Kompas.com - 04/07/2014, 16:38 WIB
Penulis Latief
|
EditorLatief

Seperti kegiatan di alam bebas lainnya, sejatinya, mendaki gunung bagaikan sedang menjalani kehidupan. Aktivitas pendakian gunung memiliki banyak bahan pengajaran pendidikan karakter yang pastinya dibutuhkan seseorang jika ingin sukses dan bahagia dalam hidupnya.

"Kata karakter di sini maksudnya bagaimana seseorang menampilkan kebiasaan positif dalam menyikapi segala kejadian yang dihadapinya dalam kehidupan. Kebiasaan positif itu tentunya dapat dipelajari dan perlu dibangun atau dilatih. Melalui kegiatan mendaki gunung, seseorang dapat membangun karakter positif dirinya dengan alamiah," ujar Nouf Zahrah Anastasia, praktisi psikologi yang kini menjabat Head of Special Education Sekolah Cita Buana kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (4/7/2014).

Nouf mengatakan, semua orang tahu, bahwa mendaki gunung kerap kali diidentikan dengan kegiatan "heroik" seorang anak pencinta alam. Bahkan, kegiatan tersebut dianggap olahraga yang menyerempet-nyerempet bahaya, dan tentu saja; kematian. Tetapi, kematian bukan dalam proses pendidikannya, tahapan membekali dirinya. Bukan itu!

"Semua itu benar, terutama jika dilakukan tanpa bekal pengetahuan yang cukup dan persiapan matang. Bukan apa-apa. Mendaki gunung adalah aktivitas yang jelas-jelas melibatkan kegiatan fisik berat di tengah alam yang sulit ditebak kondisinya," ujar Nouf. 

Esensi yang melenceng

Awalnya, organisasi kepencintalaman didirikan untuk tujuan pembangunan karakter, yaitu rasa cinta tanah air, tanggung jawab, semangat pantang menyerah, dan persahabatan. Semua itu dapat terwujud dengan cara bergiat di alam bebas.

Sejenak, melihat ke belakang, organisasi pencinta alam dibentuk untuk mewadahi para anak muda yang ingin berkelana di alam bebas. Dengan berkelana di alam bebas tersebut, mereka dapat bekerja sama dengan rekan seperjalanannya. Selain itu, mereka juga dapat bersilaturahmi dengan penduduk setempat untuk menebar semangat persahabatan.

Kegiatan kepencintalaman seyogianya dibentuk untuk meningkatkan intelektualitas, jasmani, dan rohani. Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu dapat diperoleh melalui sekolah, keluarga, dan pergerakan. Kegiatan kepencintalaman ini merupakan salah satu wadah pendidikan berbentuk pergerakan.

Dalam kegiatan ini, pembelajaran bukan hanya diperoleh dari mendengar, tetapi juga diperoleh dari  melihat, dan merasakan. Oleh karena itu, ide untuk menghentikan kegiatan kepencintalaman kurang tepat karena itu sama saja memampatkan basis pendidikan.

Ya, seperti perkataan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, kegiatan pencinta alam di sekolah harus dibina dengan baik, bukan begitu saja perlu dihentikan. Pendidikan dasar pencinta alam di sekolah-sekolah perlu dievaluasi lagi. (Baca: Ahok Tak Setuju Ekskul Pencinta Alam Ditutup).

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.