Memberikan wawasan, menumbuhkan harapan, tanpa gangguan iklan.
Berani coba? Dapatkan Gratis

"Saya Benar-benar Banyak Pengorbanan Ikut Beasiswa Dikti"

Kompas.com - 10/09/2014, 08:50 WIB
Andri Donnal Putera

Penulis


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Isu tentang keterlambatan pencairan dana pendidikan program beasiswa dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluas hingga diketahui oleh peserta beasiswa yang baru saja mendaftar tahun ini. EI, salah satu dari beberapa orang yang telah menjadi peserta beasiswa, mengaku telah berusaha semaksimal mungkin agar bisa terpilih mengikuti program Dikti tersebut.

"Saya benar-benar sudah banyak pengorbanan ikut beasiswa ini," kata EI kepada Kompas.com, Selasa (9/9/2014) malam.

Pengorbanan yang dimaksud EI salah satunya adalah biaya. EI mengaku bahwa dia harus mengeluarkan uang pribadi untuk membayar uang kuliah terlebih dahulu karena Dikti hanya memberikan biaya yang terbatas untuk jangka waktu sebulan saat peserta berangkat.

"Kita waktu berangkat dapat living allowance dan settlement allowance bulan pertama, tanpa tuition fee (uang kuliah)," tutur EI.

Padahal, untuk semua urusan administrasi, kata EI, seharusnya diselesaikan pada awal waktu peserta telah resmi mendapat beasiswa. EI menyayangkan hal tersebut karena beberapa temannya yang mendaftar beasiswa juga dari kalangan tidak mampu sehingga kondisi tersebut sangatlah memberatkan.

Terkait dengan biaya kuliah, EI mengaku tidak tahu kapan pihak Dikti akan mengurusnya. Sementara itu, EI dan peserta beasiswa lainnya harus segera berkuliah agar tidak menghabiskan uang hidup selama sebulan tanpa pernah masuk di universitas.

EI pun sadar bahwa kemungkinan besar dia akan mengalami keterlambatan pencairan dana yang sama seperti dialami peserta lainnya. Namun, EI memutuskan untuk mengikuti program dari Dikti ini terlebih dahulu.

Terlepas dari semua rangkaian program beasiswa itu, EI menambahkan bahwa dia tidak suka dengan cara dari pihak Dikti yang dinilai tidak ramah. Dia mencontohkan bentuk ketidakramahan Dikti saat dirinya sedang mengikuti proses seleksi peserta beasiswa.

"Pernah sekali kita saat program bimbingan ada penggantian uang untuk biaya hidup dan kita (disuruh) menandatangani dokumen (cek) kosong. Saat itu saya tidak tanya, tapi pas ada masalah setelah itu petugasnya suka bilang, 'Kalau enggak mau ikut alur, silakan keluar'," ujar EI.

Tanggapan Dikti

Secara terpisah, Direktur Jenderal Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dikti Supriyadi menjelaskan, ada kerumitan yang dialami pihak Dikti dalam mencairkan dana pendidikan peserta beasiswa. Kendala itu terdapat di sistem koordinasi dengan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) selaku yang memberi dana pendidikan.

"Ada yang perlu dipahami bahwa duitnya bukan Dikti yang pegang," tutur Supriyadi.

Proses dari Dikti sampai dana pendidikan diterima di masing-masing rekening peserta beasiswa di luar negeri bertahap. Pertama-tama, kata Supriyadi, peserta membuat dokumen kontrak beasiswa dengan Dikti. Dalam dokumen kontrak ini, peserta beasiswa juga dijamin selama satu semester untuk uang kuliah maupun biaya hidup dan asuransi.

Seusai semester satu, peserta diminta untuk membuat progress report, yaitu penilaian dari dosen pembimbing peserta di universitasnya. Setelah jadi, progress report dikirim ke Dikti via e-mail untuk dibuatkan surat perintah pembayaran (SPP). Setelah itu, dibuat lagi surat perintah membayar (SPM) yang akan diajukan Dikti ke KPPN.

"SPM itu artinya sudah memerintahkan KPPN untuk membayar (dana pendidikan peserta beasiswa)," kata Supriyadi.

Supriyadi mengimbau peserta beasiswa untuk segera mengurus progress report dan dokumen lainnya agar yang pembayarannya telat bisa segera diurus, maksimal pada September 2014.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com