Kompas.com - 17/04/2015, 12:00 WIB
Binaragawan Ade Rai difoto usai bermain bulutangkis dalam acara Celebrity Smash di Atrium Mal Central Park, Jakarta Barat, Sabtu (18/5/2013). Acara tahunan untuk menyambut Djarum Indonesia Open 2013 ini menampilkan sejumlah publik figur seperti Ade Rai, Baim The Dance Company, dan AKP Silvia. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES RODERICK ADRIAN MOZESBinaragawan Ade Rai difoto usai bermain bulutangkis dalam acara Celebrity Smash di Atrium Mal Central Park, Jakarta Barat, Sabtu (18/5/2013). Acara tahunan untuk menyambut Djarum Indonesia Open 2013 ini menampilkan sejumlah publik figur seperti Ade Rai, Baim The Dance Company, dan AKP Silvia. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah saatnya sistem pendidikan formal memengaruhi motivasi siswa dan alumninya untuk berwirausaha. Alumni harus terlibat dan berdampak sesuai kapasitasnya masing-masing untuk mendorong motivasi dan semangat itu.

Demikian mengemuka dalam seminar kewirausahaan bertema "Jump Starting Risk Taking Education" pada Canisius Alumni Day 2015 di Jakarta, Kamis (16/4/2015). Acara tersebut diisi berbagai seminar yang bertujuan untuk membentuk mindset baru, terutama bagi alumni Kolese Kanisius, pemangku kepentingan publik, serta masyarakat umum.

Ade Rai, salah satu alumnus SMA Kolese Kanisius angkatan 1985, misalnya. Lewat upayanya membangun Rai Institute, Ade terkenal sebagai entrepreneur pusat kebugaran untuk kesehatan.

Ade mengawali perjalanan kariernya sejak masa sekolah, yaitu ketika dirinya sudah tertarik di bidang olahraga. Sejak saat itu dirinya menggeluti dunia olahraga, khususnya binaraga. Menurut Ade, dia telah jatuh cinta pada bidang olahraga yang telah mampu memberikan arti bagi dirinya untuk berkembang menjadi individu yang sehat.

"Dalam olahraga, saya diajarkan mengenai makna sportivitas dan kemenangan sejati. Begitu juga saat saya mulai membangun bisnis, yaitu untuk siap menjadi seorang pemenang dengan memiliki rasa cinta terhadap pola hidup sehat," kata Ade Rai.

Dia mengatakan, tingkat kecerdasan dengan kesehatan yang rendah bisa memberikan pola hidup kurang sehat. Menurut dia, hal itu akan dirasakan seseorang jika tidak memahami makna hidup sehat.

"Pola hidup sehat adalah kemandirian, bukan ketergantungan. Sangat salah jika mencari sehat dengan fondasi karena takut sakit, karena fondasi yang sebenarnya karena kenikmatan sehat itu sendiri," ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Alumni Kolese Kanisius Jakarta (PAKKJ) Adhi Anondo mengatakan bahwa tema seminar kali ini sengaja diangkat untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda agar berani mengambil risiko dalam berwirausaha. Seminar tersebut tidak mengupas dari parameter kesuksesan entrepreneur, tetapi suatu proses untuk mencari benang merah dalam pembentukan karakter melahirkan seorang wirausahawan.

"Relevansinya, pada akhirnya kami (alumni Kanisius) dididik untuk memberikan dampak menjadi seorang entrepreneur yang bermartabat, beretiket, serta membangun bangsa ke depannya," kata Adhi.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.