Nestle Bongkar Rahasia Strategi "Branding"-nya

Kompas.com - 26/05/2015, 10:56 WIB
Setiap brand mempunyai kerangka ide berbeda. Bagi Nestle misalnya, semua produk Nestle harus mengedepankan kesehatan dan kebaikan hidup. Adhis AnggianySetiap brand mempunyai kerangka ide berbeda. Bagi Nestle misalnya, semua produk Nestle harus mengedepankan kesehatan dan kebaikan hidup.
|
EditorLatief

KOMPAS.com – Persaingan bisnis semakin ketat. Saat ini, monopoli bisnis sudah langka ditemukan di dunia, termasuk Indonesia. Semua orang mempunyai hak dan kesempatan sama untuk turut meramaikan pasar. Lalu, bagaimana mana cara melekatkan brand di hati konsumen?

Indrasena Patmawidjaja selaku Business Executive Manager PT Nestle Indonesia berbagi pengalamannya tentang hal itu pada kuliah umum Program Business Management & Marketing Binus International bertajuk " Branding Strategy by Nestle, A Multinational Company Experience", di kampus Binus JWC, Senayan, Kamis (21/5/2015). Pria yang akrab disapa Dede itu membongkar strategi branding Nestle Indonesia.

"Nestle brand terbesar di dunia. Sayangnya, kami bukan nomor satu di Indonesia. Karena itu, kami perlu bekerja lebih keras merebut hati konsumen," ujar Dede.

Dede mengatakan, Nestle menawarkan ide tentang kehidupan di balik kenikmatan secangkir kopi. Alasannya, orang sudah bosan mendengar keunggulan produk. Padahal, lanjut dia, ketika konsumen jatuh cinta pada ceritanya, mereka akan menyukai semua produk dari brand tersebut.

"Lihat saja Apple. Banyak orang menyukai Apple bukan karena produknya, tapi karena ceritanya. Mereka merasa bangga jika bisa memiliki Apple," tutur Dede.

Bagaimana caranya? Dede menuturkan, semua dimulai dari penelitian produk, respon pasar, dan ekspektasi konsumen. Lalu, berdasarkan data ini, temukan ide besar atau cerita unik dari produk.

"Cerita mencakup pengalaman yang akan didapatkan dan karakter brand atau istilahnya ‘memanusiakan’ brand," ujarnya.

www.shutterstock.com Setiap brand mempunyai kerangka ide berbeda. Bagi Nestle misalnya, semua produk harus mengedepankan kesehatan dan kebaikan hidup. Ide besar itu kemudian ada dan diaplikasikan, mulai proses pembuatan hingga produk diterima di tangan konsumen.

"Semakin bagus cerita, semakin tinggi nilai brand-nya," kata Dede.

Cerita itu kemudian harus dikemas semenarik mungkin. Selanjutnya, cerita disampaikan kepada konsumen pada waktu, tempat, dan dengan cara yang mereka inginkan.

"Karena, pada dasarnya orang tidak suka dipaksa," jelasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X