Interview PRT Baru

Kompas.com - 03/07/2016, 22:44 WIB
Ist Ilustrasi

Di apartemen saya, mulai banyak terlihat ibu-ibu muda yang sedang menjemur pakaiannya. Kadang saya juga melihat ada yang menyapu atau mengepel lantai apartemennya.

Kalau libur lebaran begini, ibu-ibu ini masih bisa melakukan semua itu, sambil berjoget ria disertai musik ajeb ajeb. Tapi, tentu setelah waktunya kerja kembali, para ibu bekerja ini membutuhkan bantuan babysitter untuk membantunya menjaga anak atau bantuan PRT untuk membersihkan apartemennya.

Dan, dunia ibu-ibu ini menjadi gempar ketika tahu-tahu ada SMS dari sang babysitter/PRT yang memberitahukan bahwa kakek-nya meninggal (entah kakek ke berapa, atau entah si kakek yang sama meninggal berapa kali, alias alasan yang bohong), suami-nya lah gak kasih kerja lagi, anak-nya kasihan, dan sebagainya.

Biasanya babysitter dan Pembantu Rumah Tangga merupakan tenaga kerja “ahli rumah tangga” dan “ahli bayi” yang direkrut tanpa melewati proses seleksi kerja yang selayaknya. Kebanyakan, mereka diterima kerja dengan dua alasan utama: (majikan) kepepet dan pernyataan agen penyalur/pengakuan mereka akan pengalaman kerja selama ini.

Mereka tidak melewati psiko-test untuk diketahui dulu karakter-nya dan pola perilakunya. Mereka tidak melewati beberapa kali proses interview. Sekali interview saja: cocok atau gak cocok. Bahkan, ada juga yang hanya di-interview via telpon atau Whatsapp saja. Padahal, tanggung jawab mereka BUESAAR !

Saya tidak mengharuskan Anda untuk menggunakan psiko-test, grafologi dan sejenisnya.

Tapi, saya sangat menyarankan Anda agar menguasai teknik investigative interview dan teknik analisa verbal serta nonverbal secara dasar saat merekrut PRT atau babysitter.

Tips #1: Mintalah sang calon PRT/BabySitter untuk menulis kronologis pengalaman kerjanya sejak pertama kali menjadi PRT / BabySitter atau dalam 3 tahun terakhir

Menulis itu penting lho. Selain buat bahan analisa dengan teknik SCAN ataupun teknik Grafologi, bila Anda bisa, tulisan sang calon bisa menjadi bahan Anda bertanya. Anggap saja, tulisan mereka ini seperti curricullum vitae.

Minta dia menulis mundur , yaitu menuliskan pengalaman kerja terakhir, sebelum terakhir ini, dan sebelum-sebelumnya (dalam 3 tahun terakhir).

Tips #2: Bertanyalah tanpa mengikuti kronologis urutan pekerjaan (Enhanced Cognitive Interview)

Jangan bertanya secara runut atau berurutan. Biasanya, setiap pelamar kerja, termasuk pekerja profesional, sudah mempersiapkan cerita tentang pengalaman kerja terakhir. Tanyalah pengalaman kerja-nya 3 tahun lalu, kemudian lompat ke pengalaman kerja terakhir, dan sebelum yang terakhir ini. Ingatlah semua yang ia katakan.

Tips #3: Bertanyalah secara detail tentang peranan/job deskripsi dan agenda kerja dari sang calon di setiap majikan (Statement Validity Analysis)

Anda harus menyadari bahwa setiap majikan memiliki situasi dan kondisi yang berbeda, dan mereka menetapkan peranan/job deskripsi yang berbeda bagi PRT/BabySitter nya, serta mereka juga mewajibkan satu agenda kerja yang unik, sesuai situasi dan kondisi mereka sendiri.

Hal ini penting di ketahui agar Anda bisa menakar apakah sang calon memang kompeten sesuai situasi dan kondisi Anda sendiri. Dan, sadarilah bahwa sang calon PRT/BabySitter punya agenda kerja yang berbeda di setiap majikan juga.

Perhatikan penggunaan kata “BIASANYA”. Kata BIASANYA ini adalah kata yang menggeneralisasi sesuatu, yang mana artinya adalah bisa jadi sang calon tidak memiliki pengalaman yang Anda syaratkan, atau sang calon tidak mau mengungkap pengalaman spesifik yang dialami di majikan tertentu, atau sang calon sebetulnya tidak nyaman untuk mengungkapkan ketrampilan apa saja yang menjadi kekurangannya dan dikeluhkan oleh majikan sebelumnya.

Perhatikan juga penggunaan kata “SEPERTINYA, KAYAKNYA, RASANYA” karena jenis kata ini sebetulnya menyiratkan bahwa sang calon tidak tahu jawaban atas pertanyaan Anda.

Perhatikan juga kata “PENDEK KATA, SINGKATNYA, SEDERHANANYA, INTINYA” karena jenis kata ini sebetulnya merupakan indikasi bahwa ada missing information tertentu yang tidak ingin diceritakan oleh sang calon.

Mungkin ia tidak nyaman, mungkin ia tidak merasa informasi tersebut penting, mungkin juga sebetulnya ia berbohong sehingga ia tidak memiliki kekayaan pengalaman yang ia rekayasa tersebut.

Perhatikan cara sang calon menyebut majikannya. Cek ricek bila Anda menemukan panggilan majikan yang berbeda dari majikan-majikan lainnya. Tanyakan alasannya.

Tips #4A: Tanyakan definisi kerja sebagai PRT/BabySitter yang ideal menurut dirinya. Minta sang calon membandingkan definisi ini dengan contoh pengalaman kerja sebelum-sebelumnya (jangan hanya 1 pengalaman kerja). Bila Anda kurang jelas, tanyakanlah, dan jangan berasumsi. Dan ingatlah, setiap kali Anda bertanya sebuah kronologis kerja, tanyakanlah secara mundur atau lompat-lompat.

Tips #4B: Tanyakan definisi majikan yang ideal menurut dirinya. Minta sang calon membandingkan definisi tersebut dengan karakteristik majikan terakhir, majikan sebelum terakhir tersebut, majikan sebelum-sebelumnya. Bila Anda kurang jelas, tanyakanlah, dan jangan berasumsi. Dan ingatlah, setiap kali Anda bertanya sebuah kronologis kerja, tanyakanlah secara mundur atau lompat-lompat.

Anda akan segera menemukan banyak hal menarik dari jawaban sang calon. Pertama, Anda akan menemukan apakah Anda cocok dengan kriteria mereka, dan Kedua, Anda akan menemukan mengapa ia keluar dari majikan-majikan sebelumnya.

Tips #5. Pelajarilah teknik analisa ekspresi wajah dengan baik, agar Anda memahami ekspresi sesungguhnya dari emosi seseorang. Anda khususnya harus tahu bagaimana ekspresi seseorang yang sebetulnya marah atau mencibir di balik senyum lebarnya atau bagaimana ekspresi seseorang yang sebetulnya takut di belakang amarahnya.

Tips #6. Korek lebih dalam mengenai keluarganya, tentang kakek-nenek-ayah-ibu, suami, serta anak. Hafalkan atau bahkan rekam dengan baik, karena inilah yang biasanya dijadikan alasan mereka untuk mengundurkan diri. Jangan sampai Anda tertipu dengan alasan nenek meninggal, padahal nenek nya sudah meninggal sejak bertahun-tahun.

Percayalah PRT/BabySitter Anda tidak sejujur itu atau tidak sepolos itu atau bahkan sungkan untuk mengatakan bahwa mereka tidak betah atau mereka telah menemukan pekerjaan yang baru.

Akhir kata,

Semoga 6 tips ini bisa membantu Anda dalam memilih calon PRT/BabySitter yang baru, dan tentunya yang lebih baik dari yang sebelumnya.


EditorWisnubrata

Terkini Lainnya



Close Ads X