Kompas.com - 10/10/2015, 13:22 WIB
Elita Tirta Triningrum, anak nelayan warga Jl Empang, Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara, meraih beasiswa kuliah di Podomoro University. Dok PT MWS Elita Tirta Triningrum, anak nelayan warga Jl Empang, Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara, meraih beasiswa kuliah di Podomoro University.
Penulis Latief
|
EditorLatief
KOMPAS.com - Bau amis dan kumal. Begitulah umumnya pandangan orang terhadap anak-anak kampung nelayan di seluruh nusantara. Tak terkecuali di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara.

Jangankan punya standar hidup elit, bisa makan tanpa banyak utang saja sudah bagus. Jangankan sekolah di perguruan tinggi, bisa menamatkan bangku sekolah dasar saja sudah terhitung lumayan.

Memang, bagi sebagian besar anak-anak nelayan Muara Angke mengenyam pendidikan adalah hal yang mustahi, apalagi sampai jenjang perguruan tinggi. Bagi mereka, kuliah hanyalah bunga tidur, apalagi di perguruan tinggi berstandar internasional.

Bagi mereka, hidup sejak kanak-kanak terhitung hanya itu-itu saja. Dari pagi hingga petang kehidupan hari-harinya hanya membantu orang tua mencari nafkah. Tak ada yang lain.

Pahitnya kenyataan hidup itu ternyata bisa "dibalik" oleh Elita Tirta Triningrum anak nelayan warga Jl Empang, perkampungan Nelayan Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara. Elita berhasil keluar dari kehidupan yang "itu-itu saja".

"Dulu, saya sendiri sering ikut orang tua ke laut untuk cari ikan. Biasanya saya disuruh ngumpulin hasil tangkapan atau membuang air laut yang masuk ke perahu supaya enggak tenggelam waktu menjaring ikan," kata Elita, Sabtu (10/10/2015).

Elita adalah satu dari sekian ribu anak nelayan yang kerap mengikuti kemana orang tuanya pergi melaut untuk mencari ikan. Semua itu dilakukan tak lepas dari beratnya himpitan ekonomi keluarganya. Kendati ibunya turut membantu ekonomi rumah tangga dengan menjadi penjahit, hal itu tetapi belum cukup untuk meningkatkan taraf hidupnya hingga bisa disebut layak.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mengajar dan beasiswa

Boleh jadi, hanya semangat Elita yang bisa membuatnya keluar dari himpitan itu. Kendati serba kekurangan, anak bungsu dari tiga bersaudara ini bukan anak nelayan yang malas belajar dan apatis terhadap lingkungan sekitarnya.

Selain membantu orang tuanya mencari nafkah, Elita masih menyempatkan diri mengikuti pendidikan formal di salah satu SMK Remaja di kawasan Pluit. Bahkan, dia mengaku masih menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak nelayan lainnya di PAUD, Paket A, B, C, TPA, serta menari.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X