Menjadikan Sekolah Rumah Kedua Siswa dan Orang Tua - Kompas.com

Menjadikan Sekolah Rumah Kedua Siswa dan Orang Tua

Kompas.com - 09/06/2018, 11:24 WIB
Siswa Taman Kanak-kanak dan PAUD se-Kabupaten Magelang mengikuti lomba Gerak 123 Frisian Flag di GOR Gemilang, Magelang, Senin (30/4/2018). Lomba yang diikuti 2500 anak di 21 Kecamatan ini untuk mendukung tumbuh kembang anak sejak usia dini.KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Siswa Taman Kanak-kanak dan PAUD se-Kabupaten Magelang mengikuti lomba Gerak 123 Frisian Flag di GOR Gemilang, Magelang, Senin (30/4/2018). Lomba yang diikuti 2500 anak di 21 Kecamatan ini untuk mendukung tumbuh kembang anak sejak usia dini.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah harus bekerja sama dengan orang tua murid untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi anak didik dari tingkatan usia dini. Hal itu dikatakan oleh Wong Benny, pendiri Gracious Preschool, saat menerima penghargaan Best Franchise Award, Kamis (7/6/2018).

"Kami percaya bahwa semua anak, tanpa memandang latar belakang, berhak mendapatkan pengalaman anak usia dini yang positif melalui perawatan dan pendidikan berkualitas, yang memelihara pengembangan holistik dan membangun fondasi kuat dengan menanamkan  kecintaan untuk belajar," kata Wong.

Wong menuturkan, sejak 7 tahun lalu berdiri Jembatan Lima, Jakarta Pusat, Gracious Preschool mengadopsi sistem pendidikan Singapura, yaitu Nurturing Early Learners Framework yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan (Ministry of Education) Singapura. Tujuan utama mengadopsi sistem tersebut, menurut dia, untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas bukan cuma untuk siswa–siswi, tapi juga bagi orang tua siswa.

"Ada tiga prinsip utama dalam mendidik anak-anak, yaitu kecerdasan kretif, kecerdasan tubuh, dan social. Makanya, semua program kokurikuler yang kami terapkan bisa menambal kekosongan pemantauan orangtua dan menghindarkan siswa dari kegiatan kontraproduktif," kata Wong.

Namun, agar anak didik nyaman dan tidak mudah bosan berada di lingkungan sekolah, pihak Gracious juga menyajikan program kegiatan di luar kelas yang menyenangkan dan tetap berlandaskan asas-asas pendidikan bagi siswanya. Selain itu, lanjut Wong, guru juga harus banyak memberikan contoh perilaku, bukan sekadar memegang prinsip transfer knowledge melalui penjabaran materi di dalam kelas.

"Membangun semangat siswa dan orang tua murid itu tak bisa muncul cuma dari materi di kelas, harus kita terapkan contoh-contoh nyata," ujarnya.


EditorLatief
Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X