6 Tips Penting Membangun Bisnis Berbasis Teknologi

Kompas.com - 27/08/2018, 23:20 WIB
Ilustrasi generasi milenialThinkstockphotos Ilustrasi generasi milenial

KOMPAS.com - Tidak kurang dari 1.276 mahasiswa baru Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) hari ini (27/8/2018) mengikuti Kuliah Perdana (Inaugural Lecture) 2018 di Kampus Prasmul BSD, Tangerang Selatan.

Usai acara kuliah perdana, kepada Kompas.com, Rektor Universitas Prasmul Prof Djisman Simandjuntak dan pembicara kunci dalam Kuliah Perdana Ariya Hidayat Developer Senior asal Indonesia yang kini berkarir di Silicon Valley membagikan 6 tips bagaimana membangun bisnis berbasis teknologi menghadapi era industri 6.0:

1. Jadi 'trendsetter'

Ariya mengingatkan menjadi inovatif bukan berarti sekadar mengikuti perkembangan teknologi saja. "Banyak anak muda kurang berani dan hanya ikut arus yang sudah ada. Soal era industri 4.0 bukan hanya soal big data, AI atau robotic saja," jelas Ariya. 

Justru tantangan utama adalah berani menciptakan solusi-solusi dan berani mengeksekusi ide-ide. "Saat kita berhadapan dengan masalah kemacetan, kenapa solusi aplikasi Waze justru lahir dari negara lain dan kita hanya tinggal mengikuti, kenapa kita tidak berani mencoba untuk menjadi trendsetter?" tantang Ariya.

2. Efisiensi

Salah satu hal yang kurang dipersiapkan dunia pendidikan kita adalah melatih soft skill untuk menghadapi kehidupan nyata. Kemampuan untuk bekerjasama, berkolaborasi, mempresentasikan dan mengomunikasikan ide hampir tidak diajarkan secara formal kepada orang muda.

Baca juga: 3 Langkah Nyata Mewujudkan Bisnis Berbasis Teknologi

"Kita terbiasa mengajarkan bagaimana menjelaskan dalam beratus-ratus slide daripada bagaimana menjelaskan ide atau gagasan dalam 15 atau bahkan 5 menit," kata Ariya.

3. Berkelanjutan

Anak muda saat ini cenderung mudah menyerah. Saat idenya ditolak atau diejek, mereka tergoda untuk mengganti dengan hal lain atau hal baru lainnya. "Anak muda mudah untuk patah semangat sehingga apa yang dilakukan seringkali tidak tuntas," kata Ariya.

"Membangun bisnis berbasis teknologi bukanlah sebuah perlombaan lari sprint tetapi justru lari maraton yang membutuhkan stamina, kesabaran, ketekunan dan kegigihan jangka panjang," tambahnya.

4. Kolaborasi gagasan

Kiri - Kanan : Prof. Janson Naiborhu (Dekan School of Applied STEM), Ariya Hidayat (Developer Senior), Jusuf Wanandi (Wakil Ketua Pembina Yayasan Prasetiya Mulya), Prof. Dr. Djisman Simandjuntak (Rektor Universitas Prasetiya Mulya dan Prof. Agus W. Soehadi (Dekan School of Business and Economics Universitas Prasetiya Mulya) dalam acara Inaugural Lecture Universitas Prasetiya Mulya (27/8/2018)Dok. Prasmul Kiri - Kanan : Prof. Janson Naiborhu (Dekan School of Applied STEM), Ariya Hidayat (Developer Senior), Jusuf Wanandi (Wakil Ketua Pembina Yayasan Prasetiya Mulya), Prof. Dr. Djisman Simandjuntak (Rektor Universitas Prasetiya Mulya dan Prof. Agus W. Soehadi (Dekan School of Business and Economics Universitas Prasetiya Mulya) dalam acara Inaugural Lecture Universitas Prasetiya Mulya (27/8/2018)

Rektor Prasmul Prof Djisman menyampaikan memasuki era industri 4.0 antara bisnis dan teknologi harus melakukan kolaborasi. "Membawa sains dan teknologi atau STEM ke dalam bisnis dapat dilakukan dengan melakukan kolaborasi ide-ide. Saat ini bisnis tidak dapat berjalan tanpa teknologi dan sebaliknya teknologi tidak dapat berkelanjutan tanpa bisnis yang baik," tegas Djisman.

Inilah yang kini dilakukan banyak pihak, termasuk Universitas Prasmul, dengan membuka co-working space di mana dunia pendidikan yang memiliki keilmuan dapat berkolaborasi dengan dunia korporasi, tambahnya.

5. Memperluas spektrum

Djisman kemudian juga mengingatkan memasuki era industri 4.0 bukan berarti kita harus latah pada pengembangan bisnis berbasis teknologi tinggi saja. "Perlu diingat, di Indonesia bisnis yang berkembang memiliki spektrum luas, mulai dari bisnis teknologi 4.0 sampai industri 1.0," katanya.

Ada banyak industri rempah, budaya tari, hasil bumi seperti kopi yang juga perlu juga dikembangkan secara keilmuan dan juga bisnis. "Jangan lupa dengan akar budaya kita. Kita tetap mengejar bisnis berbasis teknologi tinggi untuk masa depan tetapi juga tidak lupa untuk mengilmukan bisnis-bisnis tradisional," ujar Djisman.

6. Kemampuan organisasi

Kembali Ariya mengingatkan, salah satu kegagapan orang muda kita adalah kurangnya kemampuan mengelola organisasi bisnis yang dirintis. "Saat mendapatkan modal besar, banyak dari kita kemudian gagap bagaimana melakukan organization scaling dan organization excellent," jelas Ariya. 

Mereka tidak tahu bagaimana mengatur engineer saat jumlahnya mencapai ratusan. Atau sangat lambatnya penanganan ketika mengalami masalah teknis adalah bukti masih banyak yang belum siap dalam membesarkan dan mengatur unit bisnis secara baik.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X