Kompas.com - 24/04/2015, 13:19 WIB
Gatot Suharjanto, Head of Product Design Engineering Program BINUS ASO School of Engineering (BASE) saat memberikan kuliah di hadapan mahasiswa-mahasiswanya Gatot Suharjanto, Head of Product Design Engineering Program BINUS ASO School of Engineering (BASE) saat memberikan kuliah di hadapan mahasiswa-mahasiswanya
|
EditorLatief

KOMPAS.com - Jepang terkenal dengan budaya disiplin yang kental di setiap sendi-sendi kehidupannya. Anak-anak Jepang diajarkan berdisiplin dan mandiri sejak dini, bahkan diadopsikan dalam sistem pendidikan formal di berbagai jenjang.

Itulah kunci kesuksesan Jepang mempertahankan dominasi ekonominya di dunia. Tak heran,  karena minimnya pengenalan tentang dunia kerja, para fresh graduate lulusan universitas di Indonesia mengalami culture shock saat pertama kali memasuki lingkungan kerja, terutama jika bekerja di perusahaan bertaraf internasional.

Hal paling sering ditemui adalah kesulitan mengaplikasikan pengetahuannya semasa kuliah dalam pekerjaan. Para sarjana tersebut juga kerap sulit membiasakan diri dengan kultur perusahaan tempat mereka bernaung. Ya, walaupun umumnya pengalaman kerja telah mereka peroleh saat menjalani program magang, ternyata waktu tiga bulan tidak cukup untuk mempelajari dan memahami semuanya.

"Orang Indonesia ramah dan baik hati. Tapi, memang, ketika berbicara kultur, kebanyakan mereka tidak terbisa untuk bekerja dan berfikir mandiri," tutur Tsuyoshi Ishizaki, Deputy Head of Pruduct Design Engineering Program Binus – ASO School of Engineering (BASE) saat ditemui KOMPAS.com, di Kampus Kijang Binus University, Senin (20/4/2015).

Ishi-Sensei, sapaan akrab Tsuyoshi Ishizaki, mencontohkan tentang perbedaan antara mahasiswa Jepang dan Indonesia ketika diberikan soal-soal pekerjaan rumah (PR). Jika diminta menyelesaikan soal nomor satu sampai sepuluh misalnya, mahasiswa Indonesia cenderung mengerjakan sesuai dengan jumlah yang diminta.

"Berbeda dengan mahasiswa Jepang. Mereka akan mengumpulkan tugas melebihi kuota dasar, misalnya, menyelesaikan 15 sampai 20 soal," ujarnya.

Selain itu, kebanyakan anak-anak Indonesia, masih menurut Ishi-Sensei, secara umum masih kurang menghargai waktu. Padahal di Jepang, efisiensi waktu sangatlah penting.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Bagi mereka, waktu yang terbuang sia-sia sama saja dengan menghambur-hamburkan uang," kata Ishi-Sensei.

Work ethic

Head of Automotive and Robotics Engineering Program Binus – ASO School of Engineering (BASE), Sofyan Tan, solusi dalam pendidikan abad ini, terutama di perguruan tinggi di Indonesia, harus mulai memberikan pembekalan mental yang tepat untuk membangun jiwa-jiwa muda yang mandiri, terorganisasi, dan menghargai waktu. Kultur itulah yang tengah diadopsi oleh Binus–ASO School of Engineering (BASE) dalam perkuliahan sehari-hari.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.