS adalah penerapan pendidikan karakter dan kepemimpinan anak didik di sekolah.

"Semua anak-anak punya potensi untuk jadi pemimpin, paling tidak jadi pemimpin dirinya sendiri. Di sinilah pendidikan karakter sangat penting untuk mengenali diri mereka sendiri," kata Murriel Summers, Kepala Sekolah AB Combs Leadership Magnet Elementary School di AS, pada seminar "The Leader in Me" di Jakarta, Sabtu (5/4/2014) lalu.

Murriel bersama dengan staf mengembangkan sekolah berbasis karakter kepemimpinan di negaranya. Dengan mengenali serta mengembangkan bakat unik setiap peserta didiknya, peserta didik di sekolah AB Combs berhasil meraih prestasi akademik di atas rata-rata.

"Pelatihan karakter kepemimpinan ini secara tak langsung juga akan berpengaruh pada peningkatan kemampuan akademik anak. Jadi, orangtua tak perlu khawatir akan tingkat kepandaian anaknya," ujarnya.

Sekalipun awalnya banyak orangtua yang ragu, lanjut Murriel, sekolahnya yang juga merupakan sekolah negeri miskin di AS ternyata semakin memiliki banyak peserta didik. Artinya, lanjut dia, pemikiran orangtua di AS mulai berubah tentang pendidikan.

Murriel, yang juga menceritakan kisah suksesnya sebagai kepala sekolah dalam buku The Leader in Me, karya Stephen R Covey, mengatakan bahwa ia juga mengadakan perbincangan dengan orangtua murid tentang apa yang diiinginkan orangtua dari sekolah. Hasilnya, orangtua di AS justru ingin guru-guru di sekolah mendidik anak-anaknya dengan kemampuan bergaul, bertanggung jawab, toleransi, mampu memecahkan masalah, dan belajar kreatif.

Hal cukup mengejutkan, orangtua tersebut ternyata tidak menyinggung masalah prestasi akademik dan nilai-nilai pelajaran yang bagus dari anak-anaknya. Padahal, pada 1990-an, masih banyak orangtua menuntut sekolah dan anak-anaknya bisa mencetak nilai pelajaran yang tinggi.

Pada masa itu, ada tiga pelajaran pokok yang menjadi titik berat dan standar kepandaian, yaitu membaca, menulis, dan matematika. Stephen R Covey dalam bukunya itu menuliskan bahwa kemungkinan besar hal tersebut disebabkan karena adanya mimpi buruk yang terjadi di sekolah pada 1999 lalu.

"Beberapa orang percaya bahwa peristiwa penembakan yang terjadi di Columbine High School di Littleton, Colorado, pada bulan April 1999 membuat orangtua dan pendidik lebih mencemaskan keselamatan fisik dan emosi anak-anak mereka di sekolah ketimbang prestasi akademik," tulis Stephen.

Dunia semakin rumit

Melihat lebih ke belakang, perubahan paradigma orangtua tentang pendidikan anak sebetulnya sudah mulai terjadi pada tahun 1989. Sosiolog dari University of Michigan, Duane Alwin, bahkan mencatat bahwa pada 1920 silam, orangtua lebih mengutamakan ketaatan, kepatuhan, rasa hormat pada orangtua dan agama, serta perilaku sopan sebagai sifat yang mereka ingin anak-anak miliki.

Namun, dalam perjalanan waktu semua itu berubah. Pada awal 1990-an, orangtua lebih menginginkan anak-anak untuk memiliki kemampuan berpikir untuk diri sendiri, bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri, memiliki insiatif tinggi, dan toleransi terhadap perbedaan.

Pertanyaannya, apa yang membuat orangtua berubah sikap?

"Dunia semakin rumit, orangtua ingin anak-anak mereka sukses dalam hidup dan mampu bertahan. Mereka tahu bahwa pekerjaan yang bagus mengharuskan kita mampu berpikir sendiri," kata Alwin.

Kini, pada abad ke-21, kebutuhan kaum muda untuk lebih mandiri dan lebih bertanggung jawab akan diri dan lingkungan sekitarnya semakin tinggi. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang baik sangat dibutuhkan anak demi bisa memenuhi kebutuhan serta tuntutan zaman.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLatief
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X