Kompas.com - 31/03/2015, 16:20 WIB
Design thinking penting karena mahasiswa program MM Eksekutif merupakan orang-orang yang sudah atau sedang berada di jajaran manajerial dan memegang jabatan penting di perusahaan. Mereka, sebagai pengambil keputusan di perusahaan, harus dilatih berpikir dengan design thinking atau konsep berpikir tersebut. www.shutterstock.comDesign thinking penting karena mahasiswa program MM Eksekutif merupakan orang-orang yang sudah atau sedang berada di jajaran manajerial dan memegang jabatan penting di perusahaan. Mereka, sebagai pengambil keputusan di perusahaan, harus dilatih berpikir dengan design thinking atau konsep berpikir tersebut.
|
EditorLatief
KOMPAS.com – Tujuan melanjutkan pendidikan ke level pascasarjana atau S-2 tentu demi kehidupan lebih baik. Biasanya, orang yang mengambil program studi di level ini memang didasarkan pada kebutuhannya di dunia kerja.

Mahasiswa yang mengambil program studi Magister Manajemen (MM) Eksekutif, contohnya. Mereka mengambil program studi tersebut untuk memperkuat jabatannya di sebuah perusahaan.

"Biasanya yang mengambil program ini adalah mereka yang sudah kuat dan berpengalaman di bidang manajerial. Disiplin ilmu yang didapatkan ini diharapkan dapat berkontribusi dengan baik dalam karirnya," ujar Program Director MM Executive Binus Business School (BBS), Tubagus Hanafi, Selasa (31/3/2015).

Hanafi mengatakan, perbaikan dalam karir harus menjadi salah satu tujuan perguruan tinggi berbasis bisnis yang menyelenggarakan program MM Eksekutif. Di Binus Business School, misalnya, almamater mengharapkan lulusannya dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan bersinar.

"Lulusan MM Eksekutif harus memiliki better business, better career dan menjadi better person," kata Hanafi.

Untuk mencapai hal tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki pola pikir berbeda.

"Pengembangan design thinking penting untuk mahasiswa MM Eksekutif. Dengan begitu mereka dapat melahirkan inovasi dan kreatifitas," tambahnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bagi Hanafi, pola pikir tersebut penting karena mahasiswa program MM Eksekutif merupakan orang-orang yang sudah atau sedang berada di jajaran manajerial dan memegang jabatan penting di perusahaan. Mereka, sebagai pengambil keputusan di perusahaan, harus dilatih berpikir dengan design thinking atau konsep berpikir tersebut.

Konsep berpikir yang mengacu pada pola berpikir seorang product designer itu terdiri dari enam langkah. Keenam langkah itu adalah Emphatize, Define, Ideation, Vote, Prototype dan Story Tell.

Tantangan pertama adalah sulitnya menerapkan empati, karena kemampuan menjadi pendengar yang baik sangat dibutuhkan. Kesulitan kedua biasanya di saat fase mengeluarkan ide. Kebanyakan orang jatuh cinta dengan ide pertamanya dan menutup pikiran dari ide lainnya.

"Kesulitan terakhir, menghilangkan ego untuk ikut membangun dukungan saat seseorang memiliki ide," jelasnya.

www.shutterstock.com Konsep berpikir yang mengacu pada pola berpikir seorang product designer itu terdiri dari enam langkah. Keenam langkah itu adalah Emphatize, Define, Ideation, Vote, Prototype dan Story Tell.
Menurut Hanafi, pola pikir tersebut nantinya harus diterapkan dalam disiplin ilmu maupun kehidupan karirnya. Dengan dosen yang tak hanya berlatar belakang akademisi, namun juga berpengalaman menjadi top level executive, mahasiswa diharapkan mendapat inspirasi saat menyelesaikan studi-studi kasus dalam kelas.

"Selain studi kasus dalam kelas, juga ada agenda CEO Speaks yang akan berbagi pengalaman saat menyelesaikan masalah dalam perusahaan," ujarnya.

Selanjutnya, bila sudah menerapkan hal-hal tadi, harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bersinar baik dalam kehidupan, berbisnis atau pun karir mudah tercapai.

Baca juga: Ingat... Lulusan S-2 Makin Dibutuhkan untuk Posisi Penting Perusahaan!

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.