Begini Cara Menjaga Laut Kita ala Mahasiswa Prasmul

Kompas.com - 24/07/2018, 17:12 WIB
Projek Traveler of The Sea Mahasiswa Prasmul (21/7/2018)Dok. Universitas Prasetiya Mulya Projek Traveler of The Sea Mahasiswa Prasmul (21/7/2018)

KOMPAS.com -  Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) menggelar acara " Traveler of The Sea", drama musikal interaktif diadakan Sabtu, 21 Juli 2018, di Kemang, Jakarta.

Acara ini merupakan kolaborasi projek kolaborasi S1 Branding Universitas Prasmul dan Jakarta Aquarium dan mengangkat tema besar "Lautku Bersih". Projek ini sekaligus menjadi tugas  mata kuliah semester 6 Brand Activation. 

1. Memberi hiburan edukatif

“Kami ingin memberikan hiburan dan edukasi kepada anak-anak dengan cara yang menarik dan interaktif sehingga mereka dapat memahami pentingnya mengurangi penggunaan plastik dan menggunakan alternatif lain yang lebih ramah lingkungan,” ujar Josephine Gratia, ketua panitia Traveler of The Sea.

Pemilihan konsep ini didasarkan pada keprihatinan mahasiswa Prasmul akan keberadaan sampah plastik yang mencemari laut Indonesia dan ekosistem di dalamnya.

Baca juga: Menristek: Mahasiswa Harus Kuasai Literasi Baru, Apa Saja?

Acara yang digelar Pk. 10.00 - Pk. 18.00 WIB itu mengangkat cerita di mana anak-anak peserta diajak menjadi pahlawan dalam membantu Raja Terumbu Karang melawan Tentara Plastik untuk melindungi Kerajaan Laut.

Ganara Art Gallery disulap sedemikian rupa oleh tim dekorasi menggunakan botol plastik dan bahan bekas lainnya supaya menyerupai lautan sungguhan.

2. Konsep interaktif

Projek Traveler of The Sea Mahasiswa Prasetiya Mulya (21/7/2018)Dok. Universitas Prasetiya Mulya Projek Traveler of The Sea Mahasiswa Prasetiya Mulya (21/7/2018)

Menariknya, mahasiswa Prasmul menampilkan konsep berbeda dengan pertunjukan teater umumnya. "Di sini anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tapi mereka juga menentukan jalan cerita dan berinteraksi langsung dengan para pemeran," jelas Josephine.

Interaksi dilakukan dengan pemeran bermacam-macam, mulai dari menyanyi, melompat, mencari suatu barang, hingga menutup mata bersama-sama.

Di sini, anak-anak diajak menjadi pahlawan menyelamatkan laut dan diharapan tumbuh kesadaran mereka untuk lebih mencintai laut Indonesia.

Di awal acara, anak-anak dan orangtua menyaksikan sebuah video berisi pesan dan ajakan melihat keadaan Kerajaan Laut dari Raja Terumbu Karang.

Lalu, anak-anak dan orangtua dijemput oleh tiga karakter Ubur-Ubur ke dalam Kerajaan Laut. Di sana, anak-anak diajak menuju ke tengah pentas, sementara orang tua menyaksikan di tempat khusus.

Di salah satu adegan, anak-anak dan pemeran bersama-sama mengumpulkan sampah plastik sebagai salah satu cara menyelamatkan Kerajaan Laut. S

Setelah berhasil, anak-anak mendapatkan stiker penghargaan dari para penghuni Kerajaan Laut.

3. Perhatian anak berkebutuhan khusus

Projek Traveler of The Sea Mahasiswa Prasetiya Mulya (21/7/2018)Dok. Universitas Prasetiya Mulya Projek Traveler of The Sea Mahasiswa Prasetiya Mulya (21/7/2018)

Dalam projek, mahasiswa Prasmul ini juga mengundang anak dengan kebutuhan khusus dari Sekolah Spectrum, Ciputat, Tangerang Selatan.

“Saya rasa hal ini sangat positif  bagi anak-anak karena metode edukasinya menyenangkan dan mudah dicerna oleh anak-anak. Metode seperti ini meninggalkan pengalaman dan kesan yang tak terlupakan bagi mereka,” ujar Sandra Talogo, co-founder Sekolah Spectrum.

 

Selain teater interaktif, acata ini juga dimeriahkan dengan face painting dan mini eco friendly bazaar.

Anak-anak dapat menikmati face painting gratis dari tim mahasiswa Branding Universitas Prasmul sebelum maupun setelah menonton Traveler of The Sea. Wajah anak-anak digambar dengan karakter dan nuansa lautan sesuai dengan tema Traveler of The Sea.

Kepada Kompas.com Nito, salah satu anggota menyampaikan harapannya. “Harapan kami orang tua dan anak-anak yang menghadiri acara kami akan lebih aware dan mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan kecil dalam keluarganya untuk menjaga lautan kita dari sampah plastik.”



Close Ads X