Mutlak, Metode "Online Learning" Bikin Mahasiswa Lebih Disiplin!

Kompas.com - 16/04/2014, 11:40 WIB
Keaktifan mahasiswa memberikan komentar di forum itu kemudian menjadi penilaian masing-masing pribadi. www.shutterstock.comKeaktifan mahasiswa memberikan komentar di forum itu kemudian menjadi penilaian masing-masing pribadi.
|
EditorLatief
KOMPAS.com - Pada metode perkuliahan online, bukan hanya dosen yang dituntut berdedikasi tinggi, melainkan juga mahasiswanya. Mahasiswa harus memiliki disiplin lebih dari biasanya, sebab segalanya telah diatur oleh sistem.

Demikian dikemukakan Head of Program MM Online Binus Bussiness School, Tengku Mohd. Khairal Abd, di Kampus Binus University, Jakarta, Selasa (15/4/2014). Tengku mengatakan, disiplin tersebut termasuk dalam mengumpulkan tugas-tugas tertentu untuk diunggah ke dalam sistem, mengunduh bahan ajar, serta melakukan video conference yang masuk dalam penilaian tatap muka (Mengapa Siswa Kelas "Online" Lebih Unggul dari Kelas Konvensional?).

"Sistemnya sendiri sudah menuntut mahasiswa untuk lebih disiplin. Kerjakan soal, video conference, sistem semua yang mengontrol. Harus kerjakan tugas tanggal sekian, ya tanggal sekian. Kalau tidak submit, ya sudah. Maka dari itu, bila melakukan video conference, kita menentukan dari jauh-jauh hari. Hari dan jam sekian, harus stand by, sehingga mahasiswa bisa cari koneksi internet yang bagus," kata Tengku.

Tengku, yang juga merangkap sebagai staf pengajar MM Online Binus Bussiness School memaparkan, kelas laiknya sebuah forum diskusi yang disediakan melalui sistem perkuliahan. Bentuknya seperti blog. Di forum itulah mahasiswa kemudian memberikan komentar mereka dari topik-topik diskusi perkuliahan yang dicetuskan oleh dosen. Keaktifan mahasiswa memberikan komentar di forum itu kemudian menjadi penilaian masing-masing pribadi.

"Kita menilai mereka aktif di kelas dengan aktif di forum. Kalau mereka tidak aktif, tidak ada nilainya, tidak absen. Karena mereka bisa isi forum kapan saja. Kalau mereka tidak bisa aktif sepertinya kelewatan," jelasnya.

Selain keaktifan berkomentar, sambung Tengku, tentu saja penilaian mencakup kualitas komentar mahasiswa. Menurut dia, sejauh ini jarang ditemukan komentar "biasa" dari para mahasiswa. Namun, sebelumnya diberitahukan dulu kepada mahasiswa, bahwa untuk menyampaikan komentar harus dilakukan profesional, tidak memunculkan kata-kata kotor atau kasar.

"Tidak ada yang hanya 'Saya setuju dengan komen pak anu' atau 'Saya enggak setuju'. Sudah 6 minggu enggak ada. Saya lihatnya komentar-komentar mereka tidak ada yang redundant. Artinya, dia bilang satu paragraf, paragraf berikutnya dia bilang lagi, itu tidak ada. Dia beri poinnya langsung. Tepat sasaran," kata Tengku.

Pada saat memberikan komentar, sejauh pengamatan Tengku, jarang ada mahasiswa yang menulis dengan banyak paragraf. Para mahasiswa biasanya menulis sekitar dua atau tiga paragraf.

"Jadi, biasanya mahasiswa milih kata-katanya. Dia tulis paling hanya empat atau lima baris," ujarnya.

Tak jarang, lanjut Tengku, pada akhirnya para mahasiswa beradu argumen. Di situlah dosen bertindak sebagai penengah atau moderator. Selanjutnya, bila terlihat suasana komentar semakin tidak kondusif, dosen boleh saja mengambil langkah menutup forum.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X