3 Langkah Nyata Mewujudkan Bisnis Berbasis Teknologi - Kompas.com

3 Langkah Nyata Mewujudkan Bisnis Berbasis Teknologi

Kompas.com - 27/08/2018, 19:50 WIB
Universitas Prasetiya Mulya melalui program School of Applied STEM menghadirkan acara Inaugural Lecture 2018 (27/8/2018)Dok. Prasmul Universitas Prasetiya Mulya melalui program School of Applied STEM menghadirkan acara Inaugural Lecture 2018 (27/8/2018)

KOMPAS.com - Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan dan mendorong hadirnya era baru, era industri 4.0.

Perkembangan ini tidak saja mengubah wajah industri kita, namun sekaligus turut mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, meliputi; digital economy, big data, robotic, hingga artificial intelligence (AI).

Persoalan ini mengemuka dalam Kuliah Perdana (Inaugural Lecture) 2018 Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul). Tidak kurang dari 1.276 mahasiswa baru Prasmul diajak untuk melakukan langkah nyata dalam menghadapi berbagai perkembangan tersebut. 

1. Peluang bisnis berbasis teknologi

Jusuf Wanandi Wakil Ketua Pembina Yayasan Prasmul menjelaskan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi turut membawa beragam peluang serta tantangan baru yang harus siap dihadapi.

“Pengusaha muda sangat berpeluang meraih kesempatan bisnis di era 4.0, terutama pada sektor-sektor berbasis teknologi digital. Pengusaha muda bertalenta, kreatif dan inovatif akan diuntungkan gelombang revolusi industri keempat ini,” jelas Jusuf.

Untuk itulah Prasmul mengedepankan kolaborasi sains, teknologi dan kewirausahaan mewujudkan era Indonesia 4.0, tambah Jusuf. 

Baca juga: Begini Cara Menjaga Laut Kita ala Mahasiswa Prasmul

Hal ini sejalan dengan pemerintah Indonesia yang melalui Kementerian Perindustrian telah menyusun inisiatif “Making Indonesia 4.0”.  Program ini bertujuan mengimplementasikan strategi dan "Peta Jalan Industri 4.0 di Indonesia".

Peta Jalan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, maupun lembaga riset dan pendidikan.

2. Melawan arus ciptakan ide baru 

Pengembangan sumber daya manusia berkualitas juga menjadi isu utama yang harus dipersiapkan menghadapi era baru ini.

Kepada Kompas.com Ariya Hidayat Developer Senior Indonesia yang kini berkarir di Silicon Valley menjelaskan, memiliki kemampuan dan keahlian saja tidak cukup untuk bersaing di tengah perubahan dan perkembangan teknologi. 

“Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dihadapi dengan keberanian terus melawan arus agar tercipta ide-ide baru. Tentu, diperlukan prinsip teguh dan konsistensi usaha dari semua pelaku industri untuk mendapat hasil maksimal,” jelas Ariya.

Prof Djisman Simandjuntak Rektor Universitas Prasmul menjelaskan bahwa Prasmul memahami pentingnya peran institusi pendidikan dalam mewujudkan Indonesia 4.0. 

"Oleh karena itulah dibentuk School of Applied STEM yang memberikan beragam pilihan bagi peserta didik untuk mengembangkan minat mereka dalam bidang teknologi dan bisnis," kata Djisman.

Program pembelajaran School of Applied STEM menggunakan discovery-based learning, yaitu memacu kreatifitas mahasiswa melakukan inovasi. Pembelajarannya fokus pada eksperimentasi dan pengembangan prototipe serta berbasis paradoks dalam berpikir desain sehingga mahasiswa dapat berperan sebagai engineers sekaligus sebagai designers, jelas Djisman.

3. Peran serta banyak pihak 

Komitmen Prasetiya Mulya terkait kolaborasi sains, teknologi dan kewirausahaan juga diperkuat kolaborasi School of Applied STEM dengan berbagai perusahaan, seperti DOKU, Adaro Power, Schneider, dan lainnya.

Saat ini School of Applied STEM memiliki 6 program studi S1: Business Mathematics, Computer Systems Engineering, Software Engineering, Renewable Energy Engineering, Food Business Technology dan Product Design Engineering.

Prof Djisman menambahkan, berbagai fasilitas pendukung telah dipersiapkan mendukung pengembangan mahasiswa, diantaranya yaitu Prasmul Laboratory Building dan Digital Learning Hub.

Gedung laboratorium tersebut nantinya akan memiliki 9 lantai terdiri dari kelas, co-working space serta laboratorium yang dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan mahasiswa. 

"Menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang kompeten mengaplikasikan bisnis berbasis teknologi tentu tidak bisa diserahkan pada Prasmul semata. Diharapkan hal ini akan mendorong lahirnya 'philantropy education' untuk bersama-sama meningkatkan kompetensi manusia Indonesia berdaya saing internasional," tutup Djisman.



Close Ads X