Bentuk "Personal Branding" Cemerlang, Sekarang!

Kompas.com - 22/06/2015, 17:17 WIB
www.shutterstock.com KOMPAS.com – Hari ini, Fina, salah satu tim rekrutmen, sedang sibuk mencari kandidat untuk menempati beberapa posisi di kantornya. Saat membuka e-mail, sekitar seratus pelamar telah mengirim resume.

Selesai membaca satu resume selama dua menit, Fina membuka mesin pencari Google di komputernya. Diketiklah nama salah satu calon kandidat tadi. Dengan seksama, dia memeriksa hasil penelusuran dari halaman pertama sampai ketiga.

Tak lama, Fina menggelengkan kepala sembari menutup jendela pencari. Lalu, mulailah ia membaca resume pelamar selanjutnya.

"Inilah yang dinamakan zero moment of truth. Tanpa bertemu, bahkan seorang staf rekrutmen sudah bisa berasumsi apakah dia cocok atau tidak dengan posisi yang dibutuhkan,” tutur Amalia E. Maulana, Brand Consultant & Ethnographer dari PT Etnomark Consulting pada workshop " Personal Branding, Membangun Citra Diri yang Cemerlang" yang diselenggarakan oleh Binus Business School di Kampus Joseph Wibowo Center (JWC), Senayan, Selasa, (9/6/2015).

Adhis Anggiany Amalia E. Maulana, Brand Consultant & Ethnographer dari PT Etnomark Consulting, pembicara dalam mini workshop “Personal Branding, Membangun Citra Diri yang Cemerlang”. Diselenggarakan oleh Binus Business School di Kampus Joseph Wibowo Center (JWC), Senayan pada Selasa, (9/6/2015)

Dia mengatakan, tanpa sadar penggunaan media sosial menjadi cerminan pribadi seseorang. Walaupun data yang ditemukan belum tentu benar, orang cenderung berasumsi dan menyimpulkan sendiri.

"Karena itu, sayang sekali kalau media sosial ini tidak dimaksimalkan dengan baik,” ucap Amalia.

Salah kaprah

Kebanyakan orang alergi terhadap pencitraan atau “branding”. Branding seolah-olah hanya diperuntukkan bagi golongan profesi tertentu. Misalnya artis, pejabat, atau CEO.

"Branding sering disalahartikan. Kesannya, branding itu berarti punya website atau sering dibicarakan di media sosial. Padahal, itu semua adalah ranah markom (marketing komunikasi),” tegas Amalia.

Padahal, menurutnya, seorang tukang sayur pun harus memiliki kekuatan “brand” agar produk dan jasanya dipilih oleh konsumen. Dia harus berbeda dan punya keunggulan lebih dari tukang sayur lainnya.

"Keunikan atau core value itu luar biasa penting," kata mantan dosen Universitas Binus itu.

Cara membangun citra diri

Lalu, bagaimana membangun personal brand agar bisa menjadi orang unggul, istimewa, dan memiliki nilai saing tinggi? Menurut Amalia, tujuh tahap membangun citra diri berikut wajib ditempuh agar tercipta personal brand yang kuat dan menyeluruh:

Halaman Berikutnya
Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorLatief
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X