Kompas.com - 07/11/2014, 07:00 WIB
Negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam yang 25 tahun lalu masih menjadi M Latief/KOMPAS.comNegara-negara seperti Malaysia dan Vietnam yang 25 tahun lalu masih menjadi "underdog", secara perlahan namun pasti sudah mulai "menyalip" Indonesia, yang dunia pendidikannya masih saja sibuk mengkaitkan bersekolah di luar negeri dengan anti-nasionalis, sibuk gonta-ganti kurikulum, atau sibuk dengan persaingan internal di dalam perguruan tinggi
EditorLatief

Secara umum, ada hubungan linier antara meningkatnya mobilitas pelajar ke luar negeri dan pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam yang 25 tahun lalu masih menjadi "underdog", secara perlahan namun pasti sudah mulai "menyalip" Indonesia, yang dunia pendidikannya masih saja sibuk mengkaitkan bersekolah di luar negeri dengan anti-nasionalis, sibuk gonta-ganti kurikulum, atau sibuk dengan persaingan internal di dalam perguruan tinggi dengan mengusung jumlah guru besar yang dimiliki, atau sibuk dengan masalah alokasi dana riset yang tak juga rampung-rampung.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang baru saja direstrukturisasi itu seharusnya mendorong dan memotivasi para pelajar untuk menggapai kesempatan belajar ke luar negeri seluas-luasnya sebagai salah satu agenda utama mereka. Kebijakan Kemdikbud harus berpihak pada usaha-usaha meningkatkan mobilitas internasional pelajar, baik dari maupun ke Indonesia. Caranya, misalnya, penyediaan beasiswa bagi pelajar berprestasi, student loan, dan termasuk di dalamnya memberi kemudahan bagi pelajar asing untuk bisa kuliah di Indonesia atau inbound international student mobility antara lain dengan memberi kemudahan visa pelajar dan sebagainya. Hal-hal itu secara langsung juga dapat mengakselesari proses internasionalisasi pendidikan tinggi nasional.

Nilai tambah

Menjadi kompetitif secara global adalah suatu keniscayaan di situasi dimana dunia menjadi semakin terbuka dan "unprotected". Berdasarkan pengamatan para mahasiswa yang kuliah di luar negeri, sebagian besar menggarisbawahi bahwa nilai tambah terbesar yang mereka dapatkan adalah soft skills dan personal development. Kedua hal itu justru menjadi penentu keberhasilan karir mereka setelah kembali ke tanah air.

Lailly Prihatiningtyas (29), Dirut BUMN termuda, yang sempat mengenyam pendidikan di Belanda untuk mendapatkan gelar magister di bidang akuntansi mengatakan, bahwa sistem pengajaran yang mengedepankan diskusi dan mengemukakan pendapat secara terbuka, dan juga belajar di lingkungan sangat kental nuansa internasionalnya telah melatihnya menjadi kritis, dapat memahami dan menyelesaikan bermacam masalah dengan pendekatan multikultur. Hal itu kurang dia dapatkan pada waktu menempuh pendidikan di dalam negeri, yang secara umum masih berorientasi ke pengetahuan kognitif semata dan menempatkan indeks prestasi (IP) masih menjadi indikator utama.

Pendidik Rhenald Kasali juga menekankan pentingnya mahasiswa mempunyai international exposure. Dia mengatakan, "Setiap mahasiswa harus memiliki surat izin memasuki dunia global".

Tanpa itu, mereka akan kesepian, "kuper", serta terkurung dalam kesempitan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Padahal, dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju dalam bentuk pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan kearifan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jadi, rasanya, sudah saatnya kita mengubah cara pandang yang menganggap bahwa kuliah di luar negeri hanyalah suatu kemewahan demi gengsi semata. Kita memerlukan percepatan di bidang pendidikan untuk bisa mengimbangi percepatan perubahan di dunia.

Asean Economic Community 2015 sudah di depan mata. Posisi Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan ini, dan juga fakta bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, membuat posisi Indonesia semakin "seksi" di mata dunia. Namun, otomatis itu semua membuat tantangan semakin besar, karena ditambah dengan tantangan global lainnya.

Sejarah membuktikan, bahwa banyak pemimpin bangsa seperti Syahrir, Hatta, Habibie dan Gus Dur justru menemukan "eureka"-nya pada saat mereka menuntut ilmu di "negeri orang", yaitu pada saat mereka berada di luar zona kenyaman mereka. Rasanya, Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, pun setuju kalau menuntut ilmu ke manca negara sejalan dengan konsep dasar pendidikan nasional kita yang dilahirkannya, yaitu bukan saja untuk mendapatkan ilmu kognitif (ngerti), tetapi juga ilmu afektif (rasa)/soft skills, wawasan dan psikomotorik (nglakoni). Karena, hanya dengan ilmu yang terintegrasi itulah, generasi muda kita mampu menjawab tantangan masa depan yang jauh lebih besar.

(Penulis adalah praktisi dan pengamat pendidikan yang kini bergiat sebagai Koordinator Tim Beasiswa di Netherlands Education Support Office/NESO)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X