Empat Dosen Unibraw Sebut Susu Kambing Bisa Cegah Sejumlah Penyakit

Kompas.com - 03/09/2018, 14:01 WIB
Produk Jelly bernama Yogokase Jelly, isi 25 gram, hasil penelitian Susu Kambing dosen Universitas Brawijaya.Kartika Putri Kumalasari, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Produk Jelly bernama Yogokase Jelly, isi 25 gram, hasil penelitian Susu Kambing dosen Universitas Brawijaya.

 

MALANG, KOMPAS.com - Empat dosen Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang melakukan penelitian terhadap susu kambing yang kemudian diolah menjadi suplemen makanan jelly dan effervescent.

Penelitian ini dilakukan sejak 2016.

Keempat dosen itu adalah Masdiana Cendrakasih Padaga, Ar Rohman Taufiq Hidayat, Ajeng Erika Prihastuti Haskito, dan Kartika Putri Kumalasari.

Susu kambing yang digunakan berasal dari beberapa produsen susu kambing di antaranya Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu dan Valensia Goat Milk.

Dalam proses penelitian yang dilakukan, para dosen ini ingin membuktikan potensi susu kambing untuk mencegah beberapa penyakit seperti hiperkolesterol, diabetes, dan lain-lain.

Namun, yang menjadi tantangan dari susu kambing adalah aromanya yang sebagian besar banyak yang tak suka.

"Banyak orang kurang menerima aroma khas susu kambing. Oleh karena itu, kami mempunyai gagasan bagaimana membuat olahan susu kambing yang memiliki palatabilitas baik di konsumen, namun tetap memperoleh manfaat dari susu kambing," ujar Ajeng Erika saat dihubungi Kompas.com pada Senin (3/9/2018).

Palatabilitas merupakan tingkat kesukaan konsumsi konsumen.

Mereka berinisiatif untuk mengemas suplemen susu kambing menjadi serbuk effervescent dan jelly.

Kedua produk ini aman dikonsumsi untuk usia 2-3 tahun ke atas.

Selanjutnya, produk effervescent dikemas dengan berat 4.000 mg dan dikonsumsi 2 bungkus/hari. Untuk jelly, dikemas 25 gram dan dikonsumsi 1-3 bungkus/hari.

Adapun proses pengolahan susu kambing ini melalui beberapa tahapan.


Halaman:

Close Ads X