Catat Persiapan Ini Sebelum Hadapi Tantangan Belajar di Luar Negeri!

Kompas.com - 19/06/2017, 21:10 WIB
Para penerima Beasiswa StuNed 2017 mendapat arahan tentang kehidupan pelajar di Belanda saat Welcoming Session, di Conclave, Jakarta Selatan, Sabtu 17 Juni 2017. Auzi Amazia/KOMPAS.comPara penerima Beasiswa StuNed 2017 mendapat arahan tentang kehidupan pelajar di Belanda saat Welcoming Session, di Conclave, Jakarta Selatan, Sabtu 17 Juni 2017.
|
EditorSri Noviyanti

KOMPAS.com - Bisa melanjutkan pendidikan ke universitas di luar negeri menjadi hal yang membanggakan bagi banyak pelajar Indonesia. Apalagi kalau bisa meraihnya dengan beasiswa.

Maka dari itu, persiapan harus dipersiapkan lebih lama dibandingkan biasanya. Bahkan usaha dan tantangan tak berhenti hanya pada lolos seleksi. Beberapa mahasiswa yang lulus mengatakan ada hal penting lainnya, yakni pengenalan kurikulum belajar dan mencari tahu cara survive di negeri tujuan.

Koordinator beasiswa Neso (Netherland Education Support Office), Indy Hardono, mengamini bahwa budaya akademis adalah tantangan terbesar mahasiswa Indonesia di luar negeri.

"Beda banget, (budaya akademisi di negeri lain) mengharuskan mahasiswa aktif berpartisipasi. Mereka harus kritis, dan sering bertanya, serta banyak berinteraksi dalam kerja grup," kata Indy ditemui Kompas.com dalam acara Welcoming Session penerima beasiswa Studeren in Nederland ( StuNed) 2017 di Jakarta Sabtu (17/6/2017).

Tahun ini, ada 80 pelajar Indonesia yang lolos beasiswa StuNed. Sebelum berangkat ke Belanda pada Agustus mendatang, mereka akan mempersiapkan diri melalui program akulturasi. Tujuannya agar mereka tidak kaget ketika berbaur dengan budaya di sana.

Rida Desyani adalah salah satu mahasiswi penerima beasiswa StuNed. Ia mengambil program master selama 2 tahun di Delft University of Technology jurusan Hydraulic Engineering.

Menurut Rida, kuliah ke luar negeri berarti akan keluar dari zona nyaman dan rutinitas biasanya. Oleh karenanya, salah stau yang jadi persiapannya adalah mencari tahu sistem belajar di Belanda.

"Sistem belajar di sana cepat, nggak seperti di sini. Sepengetahuan yang saya dengar, di sana sistemnya quarter dimana per-dua bulan ada ujian," kata Rida saat ditemui usai Welcoming Session StuNed.

Tantangan lain ada pada kondisi cuaca yang berbeda jauh dari Indonesia. Kemudian juga cara bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Dok Nuffic Neso Indonesia Para pelajar Indonesia penerima beasiswa Studeren in Nederland (StuNed) di Belanda menggagas forum diskusi In the Footstep of Hatta: How to Build Global Competitiveness. Diskusi digelar pada acara tahunan StuNed Day di KBRI Den Haag, Belanda, Sabtu (19/3/2016).
Namun, alumnus StuNed 2015 Katharina Cindriani mengatakan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia bilang, kuncinya ada pada rasa percaya diri saat bergaul.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X