Bukan Mimpi, Indonesia Juga Bisa Jadi Negara Maju! - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dan Tanoto Foundation

Bukan Mimpi, Indonesia Juga Bisa Jadi Negara Maju!

Kompas.com - 21/12/2017, 09:21 WIB
IlustrasiRawpixel Ilustrasi

PANGKALAN KERINCI, KOMPAS.com — Menjadi negara kelas wahid dunia tentunya merupakan cita-cita segenap warga Tanah Air. Indonesia punya potensi besar untuk mewujudkan hal itu.

Negeri tropis ini memiliki sejumlah modal kuat. Sebut misalnya jumlah sumber daya manusia Indonesia yang melimpah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai sedikitnya 260 juta orang. Lebih progresif lagi, sekitar 40 persen dari populasi tersebut adalah kaum milenial produktif.

“Sumber daya manusia berperan penting untuk kemajuan Indonesia. Terlebih lagi, anak muda kita amat banyak. Itulah kunci untuk memenangi persaingan global,” ucap anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation, Anderson Tanoto, saat berbincang dengan Kompas.com di sela-sela Tanoto Scholars Gathering, Rabu (22/11/2017), di Pangkalan Kerinci, Rau.

Besarnya angkatan kerja produktif itu, lanjut Anderson, merupakan momentum tepat bagi Indonesia untuk menyalip negara maju lainnya.

Ambil contoh Jepang. "Negeri Sakura" itu kini mulai mengalami kondisi penduduk menua (aging population). Hal itu membuat jumlah angkatan kerja produktif di sana menyusut sehingga memunculkan tantangan dalam mendongkrak pertumbuhan industri.

“Mumpung penduduk kita masih muda, manfaatkanlah peluang emas ini,” imbuhnya.

Selain besarnya jumlah sumber daya manusia, modal kuat lain yang dimiliki Indonesia adalah keragaman budaya.

Dengan kekayaan 17.000 pulau, 714 suku, dan lebih dari 1.000 bahasa lokal, Indonesia memiliki anugerah terindah sebagai suatu bangsa.

Keragaman suku bangsa, bahasa, agama, dan adat sudah sepatutnya kita syukuri. Kemajemukan bukanlah untuk dipertentangkan, melainkan dirayakan bersama.

“Indonesia adalah negara multikultural. Karena itu, para founding fathers (pendiri bangsa) amat visioner pada 1945. Mereka membuat gagasan luar biasa, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tetapi tetap satu,” kata Anderson.

Anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation Anderson TanotoTF Anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation Anderson Tanoto
Menurut Anderson, kebinekaan itu mesti disikapi dengan keterbukaan pemikiran dari segenap bangsa Indonesia. Dengan cara itulah kita bisa lepas landas menjadi negara kompetitif di tingkat global ke depannya.

Tak lupa, satu sumber daya lain yang dimiliki Indonesia adalah kekayaan alam. Membentang dari Sabang sampai Merauke, Pulau Miangas hingga Pulau Rote, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang tak dimiliki negara-negara lainnya.

“Cuaca di Indonesia sedemikian baik, kita menanam apa pun bisa cepat panen,” tambah Anderson.

Sebagai contoh tanaman akasia. Jenis tanaman tersebut memiliki siklus panen yang cepat. Dengan iklim hangat seperti Indonesia, tanaman itu dapat dipanen dalam waktu sekitar 5 tahun. Jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan di Eropa yang mencapai 25 tahun.

Semangat kuat

Hakikat kekayaan Indonesia adalah besarnya sumber daya manusia, keragaman budaya, dan indahnya alam sudah selayaknya diikuti dengan persistensi dari setiap individu untuk bergerak. Langkah bersama dapat memastikan misi menjadi negara tangguh bisa terwujud.

Tidak perlu dimulai dengan hal rumit, tetapi dapat diawali dari langkah sederhana. Seperti yang dilakukan Agata Ayu Gita (21). Penerima beasiswa Tanoto Foundation dari Universitas Indonesia itu memilih jalur budaya untuk mengharumkan nama Indonesia.

Sejak 2016, Gita menjadi Putri Batik dengan tujuan mempromosikan batik sebagai warisan budaya asli Indonesia.

“Batik adalah aset besar bangsa ini. Karena itu, menjadi penting untuk terus menjaganya bersama-sama,” ujar mahasiswi semester 7 jurusan teknik industri tersebut.

Sebagai generasi muda, Gita optimistis bahwa kekayaan budaya merupakan aspek krusial untuk menggelorakan nama Indonesia di pentas dunia.

“Tak ada negara lain yang memiliki budaya sekaya Indonesia. Mengapa kita tak menggali dari situ? Kebudayaan bisa menyerap banyak lapangan kerja,” sambung Gita yang bercita-cita menjadi Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) suatu saat nanti.

Penerima beasiswa Tanoto FoundationTF Penerima beasiswa Tanoto Foundation
Semangat untuk memberi sumbangsih untuk Indonesia juga ditunjukkan Hafiz Aulia (21). Penerima beasiswa Tanoto Foundation sejak 2016 itu memilih elektronika sebagai jalur perjuangan.

Kegigihan untuk menimba ilmu berhasil mengantarkannya hingga pucuk tertinggi Student Formula Japan 2017, sebuah ajang kreasi bidang pengembangan mobil listrik berskala global.

“Indonesia potensial menjadi negara industri besar karena jumlah sumber daya manusia begitu melimpah. Dengan riset yang baik, pastilah kita bisa menciptakan produk-produk unggulan dunia,” tuturnya yakin.

Baca juga: Kala Rio Haryanto Bakar Semangat 250 Muda Mudi Milenial…

Berkenaan dengan semangat kaum muda di atas, Ketua Pengurus Tanoto Foundation Sihol Aritonang mengatakan, Tanoto Foundation memang ingin menciptakan generasi muda yang memiliki kepemimpinan dan keinginan kuat untuk maju.

Karena itulah, sebanyak 250 penerima beasiswa Tanoto Foundation dari 21 universitas se-Indonesia ditempa berbagai keahlian selama pergelaran Tanoto Scholars Gathering di Riau.

Acara tersebut adalah bagian dari program beasiswa Tanoto Foundation yang bertujuan agar para penerima beasiswa mampu menjadi pembelajar seumur hidup, pemimpin yang unggul, dan peduli terhadap masyarakat sekitar mereka.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorKurniasih Budi
Komentar

Terkini Lainnya

Peti Matinya Dihancurkan, Lansia di China Dapat Kompensasi Rp 2 Juta

Peti Matinya Dihancurkan, Lansia di China Dapat Kompensasi Rp 2 Juta

Internasional
Mulai Tahun Ini, Calon Jemaah Haji yang Meninggal Dunia Bisa Digantikan Keluarganya

Mulai Tahun Ini, Calon Jemaah Haji yang Meninggal Dunia Bisa Digantikan Keluarganya

Nasional
Kepada Sudirman, Ganjar Minta Diajari Buka 5 Juta Lapangan Kerja dalam 5 Tahun

Kepada Sudirman, Ganjar Minta Diajari Buka 5 Juta Lapangan Kerja dalam 5 Tahun

Regional
Partai Hijau di Australia Desak Legalisasi Ganja

Partai Hijau di Australia Desak Legalisasi Ganja

Internasional
Kekuatan Jokowi Untuk Pilpres 2019 Dianggap Lebih Besar Daripada 2014

Kekuatan Jokowi Untuk Pilpres 2019 Dianggap Lebih Besar Daripada 2014

Nasional
Kasus Korupsi Berlian Rp 208 Triliun, Parlemen Zimbabwe Panggil Mugabe

Kasus Korupsi Berlian Rp 208 Triliun, Parlemen Zimbabwe Panggil Mugabe

Internasional
Tertimpa Boneka Beruang saat Tidur, Bayi 18 Bulan Meninggal

Tertimpa Boneka Beruang saat Tidur, Bayi 18 Bulan Meninggal

Internasional
Politisi PDI-P Sebut Jokowi dan Prabowo Bisa Bersatu, Asalkan...

Politisi PDI-P Sebut Jokowi dan Prabowo Bisa Bersatu, Asalkan...

Nasional
Ida Fauziyah Sebut Perempuan Paling Banyak Terdampak Kemiskinan di Jateng

Ida Fauziyah Sebut Perempuan Paling Banyak Terdampak Kemiskinan di Jateng

Regional
Para Perempuan Pengelola Sampah untuk Selamatkan Bumi

Para Perempuan Pengelola Sampah untuk Selamatkan Bumi

Regional
Sandiaga Bantah Bahas Bersatunya Jokowi-Prabowo Saat Bertemu Ketum PPP

Sandiaga Bantah Bahas Bersatunya Jokowi-Prabowo Saat Bertemu Ketum PPP

Nasional
Berteduh di Pos Ronda, Warga Sukabumi Diduga Tewas Tersambar Petir

Berteduh di Pos Ronda, Warga Sukabumi Diduga Tewas Tersambar Petir

Regional
Kota di AS Larang Polisinya Berlatih dengan Militer Israel

Kota di AS Larang Polisinya Berlatih dengan Militer Israel

Internasional
Dilarang ke Pesta Ultah Teman, Gadis 14 Tahun Lompat dari Lantai 15

Dilarang ke Pesta Ultah Teman, Gadis 14 Tahun Lompat dari Lantai 15

Internasional
Ganjar Tepis Anggapan soal Keterlambatan Pengadaan E-KTP di Jateng

Ganjar Tepis Anggapan soal Keterlambatan Pengadaan E-KTP di Jateng

Regional