Mau Kuliah di Belanda Tak Perlu "Galau"!

Kompas.com - 09/11/2016, 16:22 WIB
Para pelajar Indonesia penerima beasiswa Studeren in Nederland (StuNed) di Belanda menggagas forum diskusi Dok Nuffic Neso IndonesiaPara pelajar Indonesia penerima beasiswa Studeren in Nederland (StuNed) di Belanda menggagas forum diskusi "In the Footstep of Hatta: How to Build Global Competitiveness". Diskusi digelar pada acara tahunan StuNed Day di KBRI Den Haag, Belanda, Sabtu (19/3/2016).
|
EditorPalupi Annisa Auliani

 


JAKARTA, KOMPAS.com – Mayoritas pelajar Indonesia sebenarnya punya kemampuan cukup untuk mengikuti perkuliahan berstandar internasional. Di Belanda, misalnya, mahasiswa asal Indonesia disebut jarang mengalami kesulitan berarti ketika menempuh studi.

"Mereka (mahasiswa Indonesia di Belanda) mungkin bukan juara kelas, tapi mereka selalu lulus ujian dan belajar cukup keras," kata Direktur Nuffic Neso Indonesia, Mervin Bakker, dalam wawancara khusus di sela pameran pendidikan Dutch Placement Day 2016 di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat (4/11/2016).

Bakker mengaku mendapatkan informasi tersebut dari salah satu universitas di Amsterdam, Belanda, yang memiliki cukup banyak mahasiswa asal Indonesia.

Dia menambahkan, keberhasilan itu antara lain ditengarai karena para mahasiswa tak mengalami masalah psikologis yang serius di sana. Mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan kampus.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kuliah di luar negeri sudah sewajarnya penuh tantangan, lingkungannya pun serba baru," ucap Bakker tentang kemungkinan mahasiswa Indonesia merasa kurang percaya diri untuk belajar di luar negeri.

Menurut dia, perasaan kurang nyaman normal dialami orang yang datang ke tempat asing atau istilahnya "keluar dari zona aman".

"Saya juga sempat merasakan hal sama waktu pertama kali datang ke Indonesia untuk bekerja," kata Bakker.

Motivasi

Bakker menyarankan, pelajar Indonesia yang berniat melanjutkan studi ke Belanda harus punya motivasi cukup kuat. Menurut dia, hal ini akan menjadi salah satu faktor penting yang membuat mereka mampu merampungkan studi di luar negeri.

"Di luar negeri nanti kan mereka (mahasiswa) harus belajar keras, mungkin mereka juga akan merasa kesepian. Mengingat kembali motivasi awal akan membuat mereka kuat," jelas Bakker.

Dok. Nuffic Neso Indonesia Pameran pendidikan Dutch Placement Day 2016 digelar di Erasmus Huis, Jakarta, pada Jumat (4/11/2016).

Bentuk motivasi bisa jadi berbeda-beda pula bagi tiap orang. Chris, contohnya. Alumnus University of Amsterdam (UvA) ini mengaku, cita-cita kuliah ke luar negeri mendorongnya untuk terus berusaha.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X