Cara Berpikir Dominan Otak Kanan-Kiri Hoaks? - Kompas.com

Cara Berpikir Dominan Otak Kanan-Kiri Hoaks?

Kompas.com - 05/03/2018, 08:24 WIB
Ilustrasi otakPIXABAY.com Ilustrasi otak

Demikian yang dikatakan Stephen M. Kosslyn, Ph.D, profesor psikologi dari Harvard University.

Kita mungkin sudah sering mendengar, ada seseorang mengatakan “Wah saya punya kecenderungan otak kanan nih” yang artinya dia orang yang kreatif, imajinatif. Atau orang lain yang cenderung punya cara berpikir verbal, logis, sistematis dianggap punya kecenderungan berpikir dengan otak kiri. Ketika ditanya darimana istilah itu berasal.

Biasanya karena sudah banyak yang bilang dan banyak pula artikel yang sudah memaparkannya. Bahkan saya ketika masih mahasiswa sarjana di fakultas psikologi percaya saja tanpa mendalami lebih jauh penelitian yang mendasari pengetahuan tersebut.

Kosslyn mengatakan dikotomi atau pemisahan belahan otak (hemisphere) yang dominan antara kiri (logis, analitis, sistematis) dan kanan (kreatif, intuitif, emosional) merupakan misinterpretasi dari sebuah penelitian neurosains.

Misinterpretasi ini nyemplung dalam budaya populer karena kecenderungan manusia yang memang menyukai kategorisasi. Kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang yang cari untung melalui tes dan semacamnya.

Saya kemudian penasaran dan mengecek ke google. Hasil pencarian “otak kiri-otak kanan” yang muncul dari atas sampai bawah situs-situs mengenai tes otak kiri-kanan tanpa ada pemaparan ilmiah yang memuaskan saya.

Saya coba kata kunci lain “right – left brain thinker” yang muncul artikel-artikel yang memperjelas bahwa konsep ini ternyata juga sama saja. Saya tidak langsung percaya, saya coba masuk di www.apa.org. Situs resmi American Psychologycal Association. Tidak ada hasil. Yang muncul malah artikel “No such thing as ‘right-brained’ or ‘left-brained,’ new research finds.”

Saya cari di indeks pencarian jurnal yang lebih umum tapi terpercaya www.sparrho.com. Sama saja tanpa hasil. Jangan-jangan memang benar ya? Kita selama ini mempercayai hoax?

Berawal dari seri penelitian dari tahun 1960-an yang dilakukan oleh seorang neuroscientist bernama Roger Sperry, neurolog dari California Institute of Technology dan mahasiswanya Michael Gazzaniga.

Sperry dan Gazzaniga meneliti seorang pasien epilepsi yang terus menerus kejang, dokter yang angkat tangan dan menyerahkannya kepada kedua neurolog ini. Sperry lalu memotong corpus callosum, yang merupakan jaringan saraf terbesar yang menjembatani otak belahan kanan dan kiri.

Yang terjadi kemudian sang pasien berhenti mengalami kejang-kejang. Sperry kemudian menyimpulkan bahwa otak tidak hanya punya fungsi kognitif, tapi juga punya fungsi kontrol motorik. Berdasarkan temuan ini, Sperry dan Gazzaniga ingin meneliti lebih jauh mengenai perbedaan dan fungsi otak kiri dan otak kanan.

Pada penelitian lanjutan pada beberapa pasien yang memiliki gangguan neurologi, disimpulkan bahwa ada bagian dalam otak belahan kiri yang berfungsi sebagai “The Interpreter”, penerjemah.

Menerjemahkan aktivitas yang berlangsung di otak belahan kanan. Kesimpulan yang lain, peneliti menyatakan bahwa kedua belahan otak punya peran masing-masing dalam fungsi kognitif.

Dalam satu waktu, bisa jadi belahan otak yang satu lebih banyak terlihat aktivitas dibandingkan belahan otak yang lain. Tapi tidak ada bukti yang mengatakan bahwa proses ini berdiri sendiri. Bisa jadi aktivitas berjalan dari belahan otak kanan ke kiri. Maupun sebaliknya.

Tidak ada pula bukti bahwa tiap individu memiliki kecenderungan dominan otak kiri atau kanan. Tiap individu bisa saja satu waktu dominan kanan, waktu yang lain dominan kiri dalam aktivitas kognitifnya dan tidak ada bukti meyakinkan yang menyatakan bahwa aktivitas kognitif itu “kreativitas”, “imajinasi”, atau “logika matematika”.

Hasil penelitian ini kemudian terkenal karena terbit dalam artikel majalah New York Times pada 1973 dan Harvard Business Review di tahun 1976. Apalagi ketika Sperry mendapatkan Nobel Kedokteran pada 1981 untuk penelitiannya ini, sejak itu istilah dominan otak kiri dan otak kanan menjadi sangat populer.

Sedangkan, penelitian terakhir mengenai split-brain yang dirilis laman American Psychologycal Association pada bulan November 2013 menunjukkan kecenderungan dominan otak kiri-otak kanan ini hanya merupakan mitos.

Kelompok ilmuwan neurologi dibawah pimpinan Jeffrey S. Anderson, profesor neurologi dari University of Utah melakukan penelitian longitudinal selama dua tahun menganalisa aktivitas otak dari 1,011 orang subyek berusia 7 hingga 29 tahun, mengukur proses bekerja otak kiri dan otak kanan dan kaitannya dengan proses visuospasial dan proses pemahaman bahasa melalui analisa hasil MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Anderson dan timnya menyimpulkan “Memang benar bahwa ada perbedaan fungsi otak kanan dan otak kiri. Pemahaman bahasa diproses pada otak kiri, dan perhatian (attention) diproses pada otak kanan, tapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa seseorang dominan pada satu hemisphere saja.”

Kedua bagian otak ini selalu bekerja bersama dalam satu kesatuan , sebagai contoh ketika kita melihat sebuah rumah. Otak kiri bertugas mengenali bentuk pintu, bentuk jendela, dan lain-lain, sementara otak kanan akan merangkainya menjadi satu kesatuan “rumah”.

Pada saat yang sama, otak kiri akan memberikan informasi posisi “jendela ada di sebelah kiri pintu” dan otak kanan akan memberikan informasi spasial “jarak jendela kanan lebih jauh dari pintu, dibandingkan dengan jendela kiri.” Proses ini berlaku untuk semua stimulus dan informasi yang masuk ke otak.

Misinterpretasi ini jelas-jelas punya efek negatif. Karena seseorang bisa percaya dirinya tidak kreatif karena divonis dominan otak kanan atau tidak sistematis karena divonis dominan otak kiri. Padahal faktanya tidak demikian.

Memang mungkin satu orang lebih kreatif dari yang lain, atau satu orang lebih sistematis dari yang lain. Tapi semua itu tidak ada hubungannya dengan dominasi otak kiri ataupun otak kanan.

Sumber :

http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0071275



Close Ads X